HMINEWS.COM, JAKARTA —Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) ikut menanggapi penangkapan yang dilakukan polisi terhadap dosen Program Studi Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Robertus Robet beberapa waktu lalu.

PB HMI pun meminta agar membebaskan yang bersangkutan dari segala tuduhan pidana. Bahkan PB HMI menilai, materi orasi yang disampaikan Robet pada acara Kamisan pada 28 Februari itu sejalan dengan pemikiran HMI.

“Jika kita perhatikan orasi Robertus Robet lebih utuh (melalui rekaman video yang tersebar luas di dunia maya) sesungguhnya lagu itu bukanlah isi utama materi orasi. Lagu itu hanyalah bagian dari penjelasan atas kekhawatiran dan ketidaksetujuan kembalinya militerisme melalui konsep dwifungsi TNI. Itu pesan utama yg disampaikan dalam orasi tersebut. Ini sejalan dengan pemikiran HMI yang menolak kehadiran militerisme dalam kehidupan sipil dan politik dalam negara kesatuan republik Indonesia,” terang Ketua PB HMI, Zuhad Aji, Ahad (10/3/2019).

Robet sebelumnya ditangkap oleh tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri. Dia saat ini berstatus tersangka kasus dugaan penghinaan terhadap penguasa atau badan umum yang ada di Indonesia.

Robet diduga melanggar pasal 45 ayat (2) jo pasal 28 ayat (2) UU ITE dan atau pasal 14 ayat (2) jo pasal 15 UU Nomor 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana dan atau pasal 207 KUHP.

Adapun lagu yang dinyanyikan Robet, menurut Zuhad Aji adalah lagu yang sangat populer untuk mengkritik ABRI zaman itu dan tidak relevan lagi digunakan saat ini mengingat proses reformasi di internal tubuh ABRI, sekarang TNI sudah berjalan dgn baik.

Zuhad melanjutkan, Robet tidak berniat menghina institusi TNI. Dalam refleksinya, ia menyebut Robet justru mengatakan mencintai TNI dalam artian mendorong TNI yang profesional.

“PB HMI menilai kasus ini tdk semata-mata kasus pidana penghinaan, melainkan menyangkut hak kebebasan berekspresi dan berpendapat,” katanya.

Abe