Pasti ada yang merasa heran, dan bertanya-tanya mengenai judul tulisan ini, seperti apa maksudnya bom bersubsidi, yang saat ini berada diseluruh rumah warga?, tentu, jika berbicara mengenai bom bersubsidi, pastilah tidak lepas dari peran pemerintah, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber  Daya Mineral (ESDM), sejak tahun 2007 kemarin, mengambil kebijakan dalam hal menkonversi migas, (Khusus di Sulawesi Tengah, konversi migas dimulai tahun 2014). Hal ini mengandung artian bahwa, peran minyak tanah, sebagai kebutuhan rumah tangga, sudah mulai digantikan dengan Lequified Peroleum Gas (LPG) 3 Kg, yang kini dibagi-bagikan secara gratis kepada masyarakat.

Tentunya, masyarakat sebenarnya sangat berterima kasih kepada pemerintah, atas kebijakannya, telah mempermudah aktivitas masyarakat. Namun, dibalik itu semua, terdapat sesuatu yang mengancam, dan perlahan-lahan mulai mencekam ketenangan dan mengganggu kenyamanan masyarakat. Ternyata, masyakarat justru masih kaku dengan penggunaan LPG bersubsidi 3 Kg, bukan karena belum terbiasa, namun  dikarenakan, regulator bertipe standar non automatislah, yang menjadi penyebab keragu-raguan masyarakat yang menggunakan, khususnya masyakat yang berdomisili di pedesaan.  Regulator merupakan alat menjadi penghubung antara tabung gas dengan selang, dan disalurkan kepada kompor gas.

Terus, tentu anda bertanya kembali, mengapa penulis mengatakan jenis regulator bertipe standar non aoutomatis, menjadi pemeran utama yang membuat masyarakat ragu, dalam menggunakannya?, jawabannya adalah jenis regulator standar non automatis, merupakan jenis regulator, yang tidak bisa secara automatis, mengancing dan menutup keluarnya gas dari tabung LPG, jika terjadi kebocoran pada selang. Karena, jika terjadi kebocoran sedikit saja pada selang, atau keluarnya gas pada kepala regulator, maka saat itulah, ledakan tabung gas LPG, tidak bisa lagi dihindari dan sudah pastinya akan memakan korban.

 

Berbeda dengan jenis regulator bertipe automatis, karena jika selang terindikasi ada kebocoran, maka regulator tipe itu, secara automatis mengancing dan menutup keluarnya gas dari tabung, sehingga hal ini dapat memberikan keamanan kepada penggunannya. Karena pada dasarnya, pemicu ledakan tabung gas, yang sering terdengar dimana-mana, bukanlah berasal dari tabungnya, akan tetapi, justru berasal dari regulator. Kenyataan ini, bukanlah sekedar asumsi belaka, akan tetapi sudah terbuktikan dengan sekian banyak kejadian, termasuk di Kota Palu, belum lama ini, dimana 2 orang warga bersama seorang sales marketing, terpaksa dibawah ke Rumah Sakit, akibat luka bakar karena ledakan gas LPG 3 KG, pada saat kegiatan sosialisasi.

Hal inilah, menjadi alasan bagi penulis, mengatakan bahwa dirumah-rumah warga, terdapat bom bersubsidi, yang dibagikan secara gratis, oleh pemerintah melalui program konversi  Migas. Sebab, dari hasil wawancara penulis dengan beberapa masyarakat, mengarahkan kesimpulan, bahwa LPG yang dibagikan sepaket dengan perangkat regulator, selang dan kompor, seolah-olah menjadi bom waktu, yang perlahan-lahan, dalam hitungan detik, menit dan jam, dapat mengancam jiwa manusia. Tentunya, yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa pemerintah, justru memberikan regulator, bertipe standar non automatis kepada masyarakat? Apakah karena gas LPG 3 Kg merupakan subsidi?, sehingga, pemerintah tidak mau membagikan regulator tipe automatis kepada masyarakat?, ataukah, ini hanya taktik dari pemerintah, untuk mendapatkan keuntungan, dari penjualan regulator automatis?, sebab, bisa jadi, pemerintah membagikan regulator standar non automatis secara gratis, dengan tujuan bahwa, ketika pada saatnya, masyarakat mulai merasa terancam keselamatannya, dengan menggunakan regulator standar, maka masyarakat secara terpaksa harus membeli regulator tipe automatis kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian ESDM, melalui Hiswana Migas dan PT Pertamina, dengan harga Rp.400 ribu. Maka, mau atau tidak mau, suka ataupun tidak suka, masyarakat harus membelinya, jika tidak ingin nyawa menjadi taruhannya. Coba bayangkan, setiap kepala rumah tangga, mengeluarkan uang Rp 400 ribu, untuk membeli regulator automatis, jika dikalikan dengan banyaknya kepala rumah tangga di Indonesia, yang menerima konversi migas?

Karena, dengan mempertimbangkan mengeluarkan uang Rp 400 ribu, ditambah lagi Harga Eceran Tertinggi (HET), tabung LPG 3 Kg radius 0-60 m, yang dikeluarkan oleh Hiswana Migas, mencapai Rp 17.500 (Sulawesi Tengah), serta biaya isi ulang LPG 3 Kg mencapai 90 ribu/Kg (Kota Palu).  Bayangkan saja, jika keseluruhan masyarakat mengeluarkan uang untuk mengisi ulang gas LPG 3 kg, maka berapa banyak keuntungan yang didapatkan oleh Pemerintah?, padahal kita ketahui negara Indonesia, termasuk dalam salah satu negara, yang merupakan penghasil gas alam terbesar. tentunya untuk mendapatkan gas, maka masyarakat tidak pantas dibebankan untuk membelinya, karena gas yang dihasilkan dalam perut bumi nusantara kita, tidak akan habis, meski dipergunakan secara terus menerus.

Sudah jatuh tertimpa tangga, ungkapan ini kelihatannya sangat pantas diberikan kepada masyarakat Indonesia, karena jika berkaca pada hal ini,  maka masyarakat pasti memutuskan, ingin kembali menggunakan minyak tanah. Sebagai solusi terbaik. Namun, karena program konversi migas telah berlangsung, maka secara otomatis, sudah dapat dipastikan, masyarakat tidak lagi mudah untuk mendapatkan minyak tanah. karena, dengan adanya konversi migas, pasokan minyak tanah mulai dikurangi dan dibatasi, bahkan sejauh ini, sudah beberapa pangkalan agen minyak tanah di Palu, yang terpaksa harus menutup usahanya karena sudah tidak mendapatkan jatah minyak tanah. Selain itu,  akibat mulai kelangkaan, harga minyak tanah perliternya mulai meroket, para pengecer minyak tanah terpaksa harus menaikkan harga, hingga Rp 13.000 dari harga awalnya Rp 7.000. tentu masyarakat di pedesaan, lebih memilih minyak tanah sebagai bahan bakar tradsional, demi menjaga keselematan mereka, daripada memilih LPG 3 Kg.

Kemudian, hal yang perlu dikritik adalah, di Kota Palu mendapatkan jatah LPG sebanyak 62.450 buah paket, dari estimasi PT Pertamina, namun yang disayangkan, belum selesainya pembagian paket LPG sebanyak 62.450 buah tersebut, justru pasokan minyak tanah sudah terlebih dahulu dikurangi, sebelum semua masyarakat mendapatkan pembagian gas LPG 3 Kg, secara keseluruhan.

Pada intinya, mengakhiri tulisan ini, apakah anda masih ingin, menggunakan bom waktu bersubsidi dirumah?

Wassalamu’alaikum,Warrahmatullahi Wabarakatuh

 

Muhammad Iqbal

Direktur Lapmi Jarita Nu Palu (JNP)
Wartawan di Harian Umum Palu Ekspres (PE)