HMINEWS.COM

 Breaking News

Kota Tujuan dan Rekatan Sosial yang Pudar

Kota Tujuan dan Rekatan Sosial yang Pudar
March 17
16:46 2015

Expat, Bule, Orang asing, dan lain-lain

Menarik membaca artikel di theguardian.com, dengan judul Mengapa Orang Barat Perantauan disebut Expat sementara Yang lain disebut Imigran. Menurut si artikel, expat yang artinya ‘di luar negeri leluhur’ memiliki konsep ikatan (cohesion) kepada keluhuran/ keasalan yang membuat orang barat merasa superior ketimbang mereka yang disebut imigran atau perantau pencari kerja. Mereka yang disebut terakhir memiliki beban psikologis sebagai orang terpaksa dan ini semakin berat ketika dikaitkan dengan persoalan ras, etnis, dan kebangsaan.

Tetapi pada generalisasi (streotipisch) seperti ini kita tidak perlu terlalu serius meskipun banyak benarnya juga. Sebab bila kita lihat maka penyebutan-penyebutan terhadap kelompok imigran tidak selalu bermula dari persoalan misalnya; “expat” lebih keren dari “imigran.” Kadang kala penilaian tadi pun tersusun oleh kategori-kategori yang sifatnya untuk mempermudah identifikasi atau komunikasi saja. Seperti untuk kawasan hunian dan condo di daerah Kemang maka kita sering sebut sebagai kawasan expats. Pada saat yang sama, penyewaan kamar murah bagi backpackers di Jalan Jaksa kita sebut sebagai kawasan bule.

Yang perlu dicatat adalah belakang istilah Orang Asing bagi warga negara yang tinggal di Indonesia sudah jarang sekali digunakan. Ini mungkin karena orang asing punya makna konotatif sebagai mereka-mereka yang perlu dicurigai dan diawasi.

Sebetulnya niat tulisan status ini adalah membahas sejauhmana sebuah kota tujuan (city of migration) dapat mencapati rekatan sosial (social cohesion) yang dapat dikatakan cukup agar perikehidupan kota dapat mendatangkan kesetaraan kepada sesama penghuninya. Sayangnya tujuan-tujuan tadi akan sulit terlaksana, mengingat pembedaan kawasan hunian dengan istilah kawasan expat, kawasan kumuh, kawasan elit, kawasan liar, dan lain-lain. Belum lagi apabila kita membahas distrik-distrik hunian yang berubah menjadi apartemen-condotel-bisnis park yang jelas mendorong keluar mereka-mereka yang tidak mampu keluar dari lingkaran kesejahteraan kota.

Di sini sebenarnya latar dari tulisan di theguardian.com, bahwa kebanyakan negara-negara di eropa penduduknya itu gagal berbaur (dan sebaliknya juga) dengan kaum imigran yang semakin lama semakin banyak memasuki Eropa Barat karena alasan bahwa mereka selalu akan menjadi orang asing (auslanders) bagi sistem kebudayaan Eropa.

Ketika kelompok imigran ini semakin mendapati bahwa sistem kota tidak dapat begitu saja menerima mereka, maka secara alamiah mereka berkumpul dalam ghetto-ghetto dalam kelompok yang sejenis (etnis, agama, benua, warna kulit dll.). Persoalan-persoalan rapuhnya kohesi sosial ini yang membuat sentimen-sentimen seperti Charlie Hebdo, penyanderaan di Sidney mudah sekali pecah menjadi tuduhan-tuduhan teror kota oleh kelompok imigran.

Bila kita tarik persoalan imigran ini kepada imigran domestik di tanah air, seperti para pendatang di kota-kota yang terkelompok dalam grup-grup maka terasa sekali kohesi sosial kita itu lemah sekali. Ini artinya potensi-potensi konflik akan mudah tersulut menjadi kemarahan yang tidak berdasar (madness).

Andi HakimAndi Hakim

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.