Hari pendidikan memang telah lewat dari kalender kita, namun beragam cara untuk memperingati sekaligus memaknainya tidak akan pernah usai sampai kapanpun sebab pendidikan adalah persoalan besar bangsa. Beragam cara memang banyak dilakukan untuk memaknai hari kelahiran bapak pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, mulai dari upacara di sekolah sekolah formal, diskusi di kampus kampus, hingga seminar nasional pendidikan. Namun poin penting yang harus diperhatikan adalah hari pendidikan harus dijadikan momentum untuk merefleksikan dan memproyeksikan kembali dunia pendidikan kita, mulai dari tingkat paling bawah (SD) hingga tingkat perguruan tinggi. Rangkaian acara untuk memperingati hari pendidikan tidak boleh terjebak dalam formalisme dan ritualisme belaka, melainkan harus momentum untuk merumuskan paradigma baru pendidikan kita kedepan.

Pendidikan seperti di katakan pejuang kemanusiaan asal Brasil Paulo Freire setidaknya harus mampu melakukan dua hal, pertama menjalankan tugasnya untuk memanusiakan kembali manusia (humanisasi) dan kedua membebaskan dari segala keterbelakangan (liberasi). Pernyataan Freire ini sejalan dengan apa yang kita yakini bersama bahwa pendidikan adalah eskalator martabat bangsa yang paling efektif. Namun sayangnya metode pendidikan yang digunakan di sekolah sekolah kita masih menampakkan wajah ‘kolonial’ dibanding unsur pembebasannya, wajah pendidikan kita lebih banyak merepresi siswa, membelenggu kreativitas dan cenderung monolitik. Ruang ruang kelas saat ini belum mampu menghadirkan atmosfer yang kondusif bagi pembelajaran, guru masih menjadi pusat kegiatan pembelajaran dan sumber pengetahuan utama, sementara murid masih juga di anggap serba tidak tahu dan bodoh. Model pengajaran seperti ini belum banyak berubah sejak dahulu, meski berkali kali gonta ganti kurikulum.

Sistem dan model pendidikan di atas tidak layak dipertahankan lagi mengingat kondisi sosiologis siswa yang jauh berbeda. Era keterbukaan membuat setiap orang dapat mengakses informasi darimanapun, kapanpun dan tidak terbatas, sumber sumber informasi begitu beragam dan mudah diakses. Siswa saat ini sudah memiliki Stock Of Knowledge yang mereka peroleh dari berbagai sumber informasi. Sehingga dengan kondisi yang demikian tidak mungkin lagi siswa diposisikan hanya sebagai subordinat dan objek dalam sistem dan model pengajaran pendidikan kita, sudah seharusnya siswa diposisikan sebagai Sparing Partner bagi para pendidik, sebagai teman berdiskusi dan berdialog. Siswa harus ditempatkan dalam tata relasi yang lebih seimbang dalam proses pembelajaran, prinsip prinsip egaliterian dan demokrasi harus menjadi unsur penting dalam membangun pola relasi antara pendidik dan terdidik. Dengan pola relasi yang lebih seimbang maka ruang ruang dialog kritis akan terbuka dengan sendirinya, dalam ruang dialog kritis inilah pendidik dan terdidik saling berdialektika, berargumentasi dan merefleksikan realitas kehidupan. Dialog kritis inilah yang akan menyadarkan pendidik dan terididik akan realitas kehidupan mereka, merefleksikan dan memproyeksikan realitas untuk membebaskan dari segenap persoalan kehidupan. Proses pembelajaran ini mengedepankan sikap kritis-reflektif dalam membangun kesadaran untuk melakukan proses humanisasi dan liberasi, tujuan akhir dari pendidikan.

 

Zaki Arrobi

Mantan Sekjend Dema Fisipol UGM