Berbicara tentang isu ekonomi yang mainstream memang tidak bisa dilepaskan dari tema globalisasi wacana ekonomi. Sebagai contoh, MDG (Millennium Development Goals) yang dirancang oleh PBB menjadi acuan bagi Pemerintah dalam mengembangkan sektor perekonomiannya. Di dalam MDG terdapat beberapa poin penting yang bisa dimasukkan ke dalam wacana ekonomi Islam kontemporer. Pertama, kesetaraan gender dan peran wanita dalam pembangunan ekonomi. Kedua, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan memelihara lingkungan hidup. Beberapa poin tersebut belum banyak didiskusikan di dalam wacana ekonomi Islam hari ini.

Pemikir ekonomi Islam masih sibuk menghafal istilah-istilah ekonomi dalam bahasa arab, memperdebatkan riba yang tak berujung, atau sibuk berdiskusi seputar halal-haram-nya suatu produk. Kita harus melihat perkembangan wacana ekonomi dunia yang makin kompleks, sedangkan wacana ekonomi Islam masih tertinggal di belakang. Hal ini sangat mungkin terjadi akibat salah persepsi terhadap kata-kata populer seperti gender yang sering diartikan negatif bagi sebagian kalangan aktivis dakwah. Gender sendiri sebenarnya merupakan wacana yang menarik untuk dikaji, bukan sekedar dari sudut fiqhnya, tapi dari sudut ekonominya. Bahkan Umar bin Khathab yang dikenal pernah (sebelum Islam) mengubur anak perempuannya sendiri menyatakan: “Kami semula sama sekali tidak menganggap (terhormat, penting) kaum perempuan. Ketika Islam datang dan Tuhan menyebut mereka, kami baru menyadari bahwa ternyata mereka juga rnemiliki hak-hak mereka atas kami.” Hak tersebut salah satunya adalah hak untuk mencari pekerjaan dan hak untuk mengelola harta dengan cara yang syar’i.

Pembahasan gender dapat mengarah pada pemberdayaan perempuan yang berhasil dilakukan oleh Gramen Bank di Bangladesh dengan memberikan kredit usaha bagi kaum hawa. Dengan kredit usaha tersebut, perempuan yang memegang peranan penting di dalam rumah tangga sebagai pengatur arus keuangan keluarga menjadi lebih produktif. Gramen Bank berhasil menjawab hal tersebut dengan menggabungkan antara konsep micro-finance dan kajian gender. Hasilnya adalah pemberdayaan wanita di dalam perekonomian Bangladesh yang sebelumnya dianggap hal sepele.

Jika hal tersebut dipraktikan di Indonesia maka menjadi sangat mungkin, ibu rumah tangga yang memiliki usaha dapat lebih berkembang, karena dibantu kredit lunak oleh industri perbankan. Beberapa ibu rumah tangga di Kulonprogo misalnya, memiliki usaha kerajinan gerabah, dan anyaman bambu. Namun karena kurangnya modal dan pengetahuan tentang pemasaran, maka hasil usaha tersebut hanya dijadikan pendapatan sampingan. Pemerintah melalui bank konvensional memang menawarkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) dengan bunga yang rendah, namun hal tersebut terasa belum cukup mengena pada kaum perempuan. Ekonomi Islam melalui lembaga keuangan syariah, seperti bank syariah atau BMT dapat mengisi ruang kosong tersebut dengan sistem bagi hasil (mudharabah) untuk memberi suntikan modal, dan jual-beli (murabahah) untuk membantu membeli alat-alat produksi yang dibutuhkan.

Dalam wacana lingkungan hidup, ekonomi Islam pun dapat bermain dengan dasar bahwa ajaran Islam tidak pernah mengorbankan kelestarian lingkungan dalam menjalankan perekonomian ummatnya. Manusia sebagai pelaku ekonomi juga dituntut untuk bertanggung jawab dalam memelihara dan menjaga alam sekitarnya, yang juga diiringi dengan ganjaran dan hukuman. Pada posisi ini, manusia dituntut memperlakukan lingkungan sekitarnya (Q.S. al-An‘am [6]: 165), apakah ia akan menjalankan tugasnya sesuai aturan Tuhan atau malah merusak. Apabila suatu golongan atau kaum berbuat kerusakan di bumi, bisa jadi tugas melestarikan lingkungan ini akan dilimpahkan ke generasi yang lain (Q.S. al-A‘raf [7]: 69 dan 74). Dengan dasar tersebut banyak tugas yang dapat di lakukan, sebagai contoh lembaga keuangan syariah mendorong bisnis-bisnis yang berorientasi pada kelestarian lingkungan, seperti usaha plastik degradable, properti ramah lingkungan, energi terbarukan (renewable energy—solar cell, biomass, geothermal) dan bisnis lainnya.

Dengan memperluas cakupan ekonomi Islam kedalam dua wacana populer tersebut diharapkan ekonomi Islam akan mengalami perkembangan yang lebih baik, terutama dalam hal branding kepada masyarakat awam yang belum memahami manfaat ekonomi Islam yang ada saat ini dengan bahasa yang lebih populer.