Praktik gadai emas di bank syariah kembali menjadi sorotan Bank Indonesia (BI) beberapa waktu yang lalu. BI sempat menyebarkan pengumuman kepada pelaku industri perbankan syariah yang menghimbau agar gadai emas kembali pada filosofi asalnya. Hal ini dikarenakan produk gadai emas kian mengarah pada praktik spekulasi sehingga BI cemas, gadai emas bukan lagi sebagai pembiayaan untuk nasabah yang sedang terdesak kebutuhan uang tunai melainkan gadai emas dijadikan sarana ber-investasi. Hal ini berdasarkan data laporan BI yang sempat mencatat transaksi seorang nasabah gadai emas di bank syariah dapat mencapai Rp.107 miliar.

Sebenarnya praktik pembiayaan gadai emas sudah menjadi produk Bank Syariah yang mendapatkan landasan hukum Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Nomor: 26/DSN-MUI/III tahun 2002 dan seiring berjalannya waktu, produk gadai emas berhasil mencapai 104.863 orang nasabah. Dapat dikatakan bahwa praktik gadai emas bukanlah hal yang baru di dalam industri perbankan syariah. Dari segi fasilitas produk gadai emas, Bank syariah memang berbeda dengan bank konvensional, karena BI memberikan fasilitas gadai emas hanya untuk bank syariah.

Fasilitas yang diberikan oleh bank indonesia ini pun menuai konsekuensi adanya potensi resiko yang ditinjau dari sisi kaidah syariah maupun unsur spekulasi yang berbahaya bagi stabilitas harga komoditas emas secara umum. BI telah menginginkan bank syariah agar mengikuti aturan main, bahwa gadai emas digunakan sebagai pembiayaan dengan kondisi nasabah yang terdesak kebutuhan, sehingga gadai emas menjadi alternatif pembiayaan selain kredit bank. Namun kondisi dilapangan berbeda dari SOP (standar operasi) yang telah ditetapkan BI. Banyak nasabah yang mencari keuntungan dengan berinvestasi di gadai emas, demi mendapatkan margin ketika harga emas naik. Praktik investasi yang sering disebut sebagai praktik “berkebun emas” ini disatu sisi menimbulkan gejolak spekulasi terhadap harga emas di pasaran.

Keputusan BI untuk menegur bank syariah yang tidak berhati-hati dalam memasarkan produk gadai emas dirasa tepat untuk menjaga agar bank tetap sesuai dengan koridor syariah. Gadai emas memiliki dua konsekuensi sekaligus yang memerlukan pengawasan secara khusus dari Bank Indonesia. Konsekuensi pertama, kemudahan untuk mendapatkan dana cepat dari gadai emas membuat aliran modal pinjaman menjadi cepat (capital flow). Hal ini secara tidak langsung mampu membantu nasabah golongan menengah kebawah yang membutuhkan uang tunai secara cepat. Sedangkan konsekuensi kedua, kenaikan harga emas yang cenderung statis membuat nasabah yang ingin melindungi hartanya (hedging) maupun nasabah yang ingin mendapatkan keuntungan lebih daripada menabung di deposito tertarik untuk berinvestasi di produk gadai emas. Konsekuensi kedua inilah yang dianggap BI telah keluar dari koridor awal yaitu untuk kebutuhan mendesak.

Gadai emas sebenarnya merupakan produk pembiayaan yang netral, namun karena harga emas yang cenderung naik, dibandingkan dengan bentuk barang lainnya seperti kendaraan bermotor yang mengalami penyusutan, gadai emas lebih dicari sebagai sarana lindung nilai alternatif yang memberikan rasa aman kepada nasabah di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi saat ini. Proses berkebun emas juga sangat sederhana dibandingkan berinvestasi di pasar saham ataupun properti. Nasabah tinggal membeli emas lalu menggadaikannya ke bank syariah, uang pinjaman dari gadai emas dibelikan emas lagi, ketika harga emas naik, nasabah tinggal menjual emas yang dimilikinya. Yang menjadi permasalahan, ketika harga emas turun secara otomatis nasabah tidak ingin menanggung beban kerugian, sebaliknya nasabah akan menahan emasnya di bank, kemudian menjualnnya ketika harga sudah naik kembali. Hal ini merupakan salah satu bentuk spekulasi, disamping praktik tersebut dilakukan di bank yang berlabel syariah.

Dengan adanya praktik berkebun emas ini BI sebagai regulator perbankan juga perlu memberikan edukasi kepada masyarakat, konsep dan SOP dari gadai emas sehingga pemahaman bukan sekedar dari regulator namun menyentuh langsung kepada masyarakat sebagai nasabah. Dari segi manajemen, BI juga perlu melakukan pelatihan-pelatihan khusus gadai emas kepada kreditor, bukan hanya secara teknis, tapi terkait filosofi maupun kehatia-hatian memilih nasabah yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh BI. Peringatan yang dilakukan BI patut menjadi pelajaran bahwa perbankan syariah disamping harus berkompetisi dengan industri perbankan secara nasional juga tidak dapat lepas dari hakikatnya sebagai lembaga keuangan yang berbasiskan syariah Islam, sehingga baik perbankan syariah maupun nasabah sama-sama berhati-hati dalam melakukan segala bentuk transaksi, salah satunya gadai emas.