Target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014menurut APBN (ditetapkan Oktober 2013) adalah 6%. Menkeu beberapa hari lalu mengatakan bahwa pemerintah akan merevisi target itu menjadi 5,5%, akan dituangkan dalam RAPBN-P 2014 yang rencananya diajukan ke DPR pada 20 Mei 2014.

Bank Indonesia mengeluarkan prakiraan pada Maret 2014 (dalam Laporan Perekonomian Indonesia 2013), di kisaran 5,5%-5,9%. BI merevisinya pada awal bulan Mei ini (dalam Laporan Kebijakan Moneter triwulan I-2014) menjadi 5,1-5,5%.

Bank Dunia mengeluarkan angka 5,3% dalam proyeksi Indonesia Economic Quarterly (IEQ) edisi bulan Desember 2013. Angka itu tetap dipertahankan dalam Maret 2014.

Sementara itu, publikasi BPS awal Mei melaporkan bahwa Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2014 dibandingkan triwulan IV-2013 adalah sebesar 0,95 % (q-on-q). Sedangkan jika dibandingkan triwulan I-2013 (y-on-y) mengalami pertumbuhan sebesar 5,21 %. Pertumbuhan sebesar 0,95% itu adalah lebih buruk dari kondisi triwulan pertama pada tahun-tahun sebelumnya. Yaitu: 1,44% (2013), 1,59 %(2012), 1,69 %(2011), 2,04% (2010), dan 1,67% (2009). Bahkan lebih buruk dibandingkan dengan triwulan I-2009, yang kemudian mencatatkan pertumbuhan 4,63% setelah setahun diakumulasi.

Maka, ada kemungkinan pertumbuhan ekonomi 2014 berada di bawah angka 5%.

Salah satu masalah, tidak ada sangsi apa pun atas melesetnya target dari otoritas ekonomi. Padahal amat mempengaruhi seluruh perhitungan APBN, dan mustinya Pemerintah dan DPR bertanggung jawab. Asumsi Bank Indonesia yang meleset jauh juga berpengaruh pada antisipasi kebijakan moneter yang tidak tepat.

Pemerintah (dan DPR) dan Bank Indonesia seolah menjadi pengamat ekonomi belaka dalam target atau asumsi pertumbuhan ekonomi. Padahal dampak kesalahan itu amat besar dalam kebijakan ekonomi dan moneter yang mereka ambil.

Awalil Rizky

Ketua II Perhimpunan BMT Indonesia