Film dan Sejarah

Sejarawan Yunani kuno, Homer, pada tahun 800 SM menulis puisi epik sejarah Perang Troya. Puisi yang ditulis dengan indah ini terdiri dari 15.639 baris sajak menceritakan perang bangsa Troya melawan Yunani yang terjadi pada abad ke-13 atau ke 12 SM. Karya Homer tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh A. Rachmatullah dengan judul The Iliad Of Homer diterbitkan tahun 2011 penerbit Oncor Semesta Ilmu.

Pada 14 Mei 2004 kisah Perang Troya diangkat ke layar lebar dibintangi artis ternama Hollywood, Brad Pitt sebagai Achilles, salah satu tokoh sentral dalam kisah Perang Troya. Film Perang Troya yang menghabiskan dana 180 Milyard Dolar Amerika dibuat tetap merujuk kepada kisah sejarah Perang Troya yang ditulis Homer dengan penulis skenario David Benioff dan sutradara Wolfgang Petersen. Film ini pun dinominasikan mendapatkan penghargaan bergengsi dunia perfilman Oscar. (Wikipedia film Troy.com).

Selain kisah sejarah Perang Troya yang diangkat dalam dunia perfilman terdapat juga kisah sejarah yang diangkat menjadi film misalnya kisah Ramayana dengan perang Barathayudha ditulis oleh Begawan Vyasa Dwaipayana pada 1500 SM. Juga film Kingdom of Heaven, sebuah film karya sutradara sekaligus produser Ridley Scot berkebangsaan Inggris dengan penulis skenario Wiliam Monahan. Film Kingdom of Heaven berlatar Perang Salib yang terjadi abad ke 11 hingga abad ke 13. Film ini mengisahkan pengepungan dan perebutan Kota Suci Yerusalem antara Islam dan Kristen. Ghassan Masoud yang memerankan tokoh sejarah Perang Salib Salahuddin al-Ayyubi atau Sultan Saladin digambarkan sebagai Sultan Islam yang cinta akan perdamaian dan kemanusiaan. Film pun mendapatkan simpati positif yang baik dari pecinta film berlatar sejarah. (www.jaringanIslamLiberalKingdomofheaven.com)

Baik Film Ramayana dan Kingdom of Heaven sebagaimana film Troya pun mengundang simpati publik yang sangat antusias. Apa yang membuat publik pecinta film begitu bersimpati terhadap film-film tersebut salah satu sebabanya adalah film tersebut berlatar pada sejarah.

Terdapat beberapa alasan film dengan latar sejarah selalu diminati publik perfilmman antara lain :

  1. Mengisahkan kembali tentang fakta masa lampau. Beberapa kalangan lebih senang menyaksikan film dengan latar sejarah sebab film sejarah menampilkan fakta masa lampau dan bukan cerita fiktif atau fiksi, meskipun fakta sejarah yang coba dikisahkan kembali pada film tersebut seringkali menyisakan perdebatan pada ruang tafsir sejarah
  2. Berisi ilmu pengetahuan sejarah masa lalu. Film dengan latar sejarah tidak hanya menghadirkan tontonan dalam bentuk hiburan tetapi juga menambah pengetahuan sejarah masa lampau bagi penonton
  3. Berkaitan dengan aspek sosial-ekonomi-politik masyarakat tertentu. Film sejarah mengisahkan kembali aspek sosial-ekonomi-politik masyarakat pada masa lampau sehingga dapat dijadikan pedomana pengambilan keputusan bagi masa kini dan masa depan.
  4. Berkaitan dengan aspek idiologi, budaya serta emosional penonton. Hal yang juga sangat memikat bagi pecinta film sejarah adalah film sejarah selalu berkaitan dengan aspek idiologi, budaya dan emosional para penonton. Ketiga aspek ini juga yang seringkali menarik simpati para penonton dan pada saat bersamaan juga seringkali menjadi ruang debat sejarah.
  5. Berisi pesan pendidikan, moral, kebijaksanaan, keadilan serta guru terbaik sebagai pijakan masa depan. Kalimat bijak History Magistra Vitae, (Sejarah adalah guru terbaik) menjadi alasan akademik publik pecinta film menyaksikan film sejarah, pendidikan tentang moral, kebijaksanaan dan keadilan seringkali menjadi tema dalam film-film berlatar sejarah.

Film Sejarah Pada Masa Orde Baru

Ada yang menarik dari pemerintahan Soeharto, rezim Orde Baru, yakni kesadaran “menggunakan” sejarah dan film sejarah sebagai penyalur gagasan. Terlepas dari interpretasi sejarah versi Orde Baru yang banyak menuai kritik, harus diakui Orde Baru sangat piawai merekonstruksi sejarah sebagai sebuah film.

Ulasan yang cukup lengkap penggunaan film sejarah pada masa Orde Baru sebagai media penyampaian gagasan diulas oleh Budi Irawanto dengan judul Konstruksi Relasi Sipil-Militer dalam Sinema Indonesia. Dalam karya Budi Irawanto mengulas tiga film sejarah yang pernah beredar pada masa Orde Baru yakni Enam Djam di Jogja, Janur Kuning dan Serangan Fajar, (dalam Syamdani, 2001 ; 10).

Digambarkan dalam ketiga film tersebut sosok Soeharto ditampilkan sebagai tokoh sentral. Soeharto tampil sebagai pemimpin yang berfikir strategis, murah senyum dan visioner. Budi Irawana sebagaimana diulas kembali oleh Syamdani dalam bukunya, peran Soeharto dalam ketiga film sejarah tersebut.

Film Enam Djam di Jogja, film yang disutradarai Usmar Ismail dan diproduksi Perfini tahun 1951. Film ini berkisah tentang perjuangan para pemuda di Jogja tahun 1949 saat itu Jogja sebagai Ibu Kota Republik. Dalam film tersebut dikisahkan para pejuang melakukan serangan umum dan menguasai Jogja selama enam jam. Diceritakan juga meski hanya enam jam menguasai Jogja, penguasaan ini memiliki efek yang positif bagi perjuangan kemerdekaan yakni mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap pemuda dan tentara. Pada kisah enam jam di Jogja militer dan Soeharto lah yang berinisiatif melakukan perjuangan bersenjata pada Serangan Umum 1 Maret 1949.

Film Janur Kuning, disebut film pertama yang mengangkat sosok Soeharto sebagai pahlawan naratif dan historis. Film yang disutradarai Alam Rengga Surawidjaja ini dibuat tahun 1979 dan diedarkan tahun 1980. Film Janur Kuning menghabiskan dana Rp. 385 juta tergolong mahal dua kali lipat dari rata-rata biaya pembuatan film Indonesia saat itu.

Film Janur Kuning tampil dengan latar belakang Kota Yogyakarta pada Desember 1948 dimana Yogyakarta jatuh ke tanggan Belanda. Soeharto dikisahkan sebagai tokoh sentral pemimpin gerilya di luar kota, Soeharto juga sebagai orang yang mengatur dan mengendalikan Serangan Umum 1 Maret 1949 dengan kode Janur Kuning bagi pejuang RI.

Tokoh-tokoh lain seperti Jenderal Sudirman, Sultan H.B. IX dan A.H. Nasution sesekali ditampilkan dalam kondisi pasif atau prihatin atas kondisi bangsa saat itu. Jenderal Sudirman misalnya digambarkan dalam kesehatan yang kurang baik sehingga selalu didampingi Soeharto dalam keputusan-keputusan penting.

Film lainnya adalah Serangan Fajar dan Janur Kuning, kedua film ini adalah kisah fiktif tetapi dengan setting cerita sejarah. Film Serangan Fajar mengisahkan latar sejarah Kota Yogyakarta tahun 1945 dimana Soeharto sebagai pemimpin kaum muda saat itu melalui berhasil merebut lapangan Maguwo dan dengan menggunakan pesawat pada lapangan Maguwo, Adi Soetjipto memimpin “Serangan Fajar” ke Kota Ambarawa.

Menarik film Janur Kuning ditampilkan mirip cerita pewayangan dimana terjadi serangkaian pertentangan antara pahlawan dan musuh yang diakhiri dengan kemengan pahlawan. Dalam film ini Soeharto digambarkan sebagai sosok yang tenang, terkontrol dan menarik simpati para pasukannya. Sementara komandan Belanda justru digambarkan orang yang tempramen, kasar demikian juga pasukannya.

Film Serangan Fajar dan Janur Kuning menampilkan Soeharto sebagai pejuang sentaral dalam masa revolusi hyang melindung rakyat. Pemimpin ideal, tentara yang loyal terhadap bangsa dan pemberani. Soeharto juga digambarkan sebagai kaum aristokrat Jawa yang pemurah, baik hati, murah senyum dan penyantun terhadap rakyat hal yang sangat kontras dengan sikap aristokrat kebanyakan.

Pada akhirnya film-film sejarah pada masa Orde Baru tidak hanya sebagai tontotan hiburan belaka, tetapi juga telah menjadi media pendidikan sekaligus proses indoktrinasi ideologi Orde Baru serta menjadi basis legitimasi historis perjuangan Orde Baru dan Soeharto.

Belakangan produksi dan penayangan film-film sejarah pada masa Orde Baru dinilai terlalu berlebihan bahkan salah tafsir sejarah tentang peran Soeharto dalam sejarah republik akibatnya di masa Orde Reformasi Menpen Muhammad Yunus melarang penayangan film-film sejarah yang bernuansa pengkultusan tokoh, seperti film Janur Kuning, Serangan Fajar dan Penghianatan G30S/PKI. Kata Menpan “film-film itu sudah tidak sesuai lagi dengan dinamika reformasi”. (Syamdani, 2001 ; 11).

Film Sejarah Sebagai Media Pembelajaran Sejarah

Terdapat beberapa pendapat para ahli pendidikan tentang media pembelajaran, di antaranya Gagne (1990) berpendapat bahwa media pembelajaran “Kondisi yang berbasis media meliputi jenis penyajian yang disampaikan kepada para pembelajar dengan penjadwalan, pengurutan dan pengorganisasian. Menurut Miarso (2004) berpendapat bahwa “Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar.”

Pendapat lain yang lebih menekankan pada jenis-jenis media pembelajaran adalah pendapat  Herry (2007:6.31) menyatakan: “Ada tiga jenis media pembelajaran yang dapat dikembangkan dan digunakan dalam kegiatan pembelajaran oleh guru di sekolah, yaitu: (1). Media visual adalah media yang hanya dapat dilihat dengan menggunakan indra penglihatan terdiri atas media yang dapat diproyeksikan (projekted visual) dan media yang tidak dapat diproyeksikan (nonprojekted visual). (2). Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan para siswa untuk mempelajari bahan ajar dan jenisnya. Dan (3) Media audio visual merupakan kombinasi dari media audio dan media audio visual atau media pandang dengar.”

Aplikasi media pembelajaran dalam proses belajar sangat membantu guru menyampaikan materi yang disampaikan para ahli merumuskan fungsi media pembelajaran antara lain, menurut Hamalik (2008), Fungsi media pembelajaran yaitu : Untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif, Penggunaan media merupakan bagian internal dalam system pembelajaran, Media pembelajaran penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran, Penggunaan media dalam pembelajaran adalah untuk mempercepat proses pembelajaran dan membantu siswa dalam upaya memahami materi yang disajikan oleh Guru dalam kelas dan Penggunaan media dalam pembelajaran dimaksudkan untuk mempertinggi mutu pendidikan.

Menurut Kempt & Dayton (1998), fungsi utama media pembelajaran yaitu: Memotivasi minat dan tindakan, direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan, Menyajikan informasi, digunakan dalam rangka penyajian informasi di hadapan sekelompok siswa dan Memberi instruksi, informasi yang terdapat dalam media harus melibatkan siswa.

Secara umum tujuan pembelajaran sejarah adalah membawa peserta didik memahami setiap peristiwa sejarah pada konteks kejadiannya serta dapat mengambil hikmah dari setiap peristiwa sejarah guna mengaplikasikan pada kondisi kekinian.

Tujuan pembelajaran sejarah dengan demikian bukanlah hal yang mudah untuk diwujudkan. Penggunaan media pembelajaran yang mendayagunakan multi intelgensia sangat memungkinkan tercapainya tujuan pembelajaran sejarah sebagaimana dimaksud.

Menjadikan film sejarah sebagai media pembelajaran dapat memotivasi, merangsang dan mempermudah pemahaman peserta didik terhadap peristiwa sejarah. Pengalaman sejarah pada masa Orde Baru yang menjadikan film sejarah sebagai penyampai gagasan, ide bahkan idiologi sepertinya cukup menjelaskan pentingnya memanfaatkan film sejarah sebagai media pembelajaran.

Dalam film sejarah dengan bantuan teknologi audio visual yang canggih karakter, ide, sikap hidup tokoh sejarah dihidupkan kembali dalam diri pelakon ini dapat memberikan sugesti dan pengalaman baik kognitif, psikomorik dan afektif peserta didik terbentuk. Kondisi sosial, politik dan budaya pada konteks sejarah kala itu juga dihidupkan sehingga peserta didik dapat melakukan pembacaan yang sempurna pada konteks mana suatu peristiwa sejarah terjadi demikian juga pemahaman terhadap ruang dan waktu (krologis) suatu peristiwa sejarah terjadi.

Memahami film sejarah sebagai media pembelajaran yang sangat berpengaruh membentuk kognitif, psikomorik dan afektif peserta didik membuat guru harus dapat menjadi “jembatan penjelas” yang utuh antara pesan dari film sejarah dan diri peserta didik.

Bagaimanapun film sejarah sangat sarat dengan pesan politik, budaya, ideologi bahkan agama yang ingin disampaikan sutradara kepada penonton. Pada kondisi inilah peran guru sejarah sangat strategis menjelaskan nilai-nilai kebijaksanaan dan melakukan penafsiran terhadap pesan sejarah yang disampaikan lewat sebuah film sejarah. Setidaknya terdapat beberapa film sejarah yang telah dilarang beredar di publik antara lain : film Pagar Kawat berduri 1961, film Romusha 1972, film Max Havelaar 1976, film Merdeka 17805, dan film Balibo 2009. Film Balibo dilarang beredar di Indonesia pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhyono oleh Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Film ini dinilai merugikan bangsa Indonesia dengan menciptakan pandangan negatif bangsa lain terhadap Indonesia.

Untuk itu ada baiknya sebelum suatu film sejarah ditontonkan kepada peserta didik guru sejarah terlebih dahulu mengkaji pesan sejarah yang disampaikan dalam film sejarah tersebut. Adapun beberapa hal yang perlu diperhatikan guru antara lain :

  1. Kesesuaian sejarah yang disampaikan dalam film sejarah dengan latar sejarah yang terdapat pada bukti-bukti primer sejarah semisal dokumen, arsip, artefak dan lain-lain
  2. Sumber yang digunakan oleh sutradara dan penulis skenario dalam pembuatan film tersebut
  3. Pesan yang hendak disampaikan dalam film sejarah harus sesuai dengan tujuan pembelajaran sejarah yang ingin dicapai. Dan
  4. Guru sejarah harus dapat membedakan aspek hiburan dalam sebuah film dengan pesan sejarah sesungguhnya yang ingin disampaikan.

Pada akhirnya dengan ikhtiar sungguh dari guru sejarah menjadikan film sejarah sebagai salah satu media pembelajaran sejarah akan dapat memotivasi peserta didik belajar sejarah.

Abdul Malik Raharusun, S.Pd. M.Pd

Daftar Bacaan :

Ahmad, Abdul Karim H. Media Pembelajara. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri Makassar ; 2007.

Homer (Terjemahan A. Rachmatullah).The Iliad Of Homer. Oncor Semesta Ilmu. Jakarta :2011

Syamdani, Kontraversi Sejarah di Indonesia. Grasindo. Jakarta : 2001

www.Wikipedia film Troy.com

www.jaringanIslamLiberalKingdomofheaven.com