Kesalahan yang paling fatal yang terus saja kita lakukan adalah meletakkan  kebahagian pada apa yang belum kita miliki, misalnya akan merasa bahagia jika memiliki mobil padahal tahun lalu baru saja diganti, seandainya dilakukan pertimbangan plus minusnya, pergantian mobil tidak mempengaruhi aktivitas atau meningkatkan produktivitas, malahan ini akan mengganggu cash flow keuangan keluarga. Dalam financial management selalu disebutkan bahwa setiap pengeluaran harus berdampak pada peningkatan produktivitas atau positive income, apabila negatif, maka akan mengalami kebangkrutan atau collapse.Kebahagiaan pada dasarnya bisa diperoleh dengan melakukan interaksi sosial di lingkungan sekitar, seperti menghadiri acara walimahan, makan bersama walaupun dengan menu yang sederhana, membantu orang lain dll.

Kebahagiaan memiliki mobil baru (happines-materialistic based) dengan kebahagiaan yang diperoleh dari interaksi sosial  (happiness-social interaction based) sebenarnya memiliki tingkat yang sama, tetapi durasi ketahanannya berbeda. Social interaction happines cenderung lebih durable dibanding materialistic happiness. Dalam financial behaviour terdapat teori tentang “Hedonic treadmill” yang menunjukkan bahwa sebenarnya kita tidak menambah kebahagian kita hanya dengan mengganti cara atau benda yang membuat bahagia.

Sangat berbahaya saat manusia mulai memahami bahwa kebahagian terbesar datang dari kepemilikan benda, wanita, anak, kekuasaan dan yang sejenis dengannya sehingga mengorbankan kebahagian yang berasal dari sifat menyayangi, berbagi, toleransi, tenggang rasa dan rasa keadilan terhadap sesama manusia. Implikasi dari tindakan ini adalah melebarnya kesenjangan sosial, kemiskinan, pengangguran, korupsi, malnutrisi, eksploitasi alam secara masif tanpa menghiraukan efek negatif (negative externality) yang ditimbulkan, seperti pembabatan hutan gambut yang berakibat pada hancurnya ekosistem,berkurangnya paru-paru (menipisnya ozon), pemberian izin berbasis perkebunan korporasi dimana masyarakat pribumi menjadi budak di negerinya sendiri, padahal pengembangan perkebunan berbasis kelompok masih bisa dilakukan.

Perilaku kita sebagai generasi materialistik, telah menimbulkan kegoncangan di meja para ilmuwan dimana Economic Theory of Enough menjadi salah satu jalan keluar bagi mereka yang terjebak didalam dunia materialistik. Mulailah untuk merasa enough (cukup) and be gratitude ( bersyukur ).

Penulis: Purqan Gus, Ketua Bidang Pengembangan Intelektual HMI MPO Cabang Bireuen