kamparHMINEWS.Com – Empat mahasiswa Kampar melakukan aksi jahit mulut dari Kampar ke Jakarta. Mereka mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Mabes Polri, DPR RI dan juga ingin bertemu dengan Presiden Joko Widodo.

Kelimanya berangkat pada hari Selasa (28/10) dan tiba di Jakarta pada Kamis (30/10) malam. Keempat pelaku aksi jahit mulut ditemani beberapa orang lainnya dengan koordinator umum Muhammad Rafi. Sebagian dari warga Kampar tersebut merupakan aktivis HMI MPO Pekanbaru, tempat mereka menimba ilmu saat ini.

Pemicu aksi tersebut, kata mereka, adalah kekecewaan terhadap aparat penegak hukum di Riau, khususnya yang terakhir adalah kasus penghentian penyidikan terhadap Eva Yuliana, istri Bupati Kampar Jefry Noer yang diduga menganiaya seorang warga, Nur Asmi.

“Kami menuntut agar KPK mengsut tuntas korupsi alih fungsi hutan di Kampar yang dilakukan Bupati Kampar. Kepada polisi, kami menuntut agar SP3 istri Bupati Kampar harus ditinjau ulang,” kata Rafi, Jumat (31/10/2014).

Keempat pelaku aksi jahit mulut adalah Rahmat Yani (warga Kampar Timur), Indra (warga Rumbio Jaya), Ansor (warga Kecamatan Salo), dan Dabson (warga Tapon). Keempatnya sama-sama kuliah di Pekanbaru, yaitu di kampus UIN Susqa dan Universitas Islam Riau.

Di KPK mereka membentangkan spanduk putih yang mereka bawa dan bertuliskan cat merah: “Aksi Jahit Mulut GERAK. KPK : utus tuntas P4S, Jalan-jalan ke Eropa. Kapolri : pertanyakan SP3 Eva Yuliana. Jokowi-JK. : Perhatikan Negeri Serakah di Serambi Mekkah!!! Gerakan Rakyat Kampar”