World Economic Forum yang diselenggarakan di kota Davos, Swiss pada tanggal 25-29 Januari 2012, memberikan beberapa gambaran tentang prediksi ekonomi dan politik di tahun ini. Forum ini menjadi ajang pembahasan pemulihan ekonomi eropa yang sedang mengalami krisis defisit anggaran serta membahas ketegangan hubungan Iran-Amerika yang kembali memanas. Hasil polling yang dilakukan oleh Price Water House Cooper memberikan gambaran dini bahwa hanya 15% CEO diseluruh dunia yang percaya ekonomi secara makro di dunia akan tumbuh di tahun 2012 ini. Hal ini disebabkan oleh berlarut-larutnya krisis yang melanda di timur tengah dan krisis utang yang melanda Eropa diprediksi belum akan berakhir di tahun ini.

Mencermati kondisi geo-politik saat ini, Iran tidak dapat diremehkan dari segi ekonomi maupun militer, terutama kemajuan perkembangan teknologi militernya beberapa tahun terakhir yang sering menimbulkan kekhawatiran Amerika maupun Eropa. Dari segi ekonomi, Iran yang mendapatkan sanksi embargo dari Amerika sejak tahun 1984 hingga saat ini masih menjadi negara penghasil minyak terbesar ketiga di dunia dengan GDP terbesar di timur tengah setelah Arab Saudi. Iran mampu memproduksi minyak mentah sekitar 3,94 juta barrel per hari dan menempatkan Iran menjadi salah satu penghasil minyak di dunia yang berpengaruh. Selain itu gertakan Iran untuk menutup selat Hormuz menjadi sebuah ancaman dikarenakan sepertiga minyak mentah dunia di angkut melewati selat ini.

“Jika embargo atas minyak Iran diberlakukan atau pergerakan militer mendekati Selat Hormuz, maka harga minyak diperkirakan melambung ke kisaran 150 sampai 160 dolar AS per barel,” kata anggota dewan Korporasi Perminyakan Kuwait Ali al-Hajeri kepada harian Al-Seyassah.

Ancaman pemblokiran selat Hormuz oleh Iran dianggap sebagai potensi ancaman naiknya harga minyak mentah yang secara langsung akan mempengaruhi harga BBM di Indonesia. Dampak kenaikan harga minyak yang terjadi akibat ketegangan ini di Indonesia akan menyebabkan subsidi BBM yang ditanggung APBN naik secara signifikan. Pemerintah memang harus mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia jika Iran melakukan blokade di selat Hormuz. Kenaikan harga minyak mungkin menjadi salah satu penghambat produktivitas ekonomi di Indonesia, tetapi hal ini dapat disiasati dengan berbagai kebijakan yang bisa dilakukan oleh pemerintah, seperti menaikan harga BBM bersubsidi secara bertahap untuk mengendalikan inflasi.

Para pemimpin negara dan menteri keuangan yang hadir di WEF juga menekankan bahwa potensi krisis eropa menjadi salah satu tantangan ekonomi global saat ini. Walaupun IMF berkerjasama dengan Jerman berhasil memberikan bantuan finansial kepada negara-negara yang terkena dampak sistemik krisis di eropa, seperti Yunani, Portugal dan Spanyol namun kondisi ekonomi di Eropa dipastikan tidak akan membaik di tahun 2012 ini. Eropa butuh pemulihan yang cukup lama akibat krisis utang dan krisis kepercayaan terhadap penanganan krisis itu sendiri. Jerman tidak bisa selamanya menjadi penyelamat ketika krisis terjadi. Jerman perlu bekerjasama dengan China untuk memulihkan kepercayaan investor global untuk kembali membeli surat utang negara-negara yang sedang mengalami pemulihan krisis.

Gejolak krisis di Eropa yang disebabkan oleh menumpuknya pinjaman negara yang melebihi GDP membuat pemerintah di negara Eropa yang mengalami krisis memilih paket penghematan anggaran negara dengan memotong gaji pegawai dan tunjangan pensiun rakyatnya. Namun hal ini berakibat pada mosi tidak percaya rakyat terhadap partai politik yang berkuasa dan demonstrasi yang berujung kerusuhan menjadi akibat dari paket penyelamatan tersebut. Dengan akumulasi krisis ekonomi-politik yang melanda Eropa, kemungkinan besar zona euro akan mengalami gunjangan besar dan penghapusan mata uang euro menjadi salah satu opsi yang dikemukakan oleh peraih Nobel ekonomi, Paul Krugmann dalam kolomnya di New York Times.

Penyelamatan keuangan dunia kini tidak lagi bertumpu pada industri-industri besar di Eropa dan Amerika yang sejak tahun 2008 sudah rentan terhadap resiko krisis keuangan. Pergeseran kekuatan ekonomi dunia ke negara-negara Asia, seperti China dan India juga menjadi salah satu skema penyelamatan perekonomian dunia yang sempat dibahas dalam topik “How to Save Capitalism”. Karena negara-negara di Asia menawarkan return investasi yang cukup menjanjikan dengan rating utang yang terus naik karena pemerintah mampu menjaga kondisi politik tetap stabil.

Di tengah berbagai pesimisme yang muncul dalam forum ekonomi dunia tersebut, kini pemerintah dan pelaku bisnis di Indonesia harus menemukan peluang. Jika dianalisis lebih mendalam, ternyata tahun 2012 dapat menjadi sebuah momentum untuk menarik dana-dana investasi global yang berpindah dari negara-negara di Eropa dan Timur Tengah yang secara politik dan ekonomi sedang mengalami guncangan akibat krisis ekonomi-politik. Bukti nyata kesempatan menarik dana global ini dapat dilihat dari naiknya rating utang Indonesia oleh Fitch, dari BB menjadi BBB-. Hal ini membuktikan bahwa masa depan ekonomi Indonesia memiliki prospek pertumbuhan investasi yang cerah. Konsekuensi dari masuknya Indonesia ke dalam investment grade sempat menjadi pembicaraan hangat di antara investor yang sedang mengikuti acara World Economic Forum.

Jika Indonesia mampu melihat potensi adanya capital inflow ke negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi diatas 5%, maka Indonesia mampu mengambil celah di tengah resiko ber-investasi di negara lain dengan return negatif akibat kekacauan politik yang terjadi. Yang diperlukan saat ini adalah pemerintah mampu mempromosikan kepada investor dunia bahwa kondisi perekonomian dan politik di Indonesia cukup kondusif. Hal lain yang perlu dipersiapkan adalah infrastruktur dan regulasi yang mempermudah penanaman modal di Indonesia. Selain itu dari sisi pelaku usaha di dalam negeri perlu melakukan diversifikasi tujuan ekspor selain ke negara-negara di eropa dan Amerika, hal ini untuk mengantisipasi adanya pelemahan daya beli konsumen di negara tersebut. Usaha pemerintah patut mendapatkan apresiasi ketika membuka pameran-pameran usaha dalam negeri di negara-negara yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi negara alternatif tujuan ekspor, seperti di region ASEAN dan Afrika.

Di tahun 2012 ini, Indonesia harus membuktikan diri bahwa ditengah-tengah pesimisme pertumbuhan ekonomi dunia, Indonesia harus mampu tampil percaya diri dalam menembus angka pertumbuhan ekonomi diatas 7%. Selain itu, forum WEF di Davos membawa pesan, bahwa ekonomi dunia yang kini mengalami krisis membutuhkan sebuah mesin industri yang baru dengan fundamental ekonomi dan politik yang cukup kuat. Secara tidak langsung dalam forum ini, para pengamat ekonomi dan pemimpin keuangan dunia melihat bahwa masa depan bukan lagi ditentukan oleh industri-industri besar di Amerika maupun Eropa, tapi ditentukan oleh negara-negara yang sedang tumbuh stabil ditengah-tengah pesimisme pertumbuhan ekonomi global.