Membaca catatan Sidang BPUPKI, buku Yudi Latief ‘Negara Paripurna’ dan ‘Intelegensia dan Kuasa,’ dan beragam tulisan sejarah sekaligus biografi ataupun otobiografi para pendiri bangsa, kini ditambah film Soekarno (terlepas dari kontroversi pribadi sosok Sang Proklamator yang difilmkan), rasa-rasanya saya mulai menemukan makna, kata ini:

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Kemerdekaan ini bukan karena pemberian Jepang, bukan pula atas pemberian AS yg membantu kalahkan Jepang, bukan pula karena Soekarno dan Hatta, bukan pula karena kenekatan-kenekatan para pemuda seperti Soepriadi, tapi hanya karena berkat dan rahmat Allah serta dorongan dari keingin luhur setiap orang yang berjasa. Soekarno, Hatta, Syahrir dan semua orang sampai kampung-kampung yang punya keinginan luhur untuk kehidupan yang lebih baik,

Kata berikut yang juga menarik adalah, “Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.” Ingat ke depan pintu gerbang, geguyon Cak Nun, ya pancen durung mlebu lawange, baru di depan pintu.

Untuk sampai di depan pintunya saja tak cukup seorang pemikir dan agitator seperti Soekarno, tak cukup pula ilmuwan, pemikir macam Hatta, tak cukup pula pemikir dan politisi macam Syahrir, atau si nekat Supriadi di Blitar. Ketika mereka semua berkumpul dan bersatu dengan rakyat itu pun baru sampai pintu gerbangnya, nah, kita ini generasi yang dituntut untuk membuka gerbang dan masuk. Itu jalan panjang yang harus dimulai dari setiap kita untuk memilih peran dan memilih tanggung jawab, karena kita tak akan pernah dituntut siapapun untuk memperjuangkan dan bertanggung jawab atas bangsa ini, tapi setiap kita perlu menuntut diri sendiri sebagai rasa syukur kita atas nikmat kemerdekaan ini.

Hafidz Arfandi