HMINEWS.COM

 Breaking News

Omong Kosong Revolusi!

April 07
11:18 2014

Buruh tidak lagi menuntut kepemilikan pabrik. Revolusi hanya ada di lembar-lembar propaganda serikat buruh. Pengusaha melihat buruh hanya butuh kenaikan upah. Cabut outsourcing, bukan usir pemodal asing. Semua serba tuntutan ekonomis. Inikah akhir dari gerakan buruh di Indonesia?

Begitu juga aktivis mulai melembek, aksi dijadikan parade kostum, revolusi jadi bahan diskusi genit biar dibilang “radikal”, membela buruh tapi mengharap mendapat jatah uang lelah. Aktivis dijadikan profesi, kerja di LSM sekedar gengsi karena tidak diterima di korporasi. Betul kata Manifesto Tikus Merah, “orang-orang kiri kongkalikong dengan cukong. Intelektual kiri sibuk masturbasi di subuh hari”. Inikah akhir dari omong kosong Revolusi?

Mari kita lihat sebentar tentang sejarah dan arah gerakan buruh serta intelektual kiri di Indonesia dan kaitannya dengan perubahan ideologi Marxisme sebagai ideologi resmi perjuangan buruh dunia. Awal mula pergerakan buruh sebenarnya sudah dimulai jauh dari masuknya kaum elit Belanda yang bergabung di ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging) ke dalam serikat buruh kereta api di Semarang. Dalam beberapa bukti sejarah dikatakan bahwa Raden Mas Marco Kartodikromo sebagai priyayi jalanan yang pertama kali memperkenalkan radikalisasi massa di Jawa dengan slogan “sama rata, sama rasa” di tahun 1917 dalam harian Pancaran Warta dan buku Student Hidjo mendapatkan respon yang baik dari rakyat miskin Jawa pada saat itu.

Propaganda yang konsisten dilakukan oleh Mas Marco membuahkan hasil dengan meletusnya peristiwa Afdeeling B di Garut tahun 1926. Namun karena pemberontakan tersebut gagal, Mas Marco ditangkap dan kemudian dibuang ke Boven Digoel. Dalam buku Student Hidjo, Mas Marco hanya menjelaskan persoalan keberpihakan kepada rakyat miskin dan kritik terhadap penjajah, belum mengarah pada sosialisme ilmiah seperti yang diajarkan Karl Marx. Perubahan dalam gagasan gerakan buruh dari sosialisme utopis menuju sosialisme ilmiah diteruskan oleh Semaun maupun Tan Malaka.

Semaun pada waktu itu menjabat ketua Sarekat Islam Semarang, Semaun sangat dekat dengan serikat-serikat buruh, ia kemudian banyak terlibat dengan pemogokan buruh. Pemogokan terbesar dan sangat berhasil di awal tahun 1918 dilancarkan 300 pekerja industri furnitur. Dari hasil pemogokan-pemogokan massal tersebut menjadi jelas bahwa tuntutannya bukan sekedar tuntutan ekonomi, melampui protes kenaikan upah dan uang makan, Semaun beserta kaum Merah di tubuh Sarekat Islam menghendaki berdirinya negara Komunis Indonesia. Hasil yang diharapkan dari pemogokan disertai ideologisasi Sosialisme kemudian menyebabkan pabrik Belanda tutup, lalu kas penjajah akan habis menutupi kerugian pabrik tersebut, dari akumulasi kerugian kapital tersebut, pabrik akan ditinggalkan sehingga dapat dikuasai oleh buruh. Pertentangan antara pemilik kapital yang diwakili Belanda akan berakhir dengan kemenangan raya buruh Indonesia.

Perkembangan gerakan buruh jelas memiliki kaitan erat dengan penyebaran ideologi Marxisme dan perkembangan setelahnya. Marxisme pada awalnya menyerahkan tugas besar revolusi kepada kaum buruh. Pemogokan massal, penutupan pabrik, hingga penculikan pemilik pabrik sebagai ide dasar dari gerakan Marxisme. Namun seiring berjalannya waktu, terdapat beberapa varian gerakan Marxisme yang menarik untuk diamati. Bermula pada perbedaan jalan Marxisme antara Eduard Bernstein yang menganggap bahwa prediksi Karl Marx salah terhadap masa depan kaum buruh dengan Rossa Luxemburg yang menganggap bahwa revolusi tidak dapat dihindari.

Dalam bukunya Die Voraussetzungen des Sozialismus (1899), Eduard Bernstein mengatakan bahwa buruh tidak seperti yang diprediksi Marx dalam Manifesto Partai Komunis (1848) dimana buruh menurut teori materialisme dialektika akan memimpin peradaban akhir manusia. Eduard Bernstein beranggapan bahwa di masa kapitalisme berkuasa, kaum buruh dan borjuis akan hidup berdampingan dengan damai dalam sebuah konsensus. Perjuangan buruh seharusnya bersifat ekonomis seperti kenaikan upah, uang makan, tersedianya jaminan sosial, asuransi kesehatan, dan uang pensiun yang layak.

Pemikiran Eduard Bernstein ini kemudian di cap sebagai aliran Revisionisme (merevisi kembali ajaran Marx). Rossa Luxemburg dan kelompok anarkis yang dipimpin oleh Mikhail Bakunin membantah tesis dari Bernstein tersebut dan mengecap Revisionis sebagai penghianatan terhadap perjuangan kelas. Namun  faktanya, serikat buruh di Indonesia saat ini terjebak pada gerakan ekonomisme, gerakan pragmatis. Revolusi berhasil sejauh tuntutan UMP (Upah Minimum Provinsi) dinaikkan 40% menjadi 2.2 jt, UU BPJS disahkan, dan outsourcing dihapuskan. Selebihnya buruh enggan untuk belajar dari kesepakatan awal bahwa buruh adalah masa depan peradaban dunia. Kini buruh dan intelektual kiri malas berkomentar soal revolusi, karena promosi paket murah Blackberry lebih menguntungkan daripada harus berpikir soal gagasan-gagasan berat tentang pemberontakan. Pada akhirnya apa yang diramalkan oleh Eduard Bernstein benar juga, buruh dan pengusaha akan akur karena sama-sama diuntungkan. Diskusi tentang revolusi selesai sampai disini.

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

0 Comments

No Comments Yet!

There are no comments at the moment, do you want to add one?

Write a comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.