Isu untuk mendukung koalisi partai Islam terganjal masalah pragmatisme di kubu PPP.

Yogyakarta (22/4) Surya Darma Ali (SDA) melakukan perjanjian koalisi untuk mendukung Prabowo sebagai calon presiden RI di pemilu 2014. Sarat konflik internal, akhirnya dukungan koalisi tersebut dinyatakan tidak sah secara AD/ART partai PPP. Akibat konflik internal berbuntut panjang, Romy sebagai sekretaris jenderal PPP menganggap keputusan sepihak tidak dilakukan dengan melibatkan dirinya. Bukan hanya kader yang gelisah, namun bagi Prabowo keputusan untuk meminang PPP bisa berdampak buruk. Suara terpecah.

Bagaimana mungkin sebuah partai terlihat solid saat pemilu calon legislatif lalu menjadi cerai berai ketika menghadapi pemilu presiden. Ini membuktikan bahwa wacana untuk menyatukan partai politik Islam tampaknya sulit dilakukan, mengingat kondisi internal di dalam partai Islam ternyata belum kuat. Adanya dualisme kepemimpinan yang melanda PPP mungkin akan disusul partai Islam lainnya. Potensi konflik juga terlihat di dalam kubu internal PKB pro Rhoma dan kubu PKB yang ingin berkoalisi menjagokan calon presiden lainnya. Partai yang dirasa masih solid adalah PKS, dengan calon tunggal Anis Matta, gejolak di dalam partai pun hampir tidak mengemuka ke publik.

Menjadi wajar apabila dalam menghadapi pemilu 2014 nanti, dalam minggu-minggu sebelum pemilihan kader partai Islam di daerah akan menjadi swing voter, atau bahkan justru kecewa dan menjadi golput. Dampak dari kisruhnya kubu PPP tentu memberikan gambaran bahwa partai Islam masih dilanda politik suara, bukan politik gagasan. Mengapa berkoalisi dengan Gerindra jika tidak disetujui kader partai PPP? Itu yang menjadi pertanyaan mendasar yang ditujukan kepada SDA, ini aksi bunuh diri. Jika PPP berharap mendapatkan porsi Menteri Agama dalam kabinet baru Prabowo maka ini merupakan bentuk aksi politik transaksional yang paling dangkal.

Gagasan tentang koalisi partai Islam sekali lagi nampaknya sulit diterapkan di pemilu 2014 ini. Kesepakatan di Cikini hanyalah aksi simbolis dari parpol Islam, semacam silaturahmi biasa. Halal bihalal atau saling bersalaman memberi selamat, nasib parpol Islam tidak seburuk PKPIP misalnya.

Kehadiran Amien Rais di dalam forum Cikini menjadi bukti bahwa era Amien Rais sudah lewat. Saat diberikan kesempatan 15 menit untuk berbicara pun, Amien Rais hanya mengucapkan kata-kata konseptual belaka, “partai Islam punya peran penting bagi umat”. Tidak ada langkah kongkrit untuk menyatukan suara-suara kader ke dalam satu corong. Mungkin benar bahwa di zaman Amien Rais keberadaan poros Partai Islam sangat berhasil, hingga akhirnya mendorong Abdurahman Wahid menduduki posisi Presiden, dan Amien Rais menjadi Ketua MPR setelah reformasi. Hari ini wajah Amien Rais menyiratkan sebuah kemalasan untuk menyatukan kembali parpol Islam seperti yang dulu ia lakukan. Kini era itu sudah lewat.

(BM)