tidurlah nak, barangkali sejenak bisa kau lupakan jasad bapak yang terkelupas. Selimuti tubuhmu dengan sarung mendiang, sempat kusaut tadi setelah raungan sirine menggegas kita turun ke barak.

bapakmu, tentu saja tak bermaksud menjemput maut. Ia hanya ingin menghela sapi kita yang masih tertambat—satu-satunya gantungan hidup selain bumi Merapi yang kita cintai ini. Ia tak hendak melupakan budi ternak kita, limpahan rizky tanah yang tertapak sepanjang hayat, segala berkat yang telah mereka anugerahkan tanpo kendhat.

oh, lelaplah anakku. Usah kau hiraukan orang-orang pintar yang sibuk mencerca bahwa para sedulur kita memang sengaja mendada ajal. Biarlah mereka jumawa dengan kerumitan pikiran mereka sendiri. Mungkin itu cara yang tersisa bagi para penghuni kota untuk merasa bahagia.

Anakku, tugas kita, bekti kita, hari ini sampai waktu yang tak bertepi nanti, adalah senantiasa menyediakan syukur dan keikhlasan tak terkira untuk setiap yang telah dipasrahkan Gusti-Allah sepanjang hari. Kita akan menghikmatinya seperti embah yang tak pernah cidra ing janji.

Dan sebelum benar-benar pulas, anakku, kubisikkan kepadamu: kita akan selalu menjadi warga lereng Merapi…