“Apabila kita mendefinisikan kemajuan ( Progress ) sebagai meningkatnya taraf kebahagiaan kita maka dengan segera kita tidak akan menemukan apa apa” ( Ariel Durant ) Organisasi sebagai sebuah Society ( masyarakat… ) yang tersusun atas individu individu yang memiliki ikatan ideologis, emosional dan relasi psikologis yangi identik pasti akan mengalami sebuah dinamika pergerakan secara terus menerus, sebagaimana apa yang diujarkan Comte bahwa terbangunnya sebuah komunitas/masyarakat tersusun atas apa yang ia sebut sebagai perangkat Statika Sosial (Statics Social) dan Dinamika Sosial ( Dynamics Social ). Statika Sosial lebih mengarah kepada komponen komunitas yang biasanya telah mendarah daging dalam sebuah komunitas, sehingga cenderung relatif seudah mapan dan stabil, seperti Orientasi, Pola Interaksi, Norma dan Nilai, Pola Sosialisasi, aturan aturan kelembagaan hingga ikatan emosional dan solidaritas antar anggota kelompok. Sedangkan komponen Dinamika Sosila cenderung mengarah kepada unsur pembangun komunitas yang terus berkembang dan bersifat dinamis, seperti cakupan kemajuan, kemunduran dan perubahan sosial yang dialami sebuah komunitas atau masyarakat. Seperti sifat dan hakikatnya Dinamika Sosial dalam sebuah komunitas akan terus mengalami perubahan perubahan entah itu cepat atau lambat dan bergantung pada perputaran arus zaman.
Walaupun Comte telah dengan jelas mendiferensiasikan dua komponen pembangun sebuah komunitas ini, tetapi dalam tataran praksisnya keduanya sulit dibedakan bahkan bisa jadi ada hubungan resiprocity ( timbal balik ) dan saling mempengaruhi. Misalnya ketika individu individu dalam sebuah komunitas mulai menemukan pola komunikasi dan komunikasi yang dirasa lebih cocok dengan mereka maka perlahan lahan pola interaksi dalam komunitas itupun akan mengalami perubahan. Begitupun dengan nilai dan norma yang ada di komunitas itu, meski sesungguhnya nilai cenderung sakral dan telah mapan namun akibat membanjirnya tata nilai dari berbagai penjuru bumi yang kian muda h dijangkau, tata nilai dalam sebuah komunitaspun dapat berangsur angsur berubah dan menjadi sesuatu yang fleksibel dan profan. Kemudian ada Orientasi Sebuah organisasi atau komunitas, ia menjadi ruh yang menentukan arah sebuah organisasi, meski masuk klasifikasi statika sosial yang relatif sudah mapan namun pada realitanya sering dijumpai orientasi organisasi akan mengalami perubahan perubahan mendasar yang diakibatkan banyak faktor, antara lain individu penyusun organisasi, kesepakatan atau konsensus organisasi dan faktor eksternal seperti perubahan tata nilai dalam sebuah masyarakat dimana organisasi itu ada. Orientasi sebagai landasan bergerak sebuah organisasi harus dimengerti benar dan dipegang teguh oleh setiap anggota anggota kelompok atau organisasi itu, ia menjadi begitu penting dalam menentukan kebijakan kebijakan yang akan diambil oleh sebuah organisasi. Sebagaimana telah diungkapkan diatas bahwa sejatinya suatu orientasi ikut juga ditentukan oleh anggota kelompok sosial tersebut, dimana itu menjadi konsensus ( kesepakatan bersama ) yang telah disetujui oleh semua elemen kelompok dan dimanifestasikan dalam sebuah pola organisasi, kebijakan dan tata nilai kelompok.
Namun Orientasi ini tidak selalu berbanding lurus dengan keinginan atau komitmen suatu angggota. Mengutip differensiasi komitmen ala Keith. A Roberts yang membagi komitmnen menjadi tiga tipe: Instrumental Commitment, Affectife Commitment dan Moral Commitment, instrumental komitmen menekankan pada perbandingan logika untung rugi ketika aktif di sebuah kelompok, sedang Affektif komitmen ialah komitmen yang didasarkan atas aspek ikatan emosi antar anggotanya dan Moral Commitment ialah komitmen yang didasarkan atas visi, nilai dan ideologi yang diperjuangkan suatu kelompok atau organisasi. Ada semacam Clash, benturan yang terjadi ketika visi dan ideologi kelompok tidak lagi sejalan dengan keadaan yang menyenangkan bagi para anggotanya ( kebahagiaan-red). Dimana sebuah kelompok belum bisa memberikan kondisi ideal bagi para anggotanya sehingga orientasi dan visi para anggotanya kian kabur dan tak terarah. Tentu ini sangat berbahaya bila terjadi dalam sebuah kelompok sosial, akan ada disintergrasi dan disorientasi yang terjadi pada angggota kelompok. Hal ini tentu akan menyebabkan kemunduran nyata bagi cita cita yang diperjuangakan sebuah kelompok sosial. Meminjam pernyataan Ariel Durant bahwa ketika kita menjadikan kebahagiaan sebagai tolak ukur kemajuan sebuah kelompok maka sejatinya kita tidak akan menemukan apapun, tentu pernyataan ini harus dicermati dengan sikap kritis dan jernih. Maka sebuah kelompok sosial entah itu komunitas, organisasi atau apapun namanya akan mengalami degradasi dan dekadensi eksistensi dan kontribusinya ketika hanya mengagungkan kebahagiaan kelompok tanpa ada loyalitas terhadap nilai dan cita cita yang diperjuangkan. Tentu perlu kita evaluasi bersama apakah motivasi dan tujuan dasar keaktifan kita disebuah organisasi ? ?? tentu tanda tanya ini hanya bisa dijawab oleh kejernihan hati dan pikiran serta refleksi diri yang mendalam bagi diri kita semua M.Zaki Arrobi The Keep Spirit and The Spirit Keeper
Zaki Arrobi
Mantan Sekjend Dema Fisipol UGM