kutulis puisiku

untuk engkau yang tak pernah disapa

engkau yang hanya diam terkesima

diantara gelak tawa para menak

 

kutautkan kata-kataku

kepada engkau yang dilirik sepi

engkau yang termangu sendiri

disela abab basa-basi kaum priayi

 

lalu kutinju mulut para pangeran atas angin itu

yang tak henti meruda-paksa kata-kata kita

yang memompa syahwat kedirian di ranjang pemujaan

hingga pecah di anak tekak mereka.

 

pada genangan darah yang mengamisi bumi

kutuliskan kata-kataku sendiri

 

untuk

mu.