HMINEWS.Com – Pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI MPO) Cabang Yogyakarta merasa keberatan dengan publikasi nama-nama bakal calon ketua umum PB HMI pada kongres ke-30 yang akan digelar di Tangerang. Ketua dan Sekum HMI Cabang Yogya menyatakan pihaknya hingga saat ini belum bersepakat, figur mana yang akan mereka usung nantinya.

“Beberapa kader Yogya agak keberatan dengan muatan berita soal kandidat. Pembaca menafsirkan berbeda-beda dan tentu akan mempengaruhi sikap cabang-cabang, padahal Yogya sampai sekarang tidak mengusung siapa-siapa, tapi cabang selain Yogya malah menafsirkan kalau Yogya mengusung kandidat dan Yogya dianggap tidak tahu diri,” kata Sekum HMI MPO Cabang Yogya, Muhibbuddin A Muqorrobin kepada hminews, Selasa (10/11/2015) malam.

Muhib menambahkan, pengusulan nama hanya terjadi di Kongres (seperti biasanya).

Kemudian, Rabu (11/11/2015) pagi, Ketua Umum HMI MPO Yogya, Makruf Riyanto, juga melalui pesan yang disampaikan Sekumnya, menegaskan kembali keberatan tersebut.

“Sebab berita itu cukup mengganggu mengingat Cabang belum mengeluarkan pendapat resmi, smentara nama-nama sudah beredar. Pasalnya muatan tersebut dapat menimbulkan penafsiran yang tidak diinginkan,” tulisnya.

Sebagaimana diketahui, hminews telah merilis 16 nama bakal calon yang beredar, yang tiga di antaranya merupakan kader Yogya, yaitu Ahmad Sahide, Bambang Suherly, serta Zuhad Aji Firmantoro.

Penjelasan Redaksi Hminews

Redaksi Hminews mengakui dan membenarkan fakta bahwa pengusulan calon-calon ketua dilakukan sewaktu kongres berlangsung, dan selama ini yang terjadi Cabang-cabang HMI MPO belum pernah ada yang mendeklarasikan calon yang mereka usung menjelang kongres. Redaksi menegaskan, nama-nama telah dipublish itu memang bukan usulan resmi cabang-cabang.

Pada kenyaataannya berdasar pengalaman berkongres sejak tahun 2007 di Depok, Kongres 2009 di Jogja, Kongres 2011 di Pekanbaru dan Kongres 2013 di Bogor, sebenarnya nama-nama calon itu sudah lama beredar di kalangan tertentu; di sejumlah alumni penyokong, dan tim pengusung atau tim sukses yang juga telah bergerak melakukan lobby-lobby ke personel-personel yang dinilai berpengaruh terhadap masing-masing cabang.

Namun begitu, karena tidak setiap Cabang memiliki kandidat yang akan diusung, dan nama-nama baru beredar secara terbuka pada saat kongres berlangsung, maka peserta kongres kurang memiliki waktu yang panjang untuk menimbang dan menilai serta menelusuri track record calon-calon yang bermunculan pada hari-H.

Sebagian peserta kongres kebingungan menentukan pilihan, dan hal ini yang dimanfaatkan tim-tim lobby. Peserta yang belum mempunyai pilihan itu juga tak jarang bertanya kepada senior masing-masing yang sebenarnya kepada mereka telah disampaikan visi kandidat yang diusung itu, oleh tim pendukungnya. Maka dari itu redaksi menganalisis nama-nama yang telah beredar itu dan mempublikasikannya. Itu saja sebenarnya masih ada yang mempertanyakan mengapa tidak ada nama dari cabang atau wilayah mereka, padahal dilihatnya potensial.

Demikian penjelasan redaksi