HMINEWS.COM

 Breaking News

Ibu, Superior or Inferior Predicate?

Ibu, Superior or Inferior Predicate?
December 25
20:17 2017

Ibu adalah eksistensi. Hal khususnya antara lain adalah perempuan, yakni penyederhanaan dari kata “yang diperempuankan” artinya yang secara alamiah mampu sehingga diberi hak untuk menguasai, melindungi, mengendalikan, memelihara sesuatu yang diterima. Hal khusus lain adalah wanita, berasal dari terminologi jawa “wani ditata”.

Eksistensi Ibu teramat penting sehingga sering digambarkan sebagai bumi, (dalam terminologi hindu : dewi pertiwi), sanggup menanggung beban yang dijatuhkan kepadanya. Bumi merupakan realitas yang diinjak dengan kesanggupan menjadi rendah agar langit (Laki-laki —entitas yang selalu berdiri) tetap tinggi menjulang. Bumi sanggup menanggung seluruh beban termasuk derita yang ditimpakan kepadanya demi menjaga semesta dari ketimpangan atau disharmoni kosmos sebagaimana Allah atur dalam keindahan.

Sebagaimana bumi, Ibu memberikan kehangatan, keindahan, keharmonisan, keseimbangan, juga keromantisan. Ibu sanggup mengorbankan seluruh perhiasannya untuk kehidupan. Ibu bahkan sanggup mengeluarkan seluruh isi tubuh dan jiwanya untuk keberlangsungan keseimbangan semesta.

Manifestasi Ibu adalah perempuan,dengan kekuatan berupa kelembutan, keindahan, kecantikan, kepekaan, kepasrahan. Sepanjang sejarah tidak banyak yang berhasil mengungkap rahasia perempuan. Sejarah yang istana sentris, atau populis sentris, menempatkan perempuan secara serampangan sebagai pelaku penderita. Walaupun demikian perempuan tetap melakukan tugas alamiahnya. Dalam pandangan feodalisme hindu, sosok yang merepresentasikan perempuan demikian adalah Ken Sagopi (versi wayang jawa) atau Yashoda (versi India), dalam ketidakberdayaannya sebagai perempuan biasa dan sinden Istana Mandura, telah menjalankan fungsi ibu mengasuh Krisna, Balarama, Udawa, dan adik-adiknya, menjadi raja dan ksatria tanpa tanding dan kreator perang besar Mahabharata.

Ibu adalah wanita. Wani ditata. Dalam kehidupan modern wanita mengalami amelioratif dengan pemaknaan baru wani nata. Wani di tata sebenarnya bukanlah perendahan diri. Tidak ada spirit penindasan. Wani ditata sebenarnya adalah kesadaran dan kesanggupan diri menempati tempat-tempat rendah agar fungsi keharmonisan semesta terjaga.

Kini Kehidupan modern telah merampas makna Ibu, Perempuan, dan wanita dengan kata digdaya “Emansipasi” sebagai simbol modernisme dan pemaknaan manusia secara materialism. Ibu menjadi berperan ganda, peran yang melampaui visi eksistensinya, karena tujuan keharmonisan semesta menjadi terganggu.

Selamat Hari Ibu.[]

Penulis: Arofiah Afifi, Ketua Kornas KOHATI

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.