Rusdiyanto*

Waktu itu, di seleruh penjuru dunia umat Islam masih diliputi suasana bahagia memperingati kelahiran manusia teladan sepanjang Masa. Muhammad ibn Abdullah. Di Yogyakarta, Sultan baru saja menyelenggarakan skatenan untuk seluruh masyarakat, ritual budaya tahunan yang dipungkasi dengan Grebek Mulud. Di hitung dari proklamasi kemerdekaan, sampai dengan hari itu Indonesia baru berusia 18 bulan 5 hari, dimana Belanda masih menjadi ancaman yang mengharuskan segenap bangsa Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih.

Dalam suasana jiwa gembira memperingati kelahiran Nabi, sekaligus dalam suasana semangat yang tinggi untuk mempertahankan kemerdekaan, sekelompok mahasiswa Islam mengadakan sebuah pertemuan di Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta. Dalam pertemuan itulah mereka mendeklarasikan bahwa pada hari itu, Rabu pon tanggal 14 Rabiul Awal tahun 1366 H, bertepatan dengan tanggal 5 Februari 1947 M telah berdiri sebuah organisasi mahasiswa yang bernama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Laftan Pane salah seorang pendiri dalam sebuah pidatonya mengatakan bahwa berdirinya organisasi itu adalah “...sebagai alat mengajak mahasiswa-mahasiswa mempelajari, mendalami ajaran Islam agar mereka kelak sebagai calon sarjana, tokoh masyarakat, maupun negarawan, terdapat keseimbangan tugas dunia-akhirat, akal dan kalbu, iman dan ilmu pengetahuan...”. harapan untuk mewujudkan Islam sebagai pedoman hidup yang membawa kebahagiaan dunia-akhirat ini kemudian diabadikan dalam bentuk hymne HMI oleh RM Akbar yang hingga kini masih sering dikumandangkan oleh kader-kader HMI:

“bersyukur dan ikhlas//himpunan mahasiswa Islam//yakin usaha sampai//untuk kemajuan//hidayah dan taufik//bahagia HMI”

“berdoa dan ikrar//menjunjung tinggi syiar Islam//turut Quran dan Hadis//jalan keselamatan//Yaa, Allah berkati//Bahagia HMI”

 

Lazimnya yang dijadikan tujuan organisasi adalah sebuah cita-cita besar yang hendak dicapai, HMI sedari awal juga telah merumuskannya dalam kongres I di Yogyakarta bulan November 1947, yaitu: “Mempertegak dan mengembangkan agama Islam dan Mempertinggi derajat Rakyat dan Negara Republik Indonesia”. Belakangan, tujuan itu mengalami perubahan seiring disepakatinya bahwa HMI adalah organisasi perkaderan dan perjuangan. Sekalipun demikian, komitmen HMI pada Islam dan Indonseia tak pernah berubah, sebagaimana termaktub dalam muqoddimah Anggaran dasar HMI yang berbunyi: “Bismillahirrahmanirrahim. Asyhadu an la Ilaha illallah. Wa ashadu anna Muhamamadan Rasulullah. Sesungguhnya Allah SWT telah mewahyukan Islam sebagai ajaran yang haq dan sempurna untuk mengatur umat manusia supaya berkehidupan sesuai dengan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata kehadirat-Nya. Menurut iradhat Allah swt, kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya ialah paduan harmonis antara aspek duniawi, indivuduil, dan sosial serta iman dan ilmu dalam mencapai kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Berkat rahmat Allah SWT, bangsa Indonesia telah berhasil merebut kemerdekaan dari kaum penjajah, maka umat Islam berkewajiban mengisi kemerdekaan itu dalam wadah Republik Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur yang diridhai Allah SWT”. Hal ini menunjukkan bahwa HMI adalah bagian dari Islam sekaligus bagian dari Indonesia.

Sebagai organisasi yang punya komitmen kuat terhadap Islam, HMI dalam setiap aktivitas perkaderannya selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan selalu berupaya menampilkan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin dengan menjadikan iman (tauhid) sebagai prinsip abadi, ilmu bekal yang haqiqi dan ketulusan amal sebagai kendaraan  menuju ridha Ilahi dengan diiringi kesadaran bahwa HMI hanyalah bagian dari Islam yang tak boleh memonopoli kebenaran Islam. Begitu juga dalam ber-Indonesia, perkaderan HMI adalah wadah untuk saling menghargai, saling menghormati antar sesama anggotanya yang terdiri dari beragam latar belakang budaya, sehingga terwujud sebuah kerukunan dalam keberagaman yang pada akhirnya terwujud sebuah tatanan masyarakat yang diridhai Allah SWT.

Pada hari ini tepat pada hari dan bulan sebagaimana berdirinya, Rabu 14 rabiul awal 1435 H, HMI telah berumur 69 tahun. (1366-1435). Sebuah usia yang jika diibaratkan umur manusia sudah cukup tua. Dalam perjalanan panjang mengarungi lautan sejarah yang penuh gelombang HMI telah menunjukkan komitmennya kepada Islam dan kontribusinya terhadap Indonesia yang tak perlu diragukan. Tetapi sayang banyak kader HMI yang melupakan, temasuk juga kapan dan untuk HMI didirikan, lantaran mereka lebih sibuk berebut kekuasaan dengan alasan sepele “ini kan bagian dari proses perkaderan” katanya,! Kader-kader yang (lupa) seperti inilah yang jika tidak di bina(sakan), kelak akan mengikuti jejak para abang-abangnya yang karena korupsi dan gila kekuasaan oleh KPK ditahan..

Seiring menyambut maulid kanjeng Nabi Muhammad SAW, sebaiknya mari kita rayakan usia ke-69 HMI ini dengan berbanyak sholawatan. Saya kira hal ini bagian dari perkaderan. “Allahummasholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad”..!

Dirgahayu 69 Tahun HMI

Yogyakarta 14 Rabiul awal 1435H



*  Anggota HMI Komisariat Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.