Yogyakarta (17/4) Ketika isu koalisi partai Islam digulirkan oleh media-media nasional, timbul desakan dari berbagai pihak, terutama gerakan mahasiswa di seluruh Indonesia, salah satunya adalah HMI (MPO). Kesempatan emas di dalam pemilu 2019 ini hendaknya dijadikan langkah awal persatuan Islam di tingkat yang lebih tinggi. Menanggapi hal tersebut Ketua Umum PB HMI (MPO) Puji Hartoyo memberikan perspektifnya terkait perlunya persatuan antara partai Islam lintas mazhab namun memiliki satu kepentingan untuk memajukan Indonesia.

Secara detail tujuan partai Islam berkoalisi bukanlah memecah suara sekuler-nasionalis-Islamis, “Pertama yang ingin digarisbawahi disini adalah, bukan maksud kami mendorong adanya koalisi partai Islam kemudian kami membuat dikotomi persepsi Islam dan non-Islam, bukan itu. Tapi lebih pada ingin memuat kristalisasi partai dengan platform yang sama. Karena kami berpandangan parpol berbasis Islam sekalipun tidak eksplisit menyatakan Islam tapi ruh dan fondasi berpikirnya adalah berdasarkan nilai Islam.” ujarnya.

Terkait dengan peluang menangnya koalisi Partai Islam di pemilu Presiden 3 bulan mendatang beliau mengatakan, “Selanjutnya koalisi partai Islam menurut saya bukan hal yang mustahil. Kenapa? Sebab, ditengah peta politik yang ada. Partai berbasis Islam mendapatkan suara secara prosentase yang cukup apik jika disatukan. Kedua, era ini adalah pertarungan gagasan dan ide membagun bangsa. Islam punya konsep rahmatan lil alamin, sekalipun dalam konsep itu perlu adanya tafsir bersama. Tapi esensinya Islam punya pondasi dasar bicara tatanan masyarakat. Ketiga, adanya figur-figur Islam yang punya kualitas dan rekam jejak yang baik, dan layak jual. Karena secara elektabilitas tidak buruk.”

Perbedaan antara aliran keagamaan yang menjadi landasan partai-partai Islam pun menyeruak, antara lain tentang partai beraliran Nahdatul Ulama dengan Ikhwanul Muslimin yang memiliki garis politik berbeda. Puji membantah, “Itulah yang ingin coba diurai, bahwa dalam pandangan mazhab berbeda tapi jika bicara politik untuk kepentingan ummat seyogyanya sama.”

Untuk mencapai keberhasilan koalisi partai Islam, peran mahasiswa juga dibutuhkan, terutama untuk memperkuat kesatuan NKRI yang sedang mengalami berbagai benturan masalah, “Kalau bagi HMI (MPO) bahwa amanat the founding father bangsa yang tertuang dalam UUD 1945 itu sudah selesai. Bahwa Indonesia negara NKRI yang berdasarkan Pancasila. Dan HMI mendukung itu. Maka sebagai elemen sipil, yang punya keterpanggilan atas nasib bangsa. Kami merasa perlu turut andil dalam membangun bangsa sekecil apapun itu. Jangan lemahkan, bahkan robohkan tiang-tiang kokoh atap bangsa kita. Tapi perkuat, dengan apa yang bisa kita berikan.” ujarnya.

Ketika ditanya tentang arah partai Islam ketika dapat memenangkan pemilu 2019 nanti Puji menerangkan bahwa “Kemenangan Partai Islam bisa melalui 2 skenario, pertama koalisi Islam nasionalis. Tapi yang utama adalah koalisis Islam mengajukan capres. Kalau memang terealisir maka agenda utama adalah perkuat kebhinekaan kita, dengan semua unsur kepala daerah bersama bicarakan NKRI yang lebih solid dan satu. Kedua, review kontrak tambang kita yang strategis. Ketiga, tuntaskan agenda pokok yaitu mengentaskan kemiskinan, pengangguran, dan disaat yang sama perkuat kelembagaan hukum kita agar korupsi dapat ditekan dan diminimalisir sekecil mungkin. Agenda selanjutnya adalah go internasional.”

Bhima Yudhistira

Anggota Formaturiat LAPMI PB HMI