Buku yang disusun berdasarkan riset mendalam dari London Anarchist Group membuka pencerahan-pencerahan baru terhadap model anarkisme modern yang saat ini sedang menghantui kota-kota besar di seluruh dunia. Gerakan Blac Block, Direct Action Network dan gerakan-gerakan lainnya menjadi salah satu varian anarkisme yang menolak sistem kapitalisme global. Esai-esai dalam kumpulan ini yang di edit oleh John Moore menduduki tempat istimewa dalam anarkisme.

Ia pernah menggambarkan karyanya sebagai ‘spekulasi anarkis’, perihal kekuasaan, epistemologi, dan ontologi, agar bisa dipertimbangkan, disempurnakan, direvisi dan ditindaklanjuti oleh orang lain, dan bukan sebagai kebenaran absolut yang harus dianut. Spekulasi-spekulasinya tidak hanya menampik klasifikasi intelektual gampangan dalam pemikiran libertarian itu sendiri, melainkan juga kerap menantang modus-modus ekspresi politik yang ada.

Disatu sisi, posisi ini menghasilkan serangkaian publikasi inovatif yang berusaha mengkaji ulang asumsi-asumsi intelektual filsafat pencerahan, modernisme, pemikiran antiotoritarian lainnya, dan anarkisme pada khsusunya. Disisi lain, karya John Moore mengajukan gugatan tentang kemungkinan-kemungkinan estetika liberatarian dan perlunya konsistensi dan bentuk filsafat revolusioner.

Karya Nieztsche itu sendiri rumit dan kontradiktif. Selama ini, Nietzche dibajak oleh Fasisme Jerman pada tahun 1940-an dan saat ini sedang diperbincangkan lagi di seminar-seminar agama liberal. Nietzche belum banyak dibaca sebagai alasan manusia memberontak terhadap pemerintahan. Dibandingkan Nietzche, Freud lebih menarik bagi kalangan intelektual. Dalam buku yang setebal 167 halaman ini, para penulis mencoba untuk menarik filasafat Nietzche ke dalam tataran anarkisme sebagai gerakan politik.

Ditengah hiruk pikuk wacana post-modernisme, post-kolonialisme, sosial-demokrat, kiri-nasionalis, dan sebagainya. Buku ini hadir untuk mengingatkan kembali bahwa Anarkisme belum tamat. Walaupun dihantam oleh kekuatan sosialis-komunis saat sidang internationale di Den Haag tahun 1872, semangat yang ditularkan oleh Bakunin, Kropotkin masih dirasakan hingga ke sudut-sudut kota New York, bahkan Jakarta dengan komunitas punk yang mengakar.