-Mengapa tempat menjadi penting-

Ini menariknya mengamati perubahan cara pandang paruh abad 21 dimana pengalaman orang tentang ruang (dan kemudian antropologi, entologi, sosiologi, geografi) sedang mengalami perubahan besar.

Konsep ruang yang dulunya termatrakan dalam dimensi tiga, kasat, dan berbatas kini berkembang seperti balon yang ditiup. Apa yang disebut dengan ruang tidak lagi statis karena justru di dalam ruang tadi terjadi perubahan-perubahan persepsi, konsepsi, dan imajinasi manusia tentang dirinya sendiri.

Ruang adalah sesuatu yang terus-menerus persepsikan, dikonsepsikan, dan diimajinasikan sehingga sinyalemen bahwa ruang seperti pasar, market dalam pemahaman Marxian sebagai sesuatu yang determinan (pasar adalah segalanya) adalah pernyataan absurd dan bohong.

Sebab ruang itu dinamis maka persoalan isu ruang tidak lagi dapat diselesaikan secara otonom oleh satu entitas ruang saja. Ambillah contoh isu ‘haze’ asap hasil bakaran hutan di Riau yang menyebabkan berantakannya jadwal penerbangan dan isu kesehatan di Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina, dan Australia. Selain merugikan ratusan trilyun pendapatan negara-negara tadi. Sehingga kini, Singapura memiliki undang-undang untuk menangkap siapapun pembakar hutan yang dapat menyebabkan kerugian negara kota tersebut.

Di sini ruang menjadi sesuatu yang trans-boundary, lintas wilayah administratif dan juga hukum sesuai pemahamannya masing-masing oleh karenanya ia debatable, arguable, dapat dipertentangkan atau dipertemukan.

Pada kasus saksi mandat Novela yang mengatakan dirinya sebagai “orang gunung”. Maka “gunung” di sana adalah statemen tentang ruang. Sebuah proses identifikasi dirinya kepada akar-akar budaya dan asal muasal yang membentuk ruang nasib, nasib sebagai orang gunung.

Soal nasib ini yang kemudian dipersepsikannya terjadi secara umum, masyarakat yang hidup jauh dari kota, melewati hutan, rawa, danau, dan ketinggian untuk mencapainya. Sebuah ruang dimana segala hal mulai dari ekonomi, pembangunan, pendidikan, juga politik serba tertinggal dan terpinggirkan.

Problem ketertinggalan, keterbelakangan, ketimpangan, dan keterjamahan (accesibilitas) yang menjadi masalah atau fakta dari “ruang pinggiran” yang kemudian diterima sebagai takdir identitas. Kepada takdir identitas ini, Novela melakukan perlawanan ruang.

Sehingga pada saat “orang gunung” tadi diucapkan Nona Novela dalam forum sidang terhormat sengketa Pilpres di gedung Mahkamah Konstitusi maka dia berubah menjadi argumen pembelaan. Ruang gunung di sini berubah dari persepsi menjadi konsepsi yaitu bahwa telah terjadi ketidakadilan ruang (spatial injustice) di ruang keadilan (court justice) yaitu MK ketika dirinya disudutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang irrelevan.

Novela kemudian menghadirkan dirinya sebagai korban (bukan lagi saksi) karena ia memiliki pertautan dengan satu ruang bernama “gunung”. Di sini maka ia boleh disalahkah namun ia dengan cerdas membaliknya dengan menunjukkan jika di Papua sana telah terjadi ketidakadilan ruang bagi orang-orang gunung untuk mengaktualisasi hak berpolitik yang setara dengan saudara-saudara mereka di tempat lain di ruang negara Indonesia.

Yang terjadi kemudian adalah penilaian orang terhadap sangkalan Novela yang lugas ini. Benarkah ia orang gunung, jika ia orang gunung mengapa pintar dan kuliah di kota? Jika ia orang gunung kenapa faham soal partai politik dan pernah mencalonkan diri sebagai anggota dewan? Singkatnya “kegunungan” Novela dipertanyakan dan dicoba dinihilkan hanya karena ia taruhlah pernah bersekolah dan tinggal di kota.

Di sini menjadi relevan apa yang ditulis Edward Soja, bahwa kita hidup dalam ketidakadilan ruang yang parah (spatial injustice). Bahkan selamanya orang gunung adalah bodoh dan tertinggal, tidak berhak memperoleh pendidikan, atau ia harus melepaskan kegunungannya karena sudah mendaftar sebagai caleg partai.

Kadang kala ketidakadilan ini kita praktikkan sendiri kepada diri kita yang umumnya orang kota. Misalnya sudah faham Jakarta macet parah dan membunuh modal-modal sosialnya, tetapi tetap saja kaum pintarnya terus memenuhinya dengan mobil-mobil kreditan. Sehingga persoalan gunung, kampung, kota, ndeso tidak lagi jelas batasan-batasannya, alias bergerak dalam trans-boundary ruang yang dinamis.

Yang tidak berubah adalah cara berpikir kita yang ndeso, kata Tukul Arwana.

Andi Hakim