Oleh: Zaenal Abidin Riam

Zaenal ARIndonesia masih menjadikan politik sebagai panglima. Berbagai kebijakan yang lahir dalam tubuh pemerintahan lebih banyak dikalkulasi lewat pertimbangan politik, aspek kehidupan lain masih harus menghamba pada sang tuan bernama politik. Realitas seperti ini kemudian menyebabkan banyak pelaku perubahan memutuskan menceburkan diri ke lautan politik. Mereka telah sampai pada kesimpulan bahwa demi melakukakan perubahan maka politik praktis merupakan ruang yang mesti dimasuki. Kebanyakan dari mereka bergabung dalam partai politik tertentu, mulai dari sekadar simpatisan, staf lapis bawah, hingga menempati posisi kunci dalam partai politik tersebut.

Pada sisi tertentu kehadiran pelaku perubahan dalam tubuh partai politik mendatangkan dampak positif tersendiri. Dengan pengalaman panjang menjunjung idealisme di ranah gerakan ekstra parlementer, mereka pada dasarnya berpeluang membangun budaya politik baru dalam tubuh partai politik, dari budaya barter kepentingan menuju budaya politik ideologis. Budaya politik ideologis akan terbangun bila pelaku politik didominasi manusia yang memiliki idealisme yang bisa dipertaruhkan. Mungkin sebagian diantara kita telah sampai pada tingkat kejenuhan tertentu, kejenuhan yang melahirkan ketidakpercayaaan, betapa tidak, banyaknya pelaku perubahan yang terjun ke dunia politik tak terlihat mampu mengubah wajah politik bangsa ini, bahkan beberapa pelaku perubahan yang dulunya menjunjung idealisme kini telah melacurkan idealismenya di altar politik. Tentu persepsi miring semacam ini tidak bisa disalahkan secara total, akan tetapi kita juga harus lebih melek melihat komitmen dari pelaku perubahan yang tetap tegak menjunjung idealismenya dalam ranah politik praktis. Gaungnya memang tidak terlalu menggema, kebobrokan dari para rekan mereka menutupi tampilan budaya politik baru yang berusaha mereka bangun.

Keuntungan lain dari hadirnya pelaku perubahan dalam tubuh parpol adalah munculnya keragaman figur, figur baru ini terlihat berbeda dari figur lama yang dibesarkan dalam budaya politik orde baru. Dalam beberapa aspek mereka memiliki nilai plus dibandingkan figur lama, seharusnya kehadiran figur baru yang lahir dari rahim reformasi mampu mendongkrak kepedulian dan harapan masyarakat terhadap partai politik. Namun kenyataan berkata lain, harapan masyarakat terhadap partai politik tetap begitu-begitu saja, belum terjadi peningkatan kepercayaan yang cukup signifikan. Hal ini berbanding terbalik dengan peningkatan espektasi masyarakat terhadap figur tertentu yang kemunculannya relatif baru dalam dunia politik. Figur ini juga merupakan bagian dari partai politik tertentu, tetapi mengapa partai politik tempat ia bernaung tidak mendapat apresiasi signifikan dari masyarakat?

Jika dianalisa lebih dalam, terjadi semacam keterpecahan subjek atau lebih tepatnya keterpecahan pandangan dalam diri masyarakat saat memandang figur dan partainya. Figur dan partai politik dianggap sebagai dua hal berbeda, kebaikan figur tertentu tidak otomatis dipandang sebagai kebaikan partai politik pula. Jadi jangan heran ketika ada tokoh yang memiliki elektabilitas cukup tinggi namun elektabilitas partainya tetap datar datar saja, kelebihan yang hadir dari figur tersebut tidak dianggap sebagai hasil kerja mesin politik parpol, terlebih bila masyarakat terlanjur meyakini bahwa karakter sosok bersangkutan telah terlebih dahulu terbentuk sebelum digandeng oleh partai politik tertentu.

Kedepan partai politik masih harus bekerja ekstra guna memikat kepercayaan masyarakat. Aspek lain yang juga perlu dikritisi dari parpol adalah persoalan kaderisasi, ada banyak partai politik yang tidak matang secara kaderisasi internal partai. Hal ini terbukti dengan metode jalan pintas yang mereka tempuh saat pencalonan legislatif. Kemunculan beberapa artis dan pesohor media secara tiba-tiba menandakan kemiskinan kaderisasi dalam tubuh partai tersebut. Betapa tidak, sebagian besar dari mereka merupakan sosok tanpa track record yang jelas, lebih parahnya lagi beberapa dari mereka memiliki catatan hitam masa lalu. Sepertinya partai politik lebih percaya terhadap orang luar dengan modal popularitas belaka dibandingkan kadernya yang sudah lama berkeringat untuk partai. Dalam realitasnya cara ini tidak sepenuhnya ampuh mendongkrak suara partai, justru sebaliknya kepercayaan masyarakat terhadap partai bersangkutan bisa semakin menurun, terlebih bila masyarakat mengenali jejak kelam si caleg yang dimunculkan secara instan oleh parpol. Masyarakat kita memang belum cukup rasional dalam memilih namun mereka juga tidak terlalu bodoh untuk dikibuli.

Ketu HMI Badko Sulambanusa