HMINEWS.Com -Pada hari ketiga pelaksanaan Intermediate Training atau Latihan Kader II (LK II) HMI Cabang Pinrang, Kepala Balitbang Kementerian Pertanian, Dr. Ir. Fadjry Djufry, hadir sebagai pembicara. Yaitu pada hari Selasa (23/2/2015) di Hotel Nirwana, Pinrang-Sulawesi Selatan.

Fadjry mewakili Menteri Pertanian Dr. Ir. Amran Sulaiman yang seyogianya hadir sebagai pemateri, namun berhalangan hadir dikarenakan urusan kenegaraan. Dalam pemaparannya, Fadjry Djufry mengatakan sebagai kader yang selalu mengedepankan nilai intelektual HMI harus menguasai berbagai bidang keilmuan dan tidak terpaku hanya pada salah satu segmen ilmu tertentu.

“Kader HMI harus punya visio analisis yang kuat sehingga mampu membaca apa yang tersirat dari setiap peristiwa, yang tersurat pasti bisa dibaca oleh setiap orang tetapi yang tersirat itu hanya mampu dibaca oleh yang punya analisis kuat,” kata KaBalitbang.

Ia juga memaparkan bahwa Indonesia sangat kaya dengan potensi sumber daya alam tetapi sumber daya manusianya lemah, sehingga itu kader HMI harus mampu tampil sebagai pionir di garis terdepan, sehingga  sumberdaya alam yang ada tidak terus menerus dikeruk oleh asing.

Fadjry Jufry juga memberi kesempatan untuk berdialog dengan para peserta yang berasal dari berbagai daerah Kabupaten/Kota  di Indonesia. Tiga dari peserta yang diberi kesempatan bertanya, mengeluhkan kurang maksimalnya pemerintah dalam pembangunan manusia sehingga industri-industri besar di Indonesia masih didominasi oleh pihak asing, apalagi sekarang negara kita bukan lagi menjadi swasembada pangan dunia malah menjadi negara konsumtif dari hasil impor pangan  negara lain.

Dalam waktu tiga tahun ini pemerintah mencanangkan Indonesia harus kembali swasembada komoditas pangan tersebut, yang harus dicapai dengan mempersiapkan infrastruktur dan suprastruktur yang menjadi sarana pencapaian tersebut.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Kabupaten Pinrang  Jamaluddin, S.Tp.  Ia mengatakan bahwa Indonesia dulu sangat dikenal sebagai negara pangan terbesar di dunia. Oleh karenanya pemerintah sekarang harus kembali berbenah dalam rangka kembali menjadikan identitas Indonesia sebagai negara lumbung pangan.