HMINEWS.COM, Berawal dari keinginannya untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat yang madani dari semua elemen penggerak roda keberlangsungan sosial mulai dari sektor Petani, Mahasiswa, Swasta dan Pemerintah. Denni Dali Fauzi, salah seorang kader & Kepala Bidang Kewirausahaan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Cabang Jakarta Barat berinisiasi untuk melihat kondisi sosial masyarakat Petani Kopi di Indonesia, tepatnya pada bulan September 2018.

Pada tahun 2018 lalu, di usiannya yang masih terbilang remaja dan masih menjadi Mahasiswa semester 4 di Universitas Mercu Buana Jakarta, ia bersama temannya, Rohmad mengunjungi sebuah Desa petani kopi di daerah Jawa Tengah. Nama desanya adalah Desa Semaya, berlokasi di bawah lereng Gunung Selamet, Banyumas, Jawa Tengah.

Observasi ini mereka lakukan karena melihat potensi masyakat dan petani kopi yang sangat bagus, namun data yang diperoleh adalah bahwa kopi asal Banyumas hampir tidak dikenal oleh masyarakat luas dan tidak masuk dalam peta kopi Indonesia. Seperti kopi asal Temanggung ataupun Wonosobo. Padahal Banyumas awalnya merupakan penghasil komuditas kopi, jauh sebelum ada gula dan cengkeh.

Selama sepekan waktu mereka di sana bersama para petani kopi dan Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA) banyak hal yang telah diperoleh, mulai dari cara budidaya pertanian kopi dari hulu hingga ke hilir, keadaan sosial masyarakat, hingga persoalan besar yang terjadi di masyarakat petani kopi lokal di daerah itu seperti hama, support dari pemda, pasar kopi yang masih belum menentu bagi para petani di kampung.

“Di kota-kota besar saat ini permintaan industri terhadap komoditas kopi cukup tinggi, dapat dilihat sekarang sudah menjamur kedai/kafe kopi hampir di seluruh sudut kota di Indonesia. Tapi tingginya pertumbuhan bisnis kopi ini tidak serta merta langsung dirasakan oleh para petani di kampung atau desa, harga jual yang mereka terima masih dirasa sangat rendah sedangkan saat ini harga beli biji kopi di kota sangat kompetitif dan relative tinggi. Itu yang menjadi PR kita bersama untuk gotong-royong memeratakan perekonomian masyarakat, khusunya para petani di kampung/desa,” ujar Denni

Melihat kompleksnya runtutan rantai sosial ini, kembalinya mereka ke Jakarta membawa misi untuk dapat memberi kontribusi kepada para petani dengan membeli kopi lokal yang sesuai dengan harga pasaran tanpa lewat calo untuk dipasarkan di kafe dan kedai kopi di Jakarta.

Melihat potensinya yang cukup tinggi penjual biji kopi di kota, dan permintaan pasar kopi yang sangat besar, pada April 2019 (tahun lalu) kedua sahabat itu memulai debutnya untuk berbisnis kopi (coffee shop).

Kafe yang mereka dirikan bernama “KAMPUNG KOPI” merupakan implementasi dari gagasan-gagasan penyelesaian persoalan rantai distribusi pasar, sehingga dapat memotong celah tengkulak untuk bermain dan mencari keuntungan lebih dan meningkatkan harga beli kepada masyarakat petani kopi di kampung atau desa. Nama itu terilhami dari perjalanan mereka bersama para petani kopi dan AGRA di desa (kampung) petani. Kafe kampung kopi saat ini berada di Jl. Ciledug Raya No.73H, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Hingga saat ini perjalanan bisnis Kampung Kopi bertumbuh cukup cepat, tak ingin hanya berjalan di unit operasional kafe saja, mereka tengah menggandeng sebuah perusahaan untuk bekerja sama guna melakukan perubahan inovasi pola bisnis yang lebih besar, dengan mengukuhkan hak Merek Logo, Nama serta berbadan hukum legal usaha PT di pemerintahan Republik Indonesia dengan nama PT KAMPUNG KOPI INDORAYA.

PT KAMPUNG KOPI INDORAYA sendiri tidak terpisah dari “Kampung Kopi Kafe”, melainkan satu badan hukum untuk mengembangkan bisnis di skala Nasional. Saat ini PT KAMPUNG KOPI INDORAYA beralamat di GEDUNG ELVOTEL, Jl. Cemp. Putih Tengah I No.3, RT.10/RW.5, Cemp. Putih Tim., Kec. Cemp. Putih, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10510.[]