HMINEWS.COM

 Breaking News

Mahasiswa dan Cita-Cita Keadilan Sosial

Mahasiswa dan Cita-Cita Keadilan Sosial
June 22
06:44 2017

Perubahan sosial terus berlanjut, pembahasan akan perubahan menjadi suatu keharusan untuk proses perbaikan berkesinambungan. Perubahan dan perbaiakan adalah dua perangkat yang tidak bisa dilepaskan untuk mencapai tujuan bersama, baik dalam organisasi formal atau non formal.

Pertentangan Proletar dan Borjuis menjadi penanda bahwa aktivitas sosial selalu mengalami perubahan. Semangat perlawanan ini lahir dan tumbuh subur karena adanya ketimpangan sosial dan adanya kesenjangan ekonomi. Perubahan-perubahan tidak bisa dilepskan dari globalisasi, berkembangnya teknologi dan pesatnya informasi, positif-negatif menjadi keharusan dari perubahan tersebut.

Semangat kaum pemilik modal untuk mengeksploitasi tenaga buruh membimbing lahirnya paham-paham yang perlawanan, khususnya bila dilihat dari karya Marx dalam manifesto komunis. Musa dalam melihat kediktatoran firaun melahirkan pemberontakan religius dengan pergerakan ketuhidan dan pembebsan monarki-otoriter yang sewenang-wenang. Muhammad melahirkan pemberantasan dehumanisasi dengan jalan pembebasan budak serta penegakan ketauhidan pada rezim jahiliyah.

Pertentangan dan perlawanan berbagai macam bentuknya, namun yang perlu dipahami bahwa dengan hal tersebut cita-cita perbaikan berkesinambnungan tetap berlanjut, untuk konteks Indonesia, klimaksnya adalah Hal yang menarik dari bangsa Indonesia yakni perlawanan dan pertentangan dimotori oleh kaum muda yang progresif dan revolusioner.

Presiden terbaru yang dilahirkan dari Pilpres 2014 dengan membawa slogan blusukan dan pro-rakyat, dengan konsep kepemimpinan sederhana yang ditawarkan serta visi pembanguan dengan nawacita-nya. Akan tetapi pada faktanya, janji populis sang presiden mulai dilanggar olehnya sendiri,  salah satunya adalah kenaikan tarif dasar listrik, praktis kebijakan ini mendatangkan masalah buat masyarakat khususnya kelas menengah ke bawah, pendapatan masyarakat belum sepenunnya tercukupi bahkan di beberapa daerah sangat terbebani. Kebijakan ini sepertinya juga tidak mendapat sorotan yang tajam dari mahasiswa.

Ada yang berbeda dalam pergerakan mahasiswa pasca reformasi, dimana organisasi mahasiswa yang berkembang dan bercabang dewasa ini, tidak sebanding dengan tingkat manfaatnya. Perguruan tinggi sebagai kawah Candradimuka mengalami penurunan kualitas sumber daya mahasiswanya. Rezim Jokowi harus terus dikontrol, mahasiswa yang menempa proses di perguruan tinggi harus kembali pada orientasi keilmuan, sehingga tercipta sumber daya manusai yang memilki kualifikasi, kompetensi, dan nalar kritis. Dengan begitu realisasi Tri-Dharma perguruan tinggi diharapkan optimal, bentuk sinergitas masyarakat ilmiah dengan relitas sosial perlu dibangun dengan baik, Untuk itu diperlukan budaya kritis untuk melahirkan solusi khsusnya dalam mencapai keadilan sosial.

Penulis: Baqi Maulana Rizqi

About Author

redaksi

redaksi

kirim tulisan anda ke: redaksi@hminews.com

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.