HMINEWS.Com – Bima, NTB. Sekitar tanggal 16 Desember 2014 Lalu, warga Kelurahan Tanjung dan Kelurahan Dara terlibat konflik. Menurut keterangan Iki, salah satu warga tanjung, bentrok tersebut berawal dari pertandingan sepak bola di Kelurahan Tanjung.

Pertandingan sepak bola tersebut adalah pertandingan sesama warga Tanjung, namun terjadi penghinaan yang dilakukan salah satu warga Kelurahan Dara yang sedang menonton pertandingan tersebut, kepada pemain yang sedang bermain pada waktu itu. “Ah.. Percuma orang Tanjung sekolah, palingan jadi maling nih.” Itu kata-kata yang diucapkan oleh penonton (warga Dara) kepada pemain (warga Tanjung).

Merasa tersinggung dengan apa yang telah dikatakan oleh warga Kelurahan Dara tersebut, salah satu warga Kelurahan Tanjung tidak terima dan memberitahu warga yang lainnya. Setelah pertanding sepak bola selesai, perkelahian antara warga pun pun terjadi. Sehingga berlanjut saling serang antara warga sampai pada malam harinya. Warga melakukan penyerangan di Kelurahan Tanjung, dan seterusnya kedua belah pihak saling menyerang.

Beberapa hari kemudian, tepatnya pada tanggal 24 Desember 2014, konflik tersebut terjadi sekitar pukul 13.00 Wita. Warga Tanjung berada di sekitar Pasar Bima, tepatnya di Kelurahan Paruga sementara warga Dara berada di sekitar Kelurahan Padolo, sebelah selatannya kelurahan Paruga. Kedua kubu yang bertikai tersebut saling serang. Namun menurut keterangan Iki, aparat kepolisian yang berada di lokasi sebagai penengah dan pengaman konflik berada di sekitar di pos Lapangan Serasuba, kompleks Istana Bima.

Aparat kepolisian yang berada di tengah-tengah kedua kubu yang bertikai tersebut, melakukan tembakan pengamanan hanya ke arah warga tanjung, dan tidak melepaskan tembakan pengamanan ke arah warga dara. Akibat tembakan dari aparat tersebut, salah satu warga tanjung tertembak dan akhirnya tewas. Mengetahui rekannya ditembak aparat polisi, warga tanjung melakukan penyerbuan dan penyerangan hingga salah satu anggota aparat polisi terkena panah dan sebuah pos polisi dibakar oleh warga.

Aparat Menyerang Warga

Menurut penjelasan Iki, pada pukul 17.00 Wita Sekitar 2 Kompi Anggota Brimob masuk di tengah perkampungan Tanjung melakukan sweeping dan penyerbuan serta menembak warga secara membabibuta. Warga yang sedang menjalankan aktifitas ditembak secara liar. Warga yang mendengar letusan senjata api yang dilepaskan Brimob akhirnya bersembunyi dan masuk rumah masing-masing. Namun aparat polisi, dalam hal ini Brimob, mengejar warga dan melepaskan tembakan terus menerus ke arah warga, yang bersalah maupun tidak bersalah. Anak-anak kecil pun yang sedang bermain game ditembak oleh pihak Brimob tanpa melakukan identifikasi, seperti yang terjadi pada anak yang bernama Asraf dan Andi masing-masing berumur 11 dan 14 tahun terkena tembakan 3 kali dikepala dan kakinya.

Sampai saat ini korban akibat bentrokan tersebut berjumlah 42 orang, masing dari warga Tanjung 30 orang, sementara dari warga Dara Berjumlah 21 orang. Menurut Iki, korban yang jatuh di Kelurahan Tanjung adalah akibat dari tembakan peluru dan tindakan represif aparat kepolisian, sementara korban dari Kelurahan Dara hanya terkena panah dan senjata rakitan. Jumlah itu tidak termasuk korban yang dipukuli sampai babak belur oleh aparat. Dari keterangan tersebut, ada indikasi ketidak adilannya pihak aparat polisi dalam menyelesaikan konflik.

Sampai saat ini puluhan korban tengah dirawat di RSUD Bima, RSUD Propinsi NTB, dan RS Bayangkara Mataram.

Dedy Ermansyah
LAPMI Cabang Bima