radical-unionismPada tahun ’60-an, generasi baby boomers mencanangkan oposisi telak mereka terhadap “sistem”. Mereka menampik materialisme dan keserakahan, menolak disiplin dan keseragaman dari era 50-an yang represif, dan bertekad mendirikan dunia baru yang dipijakkan pada kebebasan individu. Apa yang terjadi pada proyek ini? Empat puluh tahun kemudian, “sang sistem” kelihatannya tidak banyak berubah. Kalau ada perubahan, justru kapitalisme konsumtif telah bangkit dari sekian dekade pemberontakan budaya-tanding jauh lebih beringas ketimbang sebelumnya. Kalau Debord menyangka dunia sudah jenuh oleh iklan dan media pada awal 60-an, lalu apa yang akan ia pikirkan tentang abad 21 ini?

Satu paragraf yang ditulis dalam pendahuluan di buku “Radikal itu menjual” menggambarkan secara presisi posisi kaum radikal di abad 21, terseok-seok dalam budaya yang makin konsumtif, menolak segala kompromi kapitalisme namun pada akhirnya justru mempopulerkan kapitalisme itu sendiri. Buku ini berisi sebuah ulasan panjang tentang awal mula budaya tanding, penyimpangan dan akhir dari pemberontakan budaya.

Joseph Heater secara jelas mengkritik tanpa ampun para pemberontak yang berulah seolah-olah mereka pemimpin pemberontakan yang baru. Bercinta daripada berperang, atau meminum obat batuk dosis tinggi hingga masuk ke dalam alam bawah sadar yang memimpikan dunia tanpa penindasan, jatuh pada lubang yang justru diperangi oleh Gandhi, Thoreau dan orang-orang yang menginisiasi budaya tanding itu sendiri.

Buku setebal 435 halaman yang dicetak oleh penerbit Antipasti ini sangat populer, wajib dibaca bagi pengamat kebudayaan, kaum intelektual, mahasiswa, maupun mereka yang sudah jenuh terhadap “pemberontak” asal-asalan di sekitar kita.

Bhima Yudhistira

Formaturiat LAPMI PB HMI