Sarasehan Keumatan dan kebangsaan Kongres Ke XXXII Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO dipastikan akan menjadi sejarah penyatuan HMI yang selama ini terbelah dua, ditengah peserta Kongres HMI MPO, Kedua Tokoh HMI tersebut adalah Prof. Dr. Hary Azhar Azis selaku Ketua Umum PB HMI Periode 1983-1986 dan Dr. Eggy Sudjana, SH. M.H Selaku Ketua Umum PB HMI MPO Pertama Periode 1986-1988 menyampaikan keinginan mereka agar HMI bersatu kembali, moment tersebut langsung disaksikan oleh Ketua Umum PB HMI MPO Zuhad Adji dan Pejabatan Ketua Umum PB HMI Arya Kharisma Hardy. Selain itu juga turut disaksikan Arief Rosyid Hasan (Ketum PB HMI Periode 2013-2015), Muzakkir Djabir (Ketum PB HMI MPO 2005-2007), Chozin Amirullah (Ketum PB HMI MPO 2009-2011), dan Kanda Awalil Rizky (Panitia Kongres HMI (MPO) pertama di Yogya), Puji Hartoyo Ketum PB HMI (MPO) Periode 2013-2015 dan Erwin Singajuru.

Pada kesempatan tersebut Eggy Sudjana menyampaikan bahwa sudah saatnya HMI bersatu, jika dizamannya bersama Hary Azhar Aziz HMI terbelah menjadi 2 (dua), yakni HMI MPO dan HMI DIPO, maka dizaman Zuhad adji dan Arya Kharisma Hardy saatnyalah HMI menjadi satu.

“Jika zaman kami HMI terpecah, maka dizaman kalian berdualah HMI kembali bersatu”, katanya, sontak tepuk tangan peserta kongrespun ikut menggema.

Hal senada juga disampaikan Hary Azhar Azis dihadapan ribuan kader HMI MPO didalam forum kongres, menurutnya secara identitas tidak ada lagi yang membedakan antar HMI MPO dan HMI sebab kedua-duanya berazaskan Islam, Jika bisa bersatu, mengapa harus dua. Ia pun menegaskan bahwa ditataran Senior HMI tidak ada lagi HMI MPO dan HMI DIPO, sehingga secara tidak langsung itu merupakan Isyarat keinginan HMI harus bersatu.

“Secara identitas tidak ada lagi yang membedakan antar HMI MPO dan HMI DIPO sebab kedua-duanya berazaskan Islam, Jika bisa bersatu, mengapa harus dua. Meski dulu sempat bersitegang, namun Saya dan Kang Eggy saat ini kembali mesra, terus masa kalian masih terpecah dua. Sudah saatnyalah HMI bersatu kembali”, Ucapnya.

Perlu diketahui Sejarah terbelahnya HMI disebabkan UU Nomor 3/1985 yang disahkan pada 19 Februari 1985 mengharuskan Pancasila menjadi asas tunggal dalam setiap organisasi. “Dalam rangka ini dan demi kelestarian dan pengamalan Pancasila, kekuatan-kekuatan sosial politik khususnya Partai Politik dan Golongan Karya harus benar-benar menjadi kekuatan sosial politik yang hanya berasaskan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Pancasila yang dimaksud dalam Undang-undang ini ialah yang rumusannya tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.” Demikian bunyi penjelasan UU Nomor 3/1985 yang menggantikan UU Nomor 3/1975 tersebut.

Pada saat itu HMI terbelah menjadi dua pasca diselenggarakannya Kongres ke-15 HMI di Medan pada tahun 1983. Pada tahun 1986, HMI yang menerima azas tunggal Pancasila dengan pertimbangan-pertimbangan memilih beralih azas dari Islam ke pancasila, selanjutnya HMI pihak ini disebut sebagai HMI DIPO, dikarenakan bersekretariat di Jalan Pangeran Diponegoro Jakarta Dengan Ketua Umum PB HMI Saat itu adalah Hary Azhar Azis. Sedangkan HMI yang tetap mempertahankan azas Islam kemudian dikenal dengan istilah HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) dengan ketua Umum PB HMI Aggy Sudjana.

Karena alasan untuk menyelamatkan HMI dari ancaman pembubaran oleh rezim Orde Baru, maka melalui Kongres Padang disepakatilah penerimaan asas tunggal Pancasila. Namun pada Kongres Jambi 1999, HMI (DIPO) kembali ke kepada asas Islam. Hingga saat ini upaya untuk menyatukan HMI kembali sedia kala terus dilakukan dan pertemuan ini akan menjadi pondasi awal bersatu kembali.

[DITERBITKAN ULANG DARI BERITAHMI.COM]
https://www.beritahmi.com/2020/03/02/pertemuan-2-tokoh-hmi-dipo-dan-mpo-akankah-bersatu/