Sekretaris Jenderal Pengurus Besar HMI (MPO), Najamuddin Arfah menghadiri acara pelantikan sekaligus melantik pengurus HMI MPO Cabang Gorontalo periode 2019-2020 di aula kantor Wali Kota Gorontalo, Sabtu (3/8/2019) malam.

Dalam sambutannya, Najamuddin Arfah menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya pelantikan HMI Cabang Gorontalo. Ia mengingatkan jika pelantikan mesti menjadi tonggak awal bagi aktifitas dan gerakan HMI untuk periode saat ini di kota Gorontalo.

“Alhamdulillah, rasa syukur dan bangga hadir bisa bersilatarrahmi dan membersamai kegiatan pelantikan HMI Cabang Gorontalo periode 1440-1441 H / 2019-2020 M. Pelantikan bukanlah substansi utama dari jalannya organisasi, tapi menandai jika ada regenerasi sebagai pelanjut estafet perjuangan,” kata Najamuddin mengawali sambutannya.

Ia melanjutkan, jika setiap kader HMI, siapapun dan apapun background akademisnya, di era post truth, yang penuh ketidakpastian kecepatan akseleratif kader HMI untuk terus mengasah diri dan meningkatkan skill individu adalah keniscayaan.

Kader HMI jangan terjebak pada romantisme sejarah dan kesuksesan para pendahulunya. Menurutnya, tugas alumni hanya menjadi ‘jembatan’ bagi kader HMI untuk berkarier atau terjun di dunia praktis.

“Kita patut berbangga, pentolan-pentolan HMI MPO seperti Anies Baswedan, Hamdan Zoelva, Bambang Soesatyo dan lainnya kini mewarnai secara nasional. Tapi harus diingat, kapasitas dan kualitas diri seorang kader HMI-lah yang menentukan kesuksesannya kelak di masa mendatang,” ungkap mahasiswa pascasarjana Unhas Makassar ini.

Dirinya juga mengingatkan, paling penting bagi kader hmi, sebagai insan ulil albab yang dicita-citakan oleh khittah perjuangan, terus memperkuat identitas keislaman tanpa melupakan identitas keindonesiaan. Memperkuat komitmen ideologis dan epistimologis, mengupgrade kapasitas intelektual dan spiritual, karena hanya dengan intelektualismelah serta fondasi idealisme yang kuat gerakan mahasiswa menjadi punya value. Selain itu mahasiswa kekinian dituntut untuk punya kemampuan critical thinking, creativity, communication dan collaboration.
“Intelektual Kolektif, seperti tema pelantikan, tentu menjadi narasi yang tepat bagi kader HMI saat ini,” ungkapnya.

Gerakan kolektif berbasiskan intelektual pada prinsipnya menyelaraskan dan mensinergiskan pemikiran, sehingga melahirkan kemanunggalan berpikir yang menjadi landasan dalam gerakan kolektif intelektual.
Bourdieu dalam bukunya Intelektual Kolektif menjelaskan bahwa gerakan kolektif lahir dari sebuah kelompok intelektual yang masing-masing anggotanya mempunyai kompetensi dan kemampuan spesifik yang bermanfaat bagi masyarakat, baik melalui transfer pengetahuan maupun upaya advokasi atas ketidakadilan.

“Olehnya itu reformulasi dan revitalisasi model gerakan mahasiswa saat ini penting agar gerakan mahasiswa adaptif terhadap perubahan,”pungkasnya.