Kembali Pada Kearifan Jawa Melalui Puisi 

Tidak bisa dipungkiri bahwasanya, Wong Jawa anggone semu, sinamun samudana, sesadone ing adu manis. Artinya orang Jawa cendrung semu atau terselubung, menutup kata-katanya apik dan tersamar, masalah apapun dihadapi dengan muka manis. Makna yang lebih luas yang dimaksud adalah seperti halnya isbat yang sering didendangkan ki dalang, yaitu pergulatan mencari jati diri dibalik simbol atau pertamsilan. Karena dunia pasemon (nalar simbolis) orang Jawa adalah lelakon, untuk menemukan hakikat kedirian, dengan berpikir bijak dan olah batin (spiritual) yang cendrung bersifat simbolik, penuh sanepa, kiasan dan perlambangan

Praksis Kepemimimpinan Kuno untuk Manusia Modern 

Ibarat botol ketemu tutup, jika sidang pembaca sedang mencari jawaban atas pertanyaan, “Bagaimana cara memimpin bawahan agar tercipta satu tim yang kompak, loyal, dan produktif?” maka buku ini adalah jawabannya. “Prinsip Sang Gembala” berisi 7 pedoman kepemimpinan untuk mengelola individu-individu agar jadi lebih sinergis. Rumusannya sederhana, dalam ilmu managemen mutakhir 1 + 1 tidak selalu sama dengan 2, karena ternyata bisa menjadi 11 dan bahkan tak terhingga.

Memaksimalkan Proses Berpikir 

Setiap hari manusia memproses rata-rata 50.000-60.000 pikiran. Setiap informasi yang didengar, dirasakan, dilihat, dipikirkan, dialami akan terekam di otak. Misalnya, kita sedang mendengarkan seminar dari seorang pakar. Setiap kata yang disebutkan akan direkam di otak. Secara sadar mungkin hanya sebagian saja yang bisa kita ingat. Semakin lama semakin sedikit yang bisa kita ingat. Sementara itu, semua informasi itu masih tersimpan dengan baik dibawah otak bawah sadar.

Meraih Mimpi di Tengah Keterbatasan 

Tatkala masih kuliah di Kampus IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, penulis pernah mengontrak rumah di dekat rel kereta api Sapen. Agar lebih murah, mereka urunan (membayar) beramai-ramai. Total penghuninya ada genap 8 orang. Uniknya, hampir setiap lima belas menit lantai rumah tersebut berguncang dan menimbulkan gempa lokal.

Menanti Kemandirian Ekonomi Indonesia 

Membayangkan kemandirian ekonomi Indonesia, layaknya membayangkan masa depan pasar tradisional. Derap modernisasi, menghendaki keberadaan pasar tradisional untuk kian ditinggalkan, dilupakan, sampai suatu saat nanti layak untuk ‘dimusiumkan’. Terlihat laju perkembangan pasar modern jauh lebih pesat, dibandingkan pasar trasidional

WordPress Theme built by Shufflehound. Copyright 2019 - HMInews.com - Media Pergerakan Anak Muda. All rights reserved.