HMI MPO itu berdiri tahun 1985 karena konflik internal di tubuh HMI, juga karena variabel lain atau fenomena eksternal yaitu represifitas Orde Baru, otoritarianisme negara. Juga dengan meningkatnya fenomena Islam di Indonesia seiring dengan adanya Revolusi Islam di Iran, masuknya gerakan Ikhwanul Muslimin, lembaga-lembaga tarbiyah / dakwah kampus. MPO merupakan salah satu dampak dari itu semua.

‘MPO’ itu anak kandung dari konteks internasional gerakan Islam dan konteks ultranasionalisme negara. Kita tidak murni anak kandung dari ‘rumah besar umat Islam,’ tapi kita juga lahir dari pengalaman ketertindasan di zaman Orde Baru, artinya ada konteks keindonesiaan dan keislamannya sekaligus.

Oleh karena itu kita tidak boleh melupakan tanggungjawab kita. Kita memiliki tanggungjawab untuk memperbaiki  bangsa ini, tanggungjawab untuk berpartisipasi dalam gerakan Islam. Jadi, ada gerakan Islam dan gerakan kerakyatan; gerakan mengadvokasi masyarakat. Itu adalah spirit kita, itu posisi kita. Posisi kita dan spirit kita! Kemana-mana HMI harus ingat; Gerakan Islam menuju perubahan keislaman, dan gerakan kerakyatan. Itu jangan sampai hilang.

Mengapa perlu memanggil mantan-mantan ketua umum PB ke sini, itu adalah agar terjadi proses transformasi seperti ini.

Ada satu ruang yang tetap bisa kita masuki, pertama tetap konsisten pada kelompok sub alter, kelompok-kelompok yang masih terzhalimi. Contoh Cabang Jakarta  harus mengadvokasi pedagang kaki lima yang tidak boleh berdagang dan diusir begitu saja dari Monas, Pasar Minggu, dan tempat-tempat lain di Jakarta tanpa dipedulikan nasibnya setelah digusur dan diusir.

Jadi antara kajian dan praksis itu ada persinggungannya!

Membuat kajian, teoretik maupun kajian ahli. Itu bisa difollow up untuk dijadikan rekomendasi kebijakan, ini pendekatan yang elitis. Program kita juga adalah back to campus. Itu menjadi suatu kewajiban. Pertama ‘rebut’ musolanya. Kalau tidak mampu, bisa melalui kelompok seni dan budaya, karena seni  itu menjaga idealisme. Ketiga bisa dengan lembaga pers-nya. Atau jika tidak, masih bisa bentuk kelompok kajian. Kalau itu semua tidak mampu, bubarlah sudah.

Kita harus punya idealitas, punya metode, dan harus ikut dalam pembelaan terhadap masyarakat. Teori dan praksis tidak dipisahkan. Marx pernah mengatakan bahwa filsafat, teori dan praksis itu satu rangkaian. Tidak dipisahkan.

Demikian petikan dari penyampaian Kanda Cahyo Pamungkas di PB HMI MPO, Sabtu 24 Januari 2015.