HMINEWS.COM

 Breaking News

Modern Bukan Hak Monopoli Barat

Modern Bukan Hak Monopoli Barat
October 09
10:30 2017

Sejak lahirnya revolusi pemikiran di Prancis dan revolusi industri di Inggris, dunia dianggp memasuki zaman baru, zaman tersebut kini dikenal dengan zaman modern, sebab pemicunya lahir di dua negara yang berada di kawasan Eropa akhirnya istilah modern selalu dinisbatkan kepada barat, buntut dari asumsi ini adalah modern seolah menjadi hak milik barat, segala yang berkaitan komederenan selalu dikaitkan dengan barat. Dari sisi umat islam efek penetapan modern sebagai hak milik barat minimal memunculkan dua akibat, pertama sikap inferior dihadapan barat, kedua penolakan terhadap segala hal yang berasal dari barat, dua-duanya tak ada yang menguntungkan untuk kemajuan Islam.

Akibat pertama lahir sebagai reaksi perasaan keterbelakangan terhadap barat, sebagaimana dipahami modern identik dengan kemajuan, bila modern dimonopoli oleh komunitas tertentu, maka kemajuan seolah menjadi hak milik pribadi komunitas tersebut, malangnya kelompok manusia yang berada di luar komunitas tersebut seolah belum menjadi pemeran kemajuan, mereka selalu ditempatkan sebagai komunitas kelas dua yang berada di belakang pemeran utama kemajuan, mereka dituntut untuk mengikuti keinginan komunitas yang mengklaim diri sebagai pemeran utama kemajuan, dalam perjalanannya label ini secara sengaja terus dihidupkan, yang muncul kemudian adalah kondisi vis a vis antara yang dianggap modern dan tidak modern, pada posisi ini modernisme sesungguhnya gagal memenuhi tugas idealnya sebagai penyebar kemajuan, mengajak sebuah komunitas mengecap kemajuan secara bersama dengan cara menempatkannya di belakang merupakan jalan keliru menuju kemajuan.

Adapun akibat kedua tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang kolonialisme Eropa ke wilayah Islam, selama proses penjajahan tersebut terjadi perampasan sumber daya alam dan penghancuran tradisi islam, hal ini tentu memicu kebencian mendalam terhadap barat, akibatnya di kemudian hari walaupun mereka telah merdeka kebencian terhadap barat tetap terpelihara, dampaknya segala sesuatu yang datang dari jantung peradaban barat akan ditolak secara mentah-mentah.

Jika ingin jujur pada fakta sejarah, sebenarnya modern bukan merupakan hak monopoli barat, modern berikut segala perangkat yang menyertainya selalu hadir dalam setiap peradaban yang paling maju dalam setiap masa. Ukuran modern ada dua yakni kekinian dan kemajuan, kekinian dan kemajuan pernah hadir dalam berbagai peradaban dari masa yang berbeda, kekinian dan kemajuan pernah berkembang pesat dalam peradaban Yunani, Yunani menjadi corong kemoderenan di masa itu, ragam karya pemikiran dan corak kehidupan yang dianggap paling maju pada zamannya tumbuh subur dalam peradaban Yunani. Peradaban Islam juga pernah menjadi pusat kemoderenan, aktifitas keilmuan yang tumbuh subur dalam dunia islam merupakan model pemikiran paling terkini dan paling maju untuk ukuran zamannya, ragam penemuan mutakhir lahir dari peradaban ini, hal tersebut menjadi magnet bagi orang-orang di luar dunia islam untuk datang berguru, termasuk para pelajar dari dunia barat yang waktu itu ramai menimba ilmu di berbagai pusat pendidikan ternama dalam dunia islam. kendali kemoderenan juga pernah dipegang oleh peradaban timur, mereka sangat maju dalam berbagai aspek untuk ukuran di masa itu.

Fakta sejarah yang ada seharusnya menyadarkan umat manusia bahwa kemoderenan tidak akan bertahan selamanya dalam komunitas tertentu saja, alur kehidupan manusia membuktikan bahwa sejarah ukuran paling modern selalu berganti dari peradaban yang satu ke peradaban lainnya, kemoderenan akan menjadi hak milik siapa saja yang paling giat menjalankan aktifitas pemikiran dan penemuan teknologi, siklus modern akan terus berputar, mencari tempat yang paling nyaman dan menyediakan bekal hidupnya, yakni aktifitas pemikiran yang tumbuh subur dan penciptaan teknologi mutakhir yang berkelanjuutan.[]

Penulis: Zaenal Abidin Riam, Ketua Komisi Intelektual dan Peradaban PB HMI MPO

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.