Transportasi merupakan kebutuhan utama bagi seluruh warga negara. Dengan adanya transportasi, seluruh kegiatan sosial-ekonomi dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu sudah barang tentu dalam hal ini, transportasi harus diperhatikan dengan serius terutama transportasi publik. Namun, belum maksimalnya perhatian pemerintah akan pelayanan transportasi publik justru membuat kepercayaan kepada publik menurun. Padahal transportasi publik merupakan jawaban atas problematika kemacetan yang terjadi di kota-kota besar Indonesia.

Salah satu jenis transportasi publik yang popular yakni kereta api, dengan tingkat efektifitas dan efisiensi yang cukup tinggi, karena mamp mengangkut banyak sekali penumpang sekali jalan. Tren positif sudah mulai terlihat beberapa tahun terakhir akan kepercayaan masyarakat transportasi publik berjenis kereta api ini. Data yang di peroleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa dengan perjalanan Jawa dan Jabodetabek pada tahun 2015 jumlah penumpang kereta api berjumlah 320.612 orang dan pada tahun sebelumnya 2014 jumlah penumpang kereta api sebanyak 272.604 jiwa.

Pelayanan Transportasi Publik Buruk

Melihat data yang dikeluarkan oleh BPS maka terjadi peningkatan yang cukup sginifikan atas tingkat kepercayaan masyarakat akan transportasi publik berjenis kereta api ini. Namun di sisi lain peningkatan jumlah penumpang masih sering terjadi keterlambatan kedatangan dan keberangkatan kereta api. Terlebih pada bulan ramadhan yang identik dengan tradisi pulang kampung. Bukan menjadi hal aneh bila memang keterlambatan kereta sering sekali terjadi, banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, salah satunya kurangnya jalur kereta api yang tersedia. Jalur kereta api yang umumnya hanya satu saja membuat perjalanan sering sekali terhambat. Karena jalur harus digunakan secara bergantian dengan volume perjalanan yang kian meningkat khususnya di bulan ramadhan. Memang dalam hal peremajaan pemerintah sudah sejak lama bekerja sama dengan perusahaan General Electric asal Amerika dalam penyediaan lokomotif dan penyediaan gerbong oleh perusahaan nasional INKA.

Namun hal ini tidak diimbangi dengan menambah jumlah jalur perjalanan, padahal jalur perjalanan merupakan hal yang utama yang juga harus diperhatikan. Oleh karena itu keterlambatan bukanlah hal yang luar biasa di Indonesia, melainkan hal biasa yang acap kali terjadi. Kerugian waktu sampai kerugian finansial sering dialami oleh penumpang kereta api. Konsekuensi logis-nya adalah menambah jumlah jalur yang tersedia.

Bilamana jalur baru sudah dibangun, beberapa hal harus dijamin sehingga negara tidak mengalami kerugian akan kebijakan yang diambil. Karena dalam pembangunan jalur baru membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sebagaimana data jumlah kendaraan pribadi yang diunggah oleh Badan Pusat Statistik (BPS) volume kendaraan yang sudah sangat luar biasa terjadi di Indonesia.

Pembatasan Kendaraan Pribadi

Data terakhir pada tahun 2012 kendaraan berpenumpang berjumlah 10.432.259 dan kendaraan bermotor berjumlah 76.381.183 yang tersebar diseluruh Indonesia jumlah yang terus bertambah dari tahun ke tahunnya. Hal ini sangat kontradiktif dengan kebutuhan akan jalur baru kereta api di pulau Jawa khususnya. Penambahan jumlah kendaraan pibadi dapat menjadi ancaman yang sangat serius.

Berkaca pada tahun tahun sebelumnya, pemerintah daerah ataupun pemerintah pusat sudah membuat kebijakan terkait jumlah kendaraan pribadi yang ada di Indonesia seperti pembatasan kendaraan di bawah tahun 2000. Akan tetapi kebijakan ini bagaikan angin lalu. Ketegasan akan pembatasan kendaraan pribadi sudah seharusnya dilakukan, walaupun implikasi negatif secara ekonomi akan terjadi contohnya dalam bidang perdagangan otomotif Indonesia-Jepang. Akan tetapi kebijakan ini harus dilakukan bilamana transportasi publik menjadi perhatian pemerintah. Kerja sama penyediaan angkutan publik bisa menjadi salah satu alternatif pilihan bila ingin meredam potensi ketegangan yang akan terjadi.

Sehingga pembatasan kendaraan pribadi merupakan salah satu langkah dalam memperbaiki transportasi publik, ketika ini sudah diperbaiki secara pelayanan dan infrastrukturnya bukan tidak mungkin penurunan jumlah kendaraan pribadi dan peningkatan jumlah masyarakat yang menggunakan transportasi publik akan terjadi khususnya pada kereta api. Karena tingkat kenaikan kendaraan pribadi setiap tahunnya bukan tanpa alasan, walaupun dilain sisi penyadaran masyarakat akan pengunaan transportasi publik harus terus dilakukan dan ditingkatkan namun yang terpenting adalah kualitas pelayanan terhadap masyarakat yang harus diutamakan dan ditingkatkan.

Maftuhi Firdaus
Staff Bidang Kajian Strateg