HMINEWS.Com – Indonesia memasuki bahaya dengan makin melemahnya Rupiah terhadap Dollar. Tidak saja bagi perekonomiannya, tetapi juga membahayakan sendi-sendi lain termasuk pertahanan dan keamanannya. Demikian disampaikan mantan Anggota DPR RI 2009-2014 Ahmad Yani kepada hminews.com usai peluncuran buku Judilherry Justam ‘Anak Tentara Melawan Orba’ di Kebayoran Baru – Jakarta, Kamis (27/8/2015).

“Apalagi jika sampai Rp 15.000 per Dollar, gelombang PHK akan semakin besar. Sekarang saja PHK sudah terjadi di mana-mana. Tapi menghadapi situasi seperti ini  pemerintah justru tidak tahu harus melakukan apa,” paparnya.

Jika keadaan tersebut benar-benar terjadi, lanjutnya, dikhawatirkan akan terjadi chaos dimana-mana, karena tekanan yang terlalu besar akan membuat rakyat mudah tersulut. Apalagi, lanjutnya, pihak penguasa justru bersikap keras terhadap rakyat, seperti yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta, Ahok, yang dinilainya terlalu provokatif terhadap masyarakat miskin. Peraturan memang harus ditegakkan, tetapi harus dengan langkah yang bijak, tidak harus dengan kekerasan seperti yang ditunjukkan dalam penggusuran di Kampung Pulo.

Mantan pengurus PB HMI MPO itu menilai pemerintah saat ini sangat tidak kompak, tidak bisa menyatukan langkah bersama untuk mengatasi keadaan yang terjadi. Jangankan merangkul oposisi, menyatukan koalisinya saja tidak. Anggota kabinet saling serang dan perang pernyataan terbuka, tidak menunjukkan kinerja yang baik.

Sementara salah seorang Aktivis 98, Ubedillah Badrun, di tempat yang sama, membenarkan adanya ketidakselarasan kinerja pemerintah. Misalnya antara kemauan presiden, menteri keuangan dan Gubernur BI.

Ubed menyatakan, pemerintahan Jokowi-JK bukannya memperkuat basis ekonomi riil di dalam negeri dengan penguatan dan perlindungan terhadap rakyat, tetapi malah memilih mengundang masuknya hutang luar negeri. Jika hutang yang dipilih, kata dia, maka akan makin beratlah beban yang ditanggung rakyat, pengembaliannya pun akan semakin berlipat-lipat.

“Jokowi harus ditampar, biar dia berpikir keras, atau para pembisiknya biar bekerja dengan benar, mencari terobosan yang benar,” kata Ubed.