HMINEWS.Com – Yayasan “Rumah Peneleh” yang bergerak di bidang pemikiran Islam di Indonesia, khususnya pemikiran H.O.S Tjokroaminoto, mengadakan Sarasehan 110 tahun Syarikat Dagang Islam (1905-2015). Bertema “Kebangkitan Nasional Politik dan Bisnis Saudagar Muslim Indonesia.”

Sarasehan ini digelar di Pelataran Tugu Proklamasi, Cikini Jakarta Pusat, Jum’at (16/10/2015) malam. Dihadiri penyair budayawan Zawawi Imron dan sejarawan Anhar Gonggong, serta Ketua Rumah Peneleh, Aji Dedi Mulawarman.

Ketua penyelenggara, Azwar Muhammad, menyatakan bahwa acara ini sebagai upaya untuk membaca ulang sejarah kebangkitan nasional, yang dimulai dari pendirian SDI pada tahun 1905 di Solo, yang pada perjalanan berikutnya di bawah kepemimpinan Cokroaminoto menjadi Sarekat Islam (SI).

Sebagai sejarawan, Prof. Anhar Gonggong tidak menyalahkan inisiatif seperti ini, justru ia membenarkannya.

“Pemerintah tentukan itu (Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei), itu haknya dia. Tapi kita punya  hak juga kita mengatakan yang lain tanpa mengatakan itu salah. Jangan mengatakan bahwa 20 Mei itu salah, oleh karena itu anda memperingati itu,” ungkapnya.

Ia mengingatkan, tiap tanggal 20 Mei selalu ada protes mengapa yang dijadikan acuan adalah Budi Utomo yang lahir belakangan, yaitu pada 1908.

“Kalau itu yang dipersoalkan tidak akan pernah selesai, masing-masing punya kekuatan argumen. Oleh karena itu kita peringati saja ini sebagai bagian daripada bagaimana tokoh Tjokro membawa SI kemudian menjadi SII 1927 kemudian menjadi Partai. Dari Sarekat Dagang menjadi Sarekat Islam, menjadi Sarekat Islam Indonesia 1927 baru kemudian menjadi partai dan merupakan partai pertama yang menghendaki kemerdekaan,” paparnya.

Lebih penting daripada perdebatan itu, lanjutnya, adalah bagaimana mengambil pelajaran dari para pemimpin bangsa itu dan kiprah mereka.

“Mengapa ada orang seperti Tjokro, Hatta, Sukarno, Sahrir dan segala macam dalam masa pergerakan itu. Ada istilah dari presiden kita sekarang sewaktu kampanye, revolusi mental, kita merdeka dari revolusi mental itu. Tetapi para pemimpin memulainya dari diri sendiri dulu. Sukarno itu insinyur, Hatta anak orang kaya. Kalau dia mau bekerjasama dengan pemerintah kolonial belanda, akan dapat hidup enak. Kenapa tidak mau melakukannya, karena ia merevolusi mental dirinya sendiri dulu. Baru setelah itu ia melangkah menjadi pemimpin. Dan ia tahu risikonya; masuk penjara. Kalau tidak tahu risikonya ngapain maju ia. Sama dengan Cokro, Pak Jokowi melontarkan ide itu tapi tidak ada revolusi mental yang terjadi sekarang,” Prof. Anhar Gonggong melanjutkan.

Setelah merevolusi diri, baru menciptakan alat untuk merevolusi bangsanya. Jadi SI itu alat kegiatan untuk rakyat menyadari bersedialah berjuang meraih kemerdekaan. Landasan pikirnya seperti itu. Karena yang ‘menciptakan’ Indonesia adalah orang-orang yang berilmu, tidak sekedar berilmu, tapi sekaligus tercerahkan, karena itu mereka mampu melampaui dirinya.