HMINEWS.Com – Ditabraknya kapal Kway Fey oleh kapal patroli China, padahal kapal tersebut telah ditangkap patroli TNI AL dan Kementrian Kelautan dan Perikanan, ditengarai sebagai pembelaan terhadap nelayannya yang mencuri ikan di perairan Kepulauan Natuna milik Indonesia. Dengan demikian menjadi jelas bahwa pencurian ikan tidak hanya dilakukan oleh nelayan dan pengusaha biasa, tetapi dibekingi oleh kekuatan negara lain.

Demikian disampaikan Ketua Komisi Pembangunan Desa dan Daerah Perbatasan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI –MPO), Muhammad Rauda Manarfa di Jakarta, Selasa (29/3/2016).

“Ini menjadi bukti betapa kejahatan pencurian ikan yang selama bertahun-tahun berlangsung dilakukan di wilayah perairan Indonesia bukan hanya melibatkan oknum pengusaha perikanan tetapi telah menyeret aktor negara,” ujar dia.

Selain itu, menurutnya kejadian pada 19 Maret 2016 tersebut adalah pertanda bahwa China mengklaim wilayah Natuna. Sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia, lanjutnya, China diprediksi akan ngotot dengan klaim sepihaknya itu. Karena diketahui bahwa kandungan minyak, gas dan ikan di perairan tersebut sangat melimpah.

Muhammad Rauda mendesak agar pemerintah RI tak ragu menyelesaikan masalah tersebut agar tidak berlarut dan membesar. Maka langkah yang harus ditempuh adalah menggunakan diplomasi serta menempatkan kekuatan militer untuk menjaga setiap jengkal wilayah RI, terutama di perbatasan yang rawan dicaplok asing.