tru or falseManusia tidak selalu benar. Salah satu orang yang pernah menunjukkan hal itu adalah Socrates, dan dia dipaksa minum racun di hadapan sahabat-sahabatnya. Biadab? Tidak terlalu. Bahkan di zaman sekarang pun, saat orang-orang membuktikan bahwa kita salah (terutama di depan umum) kita akan melawan sekuat tenaga, menggunakan segala jenis referensi dan permainan kata, sambil berharap dapat meminumkan racun atau menyulut bensin pada orang itu. Mengapa begitu?

Mengapa kita begitu alergi saat ditunjukkan dimana kesalahan kita? Mengapa kita begitu susah menerima kritik, meskipun semua guru dan motivator di televisi mengajarkan kita untuk mendengarkan kritik dengan lapang dada dan hati yang senang? Mengapa kita begitu gusar saat orang-orang berpikir bahwa kita tidak secerdas itu?

Ini karena manusia hanya memiliki akal. Manusia, tidak diragukan lagi, jauh lebih lemah daripada binatang dalam hal kemampuan fisik dan kecepatan serta ketajaman indra. Satu-satunya yang bisa kita banggakan, atau ‘sombongkan,’ hanyalah akal. Sesuatu yang memampukan kita melebihi makhluk lain dalam segala kelemahan kita itu. Dan kritik, serta ditunjukkan bahwa kita salah, membuktikan bahwa kita tidak menggunakan dengan maksimal akal yang kita miliki.

Bahwa kita tidak punya apa-apa lagi yang bisa kita banggakan, yang membuat kita lebih baik daripada binatang. Itulah sebabnya banyak orang habis-habisan mempertahankan argumennya, membela hasil karyanya, menjustifikasi perilakunya, melakukan segala cara untuk suatu keinginan tersembunyi yang mendasar : kita tidak ingin disamakan dengan binatang. Padahal, manusia punya jutaan kesalahan berpikir. Mulai dari hal yang paling sederhana (seperti mendorong sekuat tenaga pintu yang ada tulisannya ‘tarik’) sampai hal yang rumit seperti membuat kebijakan negara yang berdampak buruk dalam jangka panjang hanya karena hati sedang gembira saat rapat penentuan kebijakan.

Daniel Kahneman, dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menyebutkan bahwa manusia cenderung melakukan substitusi, yaitu menjawab pertanyaan yang sulit dengan mengganti pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan yang jawabannya mudah. Sebagai contoh, saat ditanya apakah seorang calon presiden dapat berhasil atau tidak, hal terbaik yang harus dilakukan adalah memeriksa track record secara objektif dan menganalisis strategi kampanye dan rancangan kebijakan, serta berbagai kerjaan teknis lainnya. Akan tetapi, kita cenderung tidak melakukan hal-hal tersebut, dan cenderung menjawab berdasarkan “apa saja yang pernah aku baca di internet mengenai calon presiden
ini?” sampai “apakah dia kelihatan cukup berwibawa untuk menjadi presiden?”

Manusia, yang katanya punya kemampuan akal yang tidak tertandingi, tidak bisa membedakan pertanyaan antara “bagaimana track record calon?” dengan “apakah dia kelihatan berwibawa?”, dan kita masih bisa sombong membicarakan hal-hal rumit di depan umum tanpa berpikir terlebih dahulu? Tidakkah kita terlalu sering merendahkan diri kita sendiri, dengan berbicara dan bertindak tanpa berpikir dengan baik? Bukankah kita sendiri yang memilih untuk tidak menggunakan akal dengan benar, satu-satunya kualitas yang kita miliki itu? Bukankah hal yang bijaksana untuk sesekali menerima kesalahan sistematika berpikir kita, dan mempertimbangkan kritik dari orang lain?

Dan saat seseorang berkata ‘anda tidak selalu benar’, kita masih berharap dapat meminumkan racun pada orang tersebut. Yang benar saja! Harap diingat, penulis pun tidak selalu benar.

“Our comforting conviction that the world makes sense rests on a secure foundation: our almost unlimited ability to ignore our ignorance.” Daniel Kahneman.

Mi’rajul Akbar
Kader HMI MPO FPSB UII Jurusan Psikologi 2013