Pembacaan Al Qur’an dengan Langgam Nusantara dalam Peringatan Isra’ Mi’raj di Istana Negara berujung kontroversi. Banyak berita terutamanya di ‘situs/ media online Islam’ yang menyerangnya.

Komentar pedas, misalnya menyebutkan banyak kesalahan dalam acara tersebut gara-gara Al Qur’annya dibaca dengan langgam lokal. Ada pula komentar anggota MUI pusat yang menyatakan tilawah dengan langgam seperti itu konyol.

Apakah hal itu memang salah? Mari kita urai.

Tilawah yang dibawakan oleh Muhammad Yaser Arafat, dosen UIN Sunan Kalijaga, dimaksudkan untuk melestarikan khazanah lokal.

  • Tidak ada pengucapan hurufnya yang salah. Tidak ada huruf-huruf krusial (yang sering salah karena ciri khas logat berbagai daerah) yang diucapkan dengan ‘lidah lokal’, seperti huruf fa (ف) diucapkan dengan ‘pa’, huruf ‘ain (ع) tidak dibaca ‘ngain’ sebagaimana orang Jawa yang ‘terlalu awam,’ huruf ta (ت) dan tha (ط) tetap diucapkan sebagaimana lidah Quraisy.
  • Kaidah tajwid tetap terpenuhi, huruf ikhfa‘, idgham, mâd tetap dibaca sebagaimana kaidah itu ditetapkan

Adapun yang tidak biasa, tepatnya bagi yang belum pernah mendengar langgam yang diwarisi secara turun temurun di pesantren Jawa tersebut, hanya lah pada cengkoknya.

Sedangkan adanya satu-dua kesalahan pembacaan, hal itu dimungkinkan karena pengucapan yang tidak pas, mungkin sang qari grogi, mengingat ia baru pertama tampil di Istana Negara di hadapan para pejabat penting negeri ini dan perwakilan negara lain.

Para pengkritik yang keterlaluan hendaknya memperhatikan: Jika Al Qur’an tidak boleh dibaca selain dengan langgam Arab, sakali lagi lamggam, maka apakah semua orang akan dilarang membaca Al Qur’an jika tidak menguasai satu dari tujuh Qira’ah Sab’ah? Jika demikian halnya maka dipastikan sebagian besar umat Islam akan terkena larangan tersebut.

Jika kita lihat umat Islam dari berbagai belahan dunia lain seperti Turki maupun Mesir yang relatif dekat ke Arab sekalipun, bukan hanya langgam yang berbeda yang mereka ucapkan, namun bahkan terdapat pengucapan-pengucapan huruf yang berbeda, atau mungkin salah.

Fathur

Berikut tautan tilawah yang dimaksud. https://www.youtube.com/watch?v=hYZX6L1k-I8