Sebuah kritik terhadap kebosanan wacana ekonomi Islam

Tulisan singkat ini sengaja saya beri judul Ekonomi Islam hari ini dan arah tujuannya, karena kejelasan ekonomi Islam hari ini memang harus dipertanyakan kembali. Benarkah ekonomi Islam hadir di Indonesia untuk mendakwahkan ajaran Islam? Atau justru mencemarkannya? Apakah ekonomi Islam harus identik dengan perlawanan terhadap riba, terhadap ekonomi mainstream? Pertanyaan tersebut yang ingin dijawab dalam tulisan ini.

Banyak yang bertanya tentang ekonomi Islam itu sebenarnya seperti apa? Saya katakan bahwa ekonomi Islam itu sistem ekonomi yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, tapi perlu disesuaikan dengan konteksnya. Ekonomi Islam bukan masalah romantisme zaman kekhalifan Islam, atau arabisasi ilmu ekonomi. Hanya ditambah bahasa arab kemudian ekonomi konvensional dirubah menjadi ekonomi Islam. Itu merupakan hal yang salah saya kira. Sejalan dengan definisi ekonomi Islam menurut Sidiqi (1996) bahwa ekonomi Islam merupakan bentuk kegelisahan ekonom Muslim yang melihat permasalahan ekonomi dari sudut pandang Islam. Artinya ekonomi Islam membutuhkan ijtihad, pemikiran-pemikiran baru sesuai dengan konteksnya walaupun tidak boleh terlepas dari prinsip dasarnya, keadilan dan kemaslahatan bagi ummah.

Sayang sekali, ekonomi Islam yang diharapkan hari ini begitu jauh dari sempurna. Kita terjebak pada simbolisasi dan arabisasi dalam membangun konsep ekonomi Islam. Sebagai contoh, datanglah ke bank syariah, Anda akan dijawab dengan salam dan diajak berbicara tentang akad-akad yang ada di bank syariah. Teruslah berjalan melewati teller, berbincanglah pada customer service, bertanyalah tentang perbedaan antara bagi hasil dengan bunga bank, dimana letak perbedaanya, teruslah bertanya. Sebagian besar akan menjawab bahwa antara bagi hasil dan bunga bank itu kompetitif alias tidak terlalu berbeda jauh karena masih menggunakan standar dari Bank Indonesia yaitu tingkat suku bunga Bank Indonesia.

Kekurangan inilah yang kemudian dikritik, ditelanjangi oleh ekonom-ekonom Islam fundamentalis seperti Zaim Zaidi[2] dalam buku “Tidak Islamnya Bank Syariah”. Kritik tajam diarahkan langsung kepada lembaga keuangan syariah yang memutar balikan fiqh muamalah agar akad perbankan syariah dapat bersaing dengan produk bank konvensional. Tidak heran dalam beberapa tahun ini munculnya akad-akad perbankan syariah baru sangat banyak. Kondisi ini tidak saja berlangsung di Indonesia, namun di Malaysia problem yang dihadapi kurang lebih sama, yaitu ada inkonsistensi antara prinsip ekonomi Islam menurut Al-Qur’an dengan realita produk yang ditawarkan perbankan syariah. Masyarakat mulai memahami bahwa ujung-ujungnya adalah profit alias keuntungan yang akan dikeruk industri keuangan dengan memberikan label “syariah”. Walaupun beberapa data yang dirilis oleh Bank Indonesia menunjukkan kenaikan tingkat asset dan nasabah, disisi lain pertumbuhan tersebut dapat dikatakan semu, atau bukan pertumbuhan ekonomi Islam sebenarnya.

Beberapa waktu yang lalu saya berdiskusi di hadapan teman-teman Shariah Economics Forum UGM tentang kebosanan wacana ekonomi Islam hari ini yang sudah mengalami reduksi, dibatasi dilingkup lembaga keuangan syariah. Sedangkan banyak hal lain yang kurang diteliti, dikaji, dan diskusikan secara masif, salah satunya adalah pengelolaan dana wakaf, dana haji, ekonomi Islam berbasis gender, dan perspektif ekonomi Islam terhadap lingkungan. Jika melihat dari tren wakaf beberapa tahun ini, umat Muslim yang memiliki harta berlebih cenderung untuk berwakaf secara ortodoks atau kuno.[3] Dapat dikatakan kuno karena modelnya masih sama, yaitu membangun masjid atau pondok pesantren. Sedangkan potensi wakaf yang bisa dimanfaatkan sebagai penggerak roda ekonomi Ummat kurang begitu diperhatikan. Wakaf produktif hanya dijadikan isu, padahal dengan wakaf produktif, dana wakaf dapat dialirkan untuk mendirikan usaha-usaha permanen, yang pada akhirnya akan menyerap pengangguran.

Soal pengelolaan dana haji juga belum banyak dibahas, terutama oleh kalangan aktivis dakwah ekonomi Islam. Dana haji di Indonesia yang besarnya mencapai 48 Triliun setiap tahunnya dan menyumbang Dana Abadi Ummat tidak pernah disentuh dalam seminar-seminar ekonomi Islam di kampus. Sungguh sangat disayangkan, wacana ekonomi Islam tertinggal jauh dari ekonomi konvensional yang terus mengalami dinamika setiap tahunnya.

Semoga tulisan sederhana ini dapat menghadirkan semangat dan optimisme kepada kawan-kawan seperjuangan di UNY dalam mengkaji dan mendakwahkan ekonomi Islam.

“Jika engkau membayangkan surga yang begitu indah diatas sana, mengapa begitu sulit menurunkannya ke bumi”, Jallaludin Rumi.



[2] Buku Tidak Islamnya Bank Syariah mendapatkan apresiasi dari pengamat ekonomi Islam di Indonesia, walaupun beberapa pihak yang terkena kritik menilai buku ini berlebihan dalam menanggapi bank syariah yang baru tumbuh di Indonesia.

[3] Lebih lanjut tentang wakaf dibahas di buku Muslim Civilization: The Causes of Decline and the Need for Reform karangan M. Umer Chapra