Setiap tanggal 21 april masyarakat indonesia akan mengenal dan mengenang sesosok pejuang wanita, yaitu RA kartini, karena tanggal 21 April merupakan tanggal dimana RA Kartini di lahirkan.

Beliau dikenal sebagai pelopor emansipasi kaum wanita, dikenang karena memperjuangkan wanita agar mendapatkan hak yang sama dengan kaum pria. Namun menurut saya,seharusnya tidak hanya RA kartini yang hanya patut kita kenang di negeri ini sebagai pejuang dari kaum wanita. Sebelum kartini sudah ada pejuang-pejuang kaum wanita yang lebih semangat berjuang melawan penjajah. Kita sebut saja Cut Nyak Dhien. Cut Nyak Dhien adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh.

Cut Nyak Dhien lahir di Lampadang Provinsi Aceh tahun 1850 dan wafat dalam pengasingan di Sumedang Jawa Barat 6 November 1908. Cut Nyak Dhien menikah pada usia 12 tahun dengan Teuku Cik Ibrahim Lamnga. Namun pada suatu pertempuran di Gletarum,Juni 1878, sang suami Teuku Ibrahim gugur. Kemudian Cut Nyak Dien bersumpah hanya akan Menerima pinangan dari laki-laki yang bersedia membantu Untuk menuntut balas kematian Teuku Ibrahim.

Cut Nyak Dhien akhirnya menikah kembali dengan Teuku Umar tahun 1880 juga seorang pejuang Aceh yang sangat disegani Belanda. Sejak menikah dengan Teuku Umar, tekad perjuangan Cut Nyak Dhien makin besar.
Cut Nyak dien akhirnya wafat di pengasingan. Ia tetap dikenang rakyat Indonesia sebagai pejuang yang berhati baja sekaligus ibu dari rakyat Aceh. Pemerintah RI menganugerahi gelar pahlawan kemerdekaan nasional berdasarkan SK Presiden RI No 106/1964. Namun tidak pernah di rayakan.

Ada lagi Cut Nyak Meutia adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.

Ceritanya Awalnya Tjoet Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong. Namun pada bulan Maret 1905, Tjik Tunong berhasil ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, Teuku Tjik Tunong berpesan kepada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.

Tjoet Meutia kemudian menikah dengan Pang Nagroe sesuai wasiat suaminya dan bergabung dengan pasukan lainnya dibawah pimpinan Teuku Muda Gantoe. Pada suatu pertempuran dengan Korps Marechausée di Paya Cicem, Tjoet Meutia dan para wanita melarikan diri ke dalam hutan. Pang Nagroe sendiri terus melakukan perlawanan hingga akhirnya tewas pada tanggal 26 September 1910.

Tjoet Meutia kemudian bangkit dan terus melakukan perlawanan bersama sisa-sisa pasukkannya. Ia menyerang dan merampas pos-pos kolonial sambil bergerak menuju Gayo melewati hutan belantara. Namun pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjoet Meutia bersama pasukkannya bentrok dengan Marechausée di Alue Kurieng. Dalam pertempuran itu Tjoet Njak Meutia gugur.

Perjuangan nyak meutia memang lebih besar dan lebih keras dari RA kartini,tapi jarang rakyat indonesia mau memperingati. Perjuangannya.

Ada lagi raden dewi kartika, beliau (lahir di Bandung, 4 Desember 1884 – meninggal di Tasikmalaya, 11 September 1947 pada umur 62 tahun) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita, diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia tahun 1966.

Masih banyak lagi pejuang-pejuang wanita di tanah air ini yang memilki kontribusi besar terhadap perlawanannya kepada kaum penjajah dan kemajuan bangsa ini.

Saya bukanlah menolak di rayakannya hari RA kartini,tapi seharunya bukan RA Kartini saja yang hanya di kenang sebagai pahlawan wanita.

Pejuang-pejuang wanita selain RA kartini juga harus di perhatikan tidak hanya di nobatkan sebagai pahlawan nasional,namun pemerintah beserta rakyat juga harus mengenang beliau-beliau sebagai pejuang bangsa.

Oleh:Moh.hairus zaman
Ketua Bidang PTKP HMI Cabang Bangkalan