HMINEWS.Com – Karut marutnya Dewan Perwakilan Rakyat akhir-akhir ini sangat disayangkan dengan munculnya dualisme pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).  Situasi ini butuh pemuda dan mahasiswa untuk memberikan masukan secara konseptual, Tapi  justru mahasiswa yang menjadi titipan dan harapan masyarakat Indonesia  tidak lagi seperti yang diharapkan dengan adanya aksi pemerasan yang dilakukan oleh kader HMI DIPO terhadap ketua DPR RI, Setya Novanto. Ini merupakan kejadian buruk yang dilakukan oleh dua orang kader yang nanti akan berimbas pada lemahnya gerakan mahasiswa dalam mengawal negara.

Posisi Mahasiswa Sebagai Kontrol Negara.

Mahasiswa Indonesia adalah pilar negara.  Mahasiswa merupakan penggerak sekaligus aktor intelektual dalam kancah kenegaraan. Dari era pra-kemerdekaan hingga skarang, mahasiswa selalu mengambil peran dalam dinamika kenegaraan. Sebagai pemangku pendidikan tinggi, mahasiswa diharapkan menjadi insan akademis yang mampu membawa negara kearah yang lebih baik dan progresif. Oleh sebab itu, Tri Dharma Perguruan Tinggi mengandung nilai sosialitas yang mewakili nilai “pengabdian masyarakat”.

Mahasiswa dalam mendefinisikan dirinya  sangat penting, jangan sampai ada gerakan pengkhianatan terhadap kelompok menengah, hanya satu kelompok yang memiliki kepentingan pragmatisme yang nanti akan menciptakan krisis kepercayaan terhadap kelompok mahasiswa lainnya, oleh karena itu mahasiswa dalam memposisikan diri dan mendifinisikan diri itu sangat penting di tanamkan dalam diri individu dan kelompok mahasiswa.

Mahasiswa sebagai agent of change, social of control, moral force. Kalau ini yang ditanamkan oleh mahasiswa sebagai cerminan gerakan maka mahasiswa hanya melakukan tugas yang suci yang dalam posisi mengawal dan jauh dari gerakan perselingkuhan dengan elit politik, dan elit penguasa.

Pemerasan Kader HMI DIPO Merusak Citra Gerakan Mahasiswa.

Demonstrasi yang pada masa lalu kerap menjadi primadona aktualisasi mahasiswa, hari ini bisa jadi tidak jadi solusi lagi. karena diplomasi yang dilakukan oleh mahasiswa justru menjadi bumeran di sosial masyarakat. apalagi kasus pemerasan yang di lakukan oleh kelompok mahasiswa dengan mengancam mau di demo, atau jangan-jangan aksi demontsrasi yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa menjadi alat untuk menakuti elit yang nanti akan berakhir dengan negosiasi yang berujung kepada transaksional, kalau seperti itu yang menjadi corak mahasiswa kontemporer ini maka negara akan berantakan dan hancur.

Kasus pemerasan yang dilakukan oleh aktivis mahasiswa, menciptakan sejarah buruk bagi gerakkan mahasiswa kekinian, ketidak percayaan masyarakat terhadap gerakkan mahasiswa makin melebar dan menjadi ancaman bagi moral mahasiswa untuk tampil ambil bagian dalam rangka membangun bangsa dan negara, kasus pemerasan ini dalam versi lain, bisa jadi menjadi jebakan bagi gerakkan mahasiswa, ini menjadi PR bagi rekan-rekan aktivis untuk mengevalusi gerakkan mahasiswa secara nasional.

Pengkhianatan Terhadap Gerakan Mahasiswa.

Aksi pemerasan yang dilakukan oleh segelintir mahasiswa menjadi kasus buruk yang ada dalam dunia mahasiswa hari ini, aksi ini tidak mencerminkan identitas mahasiswa yang nota benennya adalah kelompok intelektual yang tercerahkan dan memiliki moralitas yang lebih.

Dalam dunia kemahasiswaan aksi pemerasan yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa seperti ini, dinamakan sebagai ” group of betrayal ” dan kalau ini sudah menjadi tradisi baru dalam dunia gerakkan mahasiswa maka mahasiswa tidak lagi memiliki roh gerakkan dan perjuangan.

Di sisi lain menyuarakan lewat aksi parlemen jalanan tapi disatu sisi melakukan diplomasi yang berujung pada transaksional, inilah yang dinamakan ”traitor in the fight” Oleh sebab itu dua mahasiswa yang melakukan pemerasan terhadap ketua DPR RI wajar diberi gelar Pengkhianat Gerakan Mahasiswa (PGM).

Penulis : Abubakar. H. Muhtar.
Mahasiswa Pascasarjana UNAS : Ilmu Politik
Staf Komisi Pemuda Dan Mahasiswa : PB HMI MPO

 

editor: Fendi Tulusa