SEDHMINEWS.Com – Islam dan Bahasa Melayu (dengan berbagai ragamnya) merupakan dua elemen yang sangat menentukan dalam persatuan kawasan Asia Tenggara. Demikian diungkap oleh pegiat Center for Islamic Studies in Finance, Economics, and Development (CISFED), Syahrul Efendi Dasopang.

Syahrul merinci, dari pengamatannya terhadap muslim Malaysia, maka didapati bahwa tingkah laku, perkataan, selera, cara sholat, cara bertutur, bahasa yang digunakan dan cara mengungkapkan pikiran mereka itu sama dengan orang Indonesia.

“Intinya, jati diri dan karakteristik mereka, benar-benar dekat dengan jati diri dan karakteristik saya sendiri, orang Indonesia. Rasanya mereka bukanlah orang yang datang dari negara lain, dari kebudayaan dan peradaban yang asing, sebagaimana ketika saya bertemu dengan orang Mesir misalnya, orang Eropa atau pun orang Cina,” ungkap Syahrul (17/2/2015).

Selain itu masih ditambah lagi, cara berpakaiannya, cara makan, tidur, ungkapan sikapnya (akhlak)nya pun sama. Ukuran nilai-nilai yang terpuji dan yang buruk sama persis.

“Ini sudah jelas membuktikan, bahwa penduduk yang berada di beberapa negara Asia Tenggara tersebut, dari Thailand Selatan, Filipina Selatan, Malaysia, Brunei, Singapura hingga Indonesia diikat oleh suatu jati diri, nilai-nilai rohani, karakteristik, dan adat istiadat yang sama,” lanjutnya lagi.

Mantan Ketua Umum PB HMI MPO itu juga mengatakan, hanya rekayasa politik bekas penjajah saja lah yang menyebabkan masyarakat Asia Tenggara terpisah dinding negara dan politiknya masing-masing. Namun meski begitu mereka tetap tak terpisahkan, karena begitu kuatnya akar Islam dan adat istiadat serta kebudayaan dan asal-usul ras dan masa lalu mereka yang menghubungkan kesadaran dan perwatakan perasaan dan pikiran mereka hingga melewati waktu yang demikian panjang sampai masa ini.

“Mereka dihubungkan oleh suatu faktor yang sangat kuat: faktor agama dan bahasa Melayu. Kedua faktor inilah yang menjadi benteng lestari dan terpeliharanya hubungan batin di antara masyarakat yang berada di berbagai negara itu. Sekali mereka masyarakat Melayu itu berpindah agama, lenyaplah hubungan batin yang begitu erat mempersatukan mereka. Demikian pula, sekali mereka berbeda bahasa, maka lenyap pulalah perasaan dekat antar sesama mereka. Walhasil, Islam dan bahasa Melayu merupakan faktor kuat dan strategis menghubungkan perasaan, batin dan pikiran penduduk yang bertempat di belahan Asia Tenggara ini,” tandasnya lagi.

Berkembangnya Islam dan bahasa Melayu di kawasan ini adalah jaminan akan tumbuhnya ikatan batin, saling pengertian dan rasa senasib dan sepenanggungan di antara penduduk di wilayah ini, sekalipun elit-elit politiknya memiliki orientasi dan haluan yang berbeda-beda.

“Oleh karena itu, dua hal yang patut dibina di dalam rangka memelihara dan menumbuhkan kesadaran kesatuan pada penduduk Muslim di Asia Tenggara, yaitu pembinaan dan pemasyarakatan bahasa Melayu sebagai bahasa pergaulan dan resmi, dan juga pembinaan kesadaran dan internalisasi Islam di dalam masyarakat dan negara.

Islam adalah sumber rohani sekaligus sumber peradaban masyarakat Muslim Asia Tenggara. Islam telah lama menjadi sumber hukum dan qanun yang mengatur dan membina kerajaan-kerajaan Muslim yang muncul jauh sebelum penjajah Kristen Eropa menjejakkan kakinya di kawasan ini.”