mtr lpgHampir semua mahasiswa dari Universitas atau Perguruan Tinggi manapun berwacana hal-hal berbau perubahan, kesejahteraan masyarakat, intelektualitas, modalitas, idealitas dan bahkan  merambah  ke menyoal bagaimana peran  negara melayani warga. Kondisi ini patut disyukuri dan diapresiasi karena dapat menjadi standar acuan pergerakan mahasiswa ke depan.

Namun, berbeda dari hal di atas, ada sisi  krusial  lain  yang justru telah lama menabrak  posisi tawar ribuan mahasiswa dulu dan hari ini di mata publik. Seperti ungkapan pepatah  lama  “kata-kata Anda tidak akan terdengar, karena sikap Anda berisik.” Maksudnya, sikap-sikap yang dipertontonkan mahasiwa lebih intens dalam  menjauhkan kepercayaan masyarakat dari i’tikad baik wacananya. Mulai dari persoalan turun berdemo  karena dibayar, aksi-aksi rusuh, kasus seks bebas, narkoba, miras, prostitusi terselubung, curanmor, dan bentuk tindak amoral lain yang dominasinya di aktori oknum mahasiswa.

Mahasiswa sibuk berwacana tentang nasib masyarakat, tapi, dia sendiri lupa dengan kualitas pribadinya. Padahal dia adalah bagian masyarakat tadi. Mahasiswa seharusnya tidak seperti lilin yang menyinari sekitarnya tetapi dirinya sendiri terbakar. Karena pada akhirnya mahasiswa akan menjadi dianggap PHP (pemberi harapan palsu) oleh masyarakat.

Mahasiswa yang digadang-gadang sebagai agen perubahan (agent of change) Sudah saatnya memaknai bahwa perjuangan adalah merealisasikan kata-kata. Jangan hanya pandai untuk merangkai cita-cita, menyuarakan wacana, tetapi kepandaiannya tidak pernah lebih mengagumkan daripada kemampuannya untuk menunda, menunda realisasinya.

Lantas bagaimana seharunya mahasiswa menata perubahan ? tentunya perbaiki konsep hidup Anda lebih dahulu! berikut caranya:

Pertama, berdirilah di atas kesempatan bukan alasan. Sadarkah bahwa dia yang selalu menunda, selalu lebih kreatif daripada orang yang melaksanakan, bukankah dia selalu menemukan alasan baru atau memberikan kekuatan baru kepada alasan-alasan lama tentang mengapa dia tidak melakukan hal-hal yang menaikkan kelas pribadinya?

Lalu mengapa kita mempercayakan sikap-sikap pribadi kita kepada diri yang kreatifitasnya digunakan untuk membenarkan tidak adanya tindakan? dan diri itu adalah kita, Anda. Ingat, musuhmu adalah alasanmu dan kawanmu adalah peluangmu. Jadi kapanpun Anda mendengar suatu kegiatan yang sekiranya itu baik dan menguntungkan bagi cita-cita Anda, hadirilalah. Jika Anda punya alasan, bunuhlah alasan Anda itu tadi karena sesungguhnya alasan itu adalah rayap-rayap kecil  tapi berdampak besar untuk mengecilkan kesuksesan  Anda.

Kedua, rubah kebiasaan Anda. Manusia adalah makhluk kebiasaan, apa yang menjadi kebiasaannya itulah jadi dirinya nanti. Seorang pulukis, akan menjadi pelukis. Seorang jahat, kebiasaanya menebar kejahatan, akan menjadi penjahat. Seorang  yang berkata bohong, kebiasaannya adalah menebar kebohongan, maka dia akan menjadi pembohong.

Intinya,  kita tidak akan mendapat perubahan apa-apa dari sebuah harapan tetapi kita hanya mendapat apa yang menjadi kebiasaan kita. Rubahlah kebiasaan Anda sekarang, dan selanjutnya biarkan kebiasaan itu yang membimbing langkah Anda menuju perubahan Anda.

Ketiga, harus memiliki batas waktu. Anda tahu bahwa Anda seharusnya harus memulai dan untuk memulai Anda harus  memiliki  batas waktu. Kenapa? Karena bagi dia yang tidak memiliki batas waktu, sama sekali tidak penting baginya untuk memulai. Dan bahkan, dia tidak harus memulai sama sekali karena tidak akan ada yang membuat dirinya terlambat. Sehingga dia mengizinkan dirinya menua tanpa adanya perubahan.

Maka tentukan dari sekarang batas waktu bagi perubahan yang Anda inginkan. Dan biarkan diri Anda menjadi mahasiswa yang aktif, kreatif, dan progresif.

Keempat, cara terbaik untuk memulai adalah memulai. Setelah semuanya kita target dengan waktu, maka mulailah bekerja membangun hidup seindah cita-cita. Langkah pertama adalah bagian terpenting dari sebuah perjalalanan.

Tanpa langkah pertama tidak akan ada perjalanan menuju perubahan. Selanjutnya, isilah dengan kebiasaan yang mengantarkannya mendekat kepada harapan tadi. Dan setelah itu  ingat ini, batas waktu tidak dibuat karena kita harus selesai, tetapi batas waktu dibuat karena kita harus memulai. Jika kita membatasi kebiasaan baik  yang  bisa kita lakukan maka itu berarti kita membatasi besaran yang dapat kita capai.

Kelima, fahami bahwa waktu yang tepat tidak pernah ada. Banyak sekali penulis jumpai mahasiswa yang perubahannya ia serahkan kepada ‘menunggu waktu yang tepat’. Dan ini perkara yang harus diluruskan.

Jika Anda sebagai mahasiswa hanya memulai jika ada waktu tepat. Maka renungkan, bahwa menunggu waktu yang tepat untuk memulai sesuatu yang telah lama diharapkan bisa menjadi  sebuah pemborosan waktu. Karena waktu yang tepat tidak akan datang.

Ketepatan pilihan tindakan  dan kesungguhann dalam bertindaklah yang menjadikan waktu apapun disebuat waktu yang tepat. Jika Anda memulai dan Anda  berhasil maka dengan sendirinya keberhasilan Andalah yang membuat sebuah pilihan waktu untuk memulai disebut waktu yang tepat. Artinya berhasillah lebih dahulu maka itulah waktu tepat yang Anda tunggu, dan tidak ada keberhasilan yang tidak didahului oleh kata ‘memulai’.

Insya Allah, Jika kita sudah menerapkan konsep di atas, dengan sendirinya kita akan menjadi perubah besar bagi diri kita dan masyarakat kita. Amin.

Syamsul Bachry, Presiden BEM STIT Agus Salim Metro-Lampung
HMI Cabang Metro