Pada 5 Februari 2015, genap 68 tahun umur Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menghiasi kancah aktivis di Indonesia. Di usia yang semakin matang, HMI selaku organisasi pergerakan yang bertujuan membina dan mencerahkan mahasiswa Islam terus-menerus memperbaiki berbagai kelemahan guna mewujudkan kader-kader intelektual, beriman nan merdeka.

Selaku organisasi independen yang tak beraifiliasi dengan partai apapun, HMI memang terkesan redup dan lambat dalam merespon isu yang berkembang. Namun percayalah, bahwa hal tersebut dilakukan demi pertimbangan matang dalam menentukan sebuah keputusan. Langkah tersebut juga merupakan wujud kehati-hatian dalam menerapkan prinsip independensi HMI. Inilah salah satu wujud tekad HMI untuk selalu menjadi salah satu bagian garda terdepan dalam menjaga ‘izzul Islam wal muslimin.

Bagi HMI, terlalu mudah untuk melengserkan suatu rezim. Di sinilah identitas HMI, meskipun yang bermain di kancah perpolitikan sebagian adalah senior dan alumni HMI, kader harus dan seharusnya tetap memihak siapa yang benar. Tidak adanya rasa ketergantungan terhadap senior akan selamanya lebih baik untuk menghindari sifat pengecut, rendah diri dan terikat hutang budi.

Adapun kuatnya independensi HMI tak terlepas dari adanya jenjang pengkaderan hingga jalinan komunikasi antar alumni. Bagaimanapun juga, HMI menyadari sepenuhnya bahwa pasti akan ada dampak negatif jika suatu organisasi pergerakan secara eksplisit berada di bawah payung suatu partai. Bukan hanya mencederai hubungan batin antar aktivis, namun lebih mencoreng dan membelokkan sejarah makna aktivis.

Memang tak mudah hidup menjaga identitas independensi dalam berorganisasi. Berbagai hambatan mulai dari segi ekonomi hingga link tak jarang akan ditemui. Tetapi, bukankah iman memang harus diuji di tengah realitas global yang sarat menawarkan kerakusan diri? Perlu ditekankan kembali kepada kader-kader baru bahwa kader berkualitas tak akan terwujud bila yang dirasa dalam berorganisasi hanya manis dan hura-huranya saja.

Meskipun keterbatasan itu terkadang menimbulkan masalah, sering adanya berbagai masalah tersebut kader menjadi terbiasa menghadapi masalah. Kenanglah, bahwa hanya kader yang menguasai masalah-lah yang mampu memecahkan masalah. Daya juang itulah yang perlahan-lahan akan menumbuhkan sifat pengabdian, penghormatan serta pelayanan. Patut disyukuri bahwa keterbatasan itu lambat laun dapat melahirkan kesederhanaan dalam diri kader. Sesungguhnya, kesederhanaan itulah yang mampu membuka awal prinsip independensi. Kesederhanaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pengkaderan HMI selama ini untuk turut serta mengabdi di pentas kancah nasional. Tak berlebihan pula jika “gemblengan” untuk hidup sederhana dalam pengkaderan menjadi penyelamat dan penghebat melalui ibadah dan sunnah-sunnah nabi mulia.

Kader HMI harus sadar bahwa tujuan mencerahkan mahasiswa Islam bukan hanya terhenti pada istilah cerah sebatas tahu. Islam sepatutnnya dijadikan pegangan diri untuk terus berproses memperbaiki diri. Islam adalah agama yang menggerakkan, maka sepatutnyalah kader memiliki sikap tergerak berkarya tiada henti.
Di milad HMI ke- 68 ini, tak ada harapan lain selain merawat dan terus membina kader-kader pemuda HMI yang jiwanya hadir Allah. Positive thinking tahan banting dan pemuda problem solving dalam proses pengkaderan HMI selamanya harus tetap dijunjung.

Yakin Usaha Sampai

zamZamhari
Pegiat di Forum Berani Angkat Pena