HMINEWS.COM

 Breaking News

Menggali Nilai-Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Menggali Nilai-Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
June 19
12:16 2017

“Ketika keadilan sudah dipermainkan, maka tunggulah kahancuran” Anak bangsa yang masih mempunyai akal sehat serta nalar kritis tinggi, tentu bisa menyelami dinamika kehidupan demokrasi kita dewasa ini yang mulai rapuh. Paling tidak kita awali dari Para “punggawa” sistem demokrasi kita nyaris gagal paham terhadap Idiologi NKRI yakni, Panca Sila. Sehingga dia rapuh, tidak punya imunitas terhadap riuh rendahnya kemelut bangsa dewasa ini.

Muncul kelompok-kelompok tertentu di antara kita yang saling  meng “claim” bahwa “kami yang paling benar”. Bahkan tak jarang ada yang mengaku pewaris pemikiran Bung Karno dengan berbagai simbol dan remeh-temehnya, padahal kebenarannya belum bisa kita anggap final.  Serta memonopoli Seakan-akan “sayalah yang paling pancasilais”. Pertanyaan sederhana yg menggelitik kita kemudian adalah, logika apa yg di gunakan ketika berbicara dalam sila yang berbunyi Kemanusiaan yg adil dan Beradab?

Pada bagian lain tindakan-tindakan yang tidak beradab acap kali kita temui, baik yang dilakukan para oknum penegak hukum maupun oknum-oknum bejat yang ada dalam lingkaran kekuasaan. Korupsi, penyelewengan kekuasaan secara sistematis, merupakan indikatornya.

Fakta berbicara ditenga-tengah kehidupan berbangsa kita, pendekatan keadilan baik itu keadilan hukum, ekonomi, sosial, pendidikan, budaya maupun politik  sangat jauh dari yang diharapkan.

Tolak ukur angka-angak statistik oleh pemerintah terhadap kemajuan pembangunan terutama sumber daya manusia Indonesia, apakah sudah sesuai dengan fakta di lapangan? Input dan outputnya bagaimana? Belum lagi ketika kita mengupas nilai-nilai dari Kemanusiaan itu sendiri. Dan harus kita akui bahwa konstitusi negara kita menjamin semua itu.

Niat baik untuk mengawali penyelesaian problematika umat yang mengarah kepada Terbentuknya tatanan masyarakat yang madani, tentu pendekatannya juga menggunakan pendekatan yang humanis nan bermartabat. Apalagi kita sudah mengamini sistem demokrasi pancasila yang berjalan di negara kita. Ada nilai-nilai musyawarah untuk mencapai suatu kemufakatan, tentu untuk kemaslahatan bersama. Faktor dialogis antar sesama anak bangsa sangat menentukan dalam hal ini. Bukan faktor pemaksaan atau penyeragaman dalam hal  nilai-nilai tertentu.

Tidak mungkin minyak kita sandingkan dengan api, mana mungkin matahari bertemu bulan. Laksana Pungguk merindukan Kejora. Indahnya keberagaman merupakan kekayaan, corak, dan ciri khas bangsa kita sejak ribuan tahun silam yang sulit kita cari padanannya di belahan bumi manapun.

Penulis: Riduansyah, Ketua Umum HMI Cabang Jakarta

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.