Kita kembali dapat menyaksikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hadir dalam perjalanan bangsa kita hingga hari ini. HMI yang lahir pada 14 rabiul awal 1366, atau bertepatan pada 5 febuari 1947. Jadi jika dihitung sejak kelahirannya HMI berumur 68 tahun tepat pada 5 Februari 2015 ini. Merupakan masa yang sangat lama selama 68 tahun HMI telah menghiasi warna warni dinamika bangsa hingga sejauh ini. HMI yang dalam kelahirannya diprakarsai oleh Lafran Pane beserta 13 mahasiswa lainnya dikampus STI (UII saat ini) Yogyakarta menyadari saat itu perlu hadirnya semangat perjuangan mahasiswa Islam dalam rangka mengawal bangsa dan negara, sebab saat itu belum ada pergerakan bernafaskan Islam yang notabene mahasiswa. Sebab melihat semangat perjuangan kebangsaan dan Islam, maka tujuan pertama HMI saat itu adalah “pertama, Mempertahankan NKRI dan mempertinggikan derajat rakyat Indonesia. Dan kedua, menegakkan dan megembangkan ajaran agama Islam”. Sehingga dalam asas HMI saat itu pun dicetuskan Islam.

Lafran pane berpandangan Islam bukan saja bicara ritualisme ibadah semata, tapi Islam juga  merupakan spirit  cara pandang dan sikap hidup. Spirit Islam inilah yang oleh Lafran Pane dan sahabat seperjuangannya dijadikan pijakan dalam perkaderan dan perjuangan HMI. Spirit Islam ini pula yang menjadikan fungsi HMI sebagai organisasi perkaderan digelorakan hingga kepenjuru kampus didaerah sehingga HMI dalam waktu yang tidak lama telah tersebat ke berbagai wilayah di Indonesia. Spirit Islam ini juga yang dijadikan dasar HMI dalam menjalankan perannya sebagai organisasi perjuangan/perrgerakan.

Berangkat dari spirit Islam yang menjadi azas HMI, organisasi ini ternyata telah mampu  melewati fase-fase penting dalam dinamika kebangsaan kita. Beberapa diantaranya adalah:

Fse awal masa kemerdekaan tahun 1947 an. HMI  turut terjun kegelanggang pertempuran melawan agresi yang di lakukan oleh Belanda, membantu pemerintah baik memegang senjata bedil dan bambu runcing, sebagai staf, penerangan, penghubung. Untuk menghadapi pemberontak di Madiun 18 september 1948, yang saat itu Ketua PPMI sekaligus Wakil ketua PBHMI Ahmad Tirtosudiro membentuk corps mahasiswa (CM).

Fase berikutnya adalah tahun 1965, dimana tahun itu adalah periode disaat pergolakan PKI kian runcing. Presiden Soekarno yang ditengarai berkolaborasi dengan PKI saat itu turun tahta sebab oleh gerakan mahasiwa, rakyat dan peranan tentara yang dikomando oleh Brigjen Soeharto saat itu. HMI yang masa itu sudah ada di gerakan intra kampus turut sumbangsih baik melalui gerakan formal maupun non formal dalam kampus. Disisi lain HMI sebagai gerakan ekstra kampus mengorganisir dirinya dan kantong gerakan yang dimilikinya turun kejalan.

Fase tahun 1974, periode ini tidak kalah pentingnya sebab dimasa ini mulai gerakan kontra Presiden Soeharto. Dimana puncaknya persitiwa malapetaka 15 Januari 1974 meletus. Akibatnya 11 mahasiswa menjadi korban meninggal akibat brutalnya tentara yang bertindak represif menghalau aksi protes mahasiswa.

Fase berikutnya adalah tahun 1980, di tahun inilah yang menjadi sejarah pahit dengan terbelahnya HMI menjadi dua; HMI Majelis Penyelamat Organisasi (MPO) dan HMI Diponegoro (letaknya di Jalan Diponegoro). Peristiwa terjadi karena diterapkannya asas tunggal Pancasila oleh Presiden Soeharto. Dimana penerapan asas tunggal pancasila ini berlaku untuk semua organisasi maupun partai tanpa terkecuali. Menjadi perdebatan panjang di internal HMI antara yang pro dan kontra dengan kebijakan Sohearto tersebut, hingga pada akhirnya pasca diselenggarakannya kongres ke-15 HMI di Medan  pada tahun 1983.  Tepatnya Pada tahun 1986 HMI yang menerima azas tunggal Pancasila dengan pertimbangan-pertimbangan politis beserta tawaran-tawaran menarik lainnya, rela melepas azas Islam sebagai azas organisasinya. Selanjutnya HMI pihak ini disebut sebagai HMI DIPO,. Sedangkan HMI yang tetap mempertahankan azas Islam kemudian dikenal dengan istilah HMI MPO. Peristiwa perpecahan HMI telah mewariskan  dua semangat berbeda yang  menyeruak dan makin nampak. HMI Diponegoro yang tumbuh selalu dekat dengan kekuasaan menjadikan tipologi gerakannya kuat dalam  tradisi politik. Sementara HMI MPO yang lahirr dari semangat mempertahankan ideologi Islam tumbuh menjadi organisasi yang menjaga kuat nilai independensi dan tradisi nila, baik dalam laku pribadi sebagai  kader  maupun secara komunal organisasi. Hingga kini dua HMI masih tetap berada pada jalurnya masing-masing.

Yang menarik kemudian adalah HMI MPO, yang tumbuh dalam tekanan pemerintahan Orde Baru saat Soeharto masih berkuasa tetap mampu bertahan dalam menjalankan   perkaderannya, meskipun dalam konteks pergerakan  mengalami kendala yang cukup rumit, sebab eksistensi HMI MPO terancam  ketika tampil dipermukaan, HMI MPO dianggap oleh pemerintah sebagai gerakan  subversive.

Fase 1998, di tahun  1990 Posisi HMI MPO sebagai gerakan underground. Hal ini membuat gerakan sayap HMI MPO muncul dibeberapa kota besar  seperti Jakarta HMI MPO membuat FKMIJ, di Jogjakarta ada LMMY, di Makasar ada FKMIM. Selain itu aktifis HMI MPO juga banyak berjuang lewat lembaga-lembaga kampus seperti DEMA, BEM, dan lain sebagainya. Dan menjadi sebuah kebanggan besar dari konsistensi gerakan HMI MPO saat Orde Baru tumbang dengan ditandainya Soeharto menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Presiden RI saat itu.

Fase pasca reformasi HMI MPO kini bermetamorfosa bukan lagi menjadi gerakan underground yang kerap mendapatkan ancaman dari pemerintah. Di era keterbukaan dan demokratis saat ini tantangan HMI MO adalah justeru dari dalam. Jika dulu tantangannya adalah tekanan saat ini tantangannya adalah godaan. Banyak sekali godaan yang menjangkiti cara pandang mahasiswa sekarang yang ingin cepat lulus, berorientasi kuat kepada karier an sich dan budaya pop culture yang bergaya hidup hedonis menjadi tantangan tersendiri baghi aktivis saat ini dalam menifestasi perkaderan maupun pergerakannya. Ajakan kepada mahasiswa seolah berlalu begitu saja, sikap apatisme kian tinggi dikalangan mahasiswa. Bahkan tidak sedikit yang nyinyir ketika ada kelompok mahasiswa yang aksi turun kejalan.

Selain tantangan tersebut, era globalisasi yang kita hadapi saat in i telah melahirkan banyak stigma buruk terhadap Islam. Gerakan Islam bahkan ajaran islam dianggap membahayakan dalam mkobteks tertentu, akhirnya muncul Islam phobia. Persoalan-persoalan demikian tentu menjadi pekerjaan bersama ummat Islam khusus gerakan Islam yang masih memiliki nalar kritis dan keberpihakan kepada ummat. Sangatlah penting bagi HMI sebagai organisasi mahasiswa Islam tertua dan terbesar di Indonesia untuk mengambil peran sentral meredam stigma yang demikian. HMI harus mengkampanyekan terus menerus paradigma Islam rahmatan lil ‘alamin –Islam yang moderat, toleran, dan antikekerasan.

Serlain daripada persoalan diatas itu, tentu yang selalu menjadi focus utama HMI adalah persoalan klasik yang selalu ada yakni kemiskinan, keterbelakangan, ketidakadilan menjadi perhatian yang tidak boleh pernah HMI lupakan sampai kapanpun.

Maka, momentum meme;peringati Milad HMI ke-68, semoga HMI tetap istiqamah dalam derap langkah dan perjuangannya menjadi inisiator dan katalisator perubahan untuk kemaslahatan ummat Islam dan bangsa Indonesia. Dirgahayu HMI ke-68!

Bahagia HMI…..

Puji Hartoyo Abubakar