Filsafat sebagai Senjata Revolusi

Louis Althusser

Althusser yang kita baca ulang saat ini bukanlah Althusser yang pernah menjadi pusat polemik yang sengit dan pertarungan ideologis yang menjadi wajah khas Marxisme tahun 1960-an dan 1970-an. Apakah ini karena sekarang Althusser telah termasuk ke dalam kategori seorang Marxis klasik? Jawabannya sebagian bergantung pada akan menjadi seperti apakah Marxisme pada abad mendatang, dan sebagian lagi pada situasi baru dari globalisasi dan komodifikasi universal pasca Perang Dingin yang menjadi sasaran dari medan aksi dari pemikirian Althusser.

Karya ini terbagi ke dalam 9 bab yang merangkum berbagai tema, mulai dari soal filsafat Lenin hingga seni sebagai jawaban untuk Andre Daspre. Selain tema yang beragam, Althusser tidak lupa berpijak pada pandangan Marxis yang tidak kaku, lentur namun tajam. Saat ia membedah Das Kapital jilid satu, pembaca diajak untuk melakukan lompatan intelektual dengan beberapa tips yang diberikan oleh Althusser. “Loncati bab satu langsung ke bab tiga Das Kapital hingga kau tidak akan bingung,” begitu kata Althusser.

Kemungkinan besar buku ini tidak memuaskan dahaga intelektual pembaca tentang sosok Althusser dan pemikirannya. Namun buku ini menjadi seperti resep masakan, bagaimana memasukkan bumbu, menggorengnya lalu menyajikannya dan mengkritiknya sampai habis. Althusser memang bukan Marxist yang ortodok, ia mencoba menghidupkan lagi kajian Marxisme yang sudah habis saat zaman Stalin berkuasa. Dengan menelaah kembali ke kesalahan berpikir Lenin, tentang praktis lebih penting dari teori dsb.

Di akhir bab Lenin dan Filsafat, Althusser memberikan sebuah analisis yang tajam, “Di jantung teori Marxis, terdapat sebuah sains: sebuah sains yang cukup unik, namun tetap saja sebuah sains. Apa yang baru dalam sumbangan Marx terhadap filsafat ialah sebuah praktek berfilsafat yang baru. Marxisme sendiri bukanlah sebuah filsafat praktis (yang baru), namun merupakan sebuah praktek berfilsafat yang baru.

Praktek berfilsafat yang baru ini bisa mentransformasi filsafat. Dan selain it, dalam tingkatan tertentu, praktek tersebut bisa membantu mentransformasi dunia. Hanya membantu karena sesungguhnya bukan para teoretisi, saintis atau filosof, juga bukan ‘orang-orang’, bukan mereka semua ini yang menciptakan sejarah, namun ‘massa’ lah yang menciptakan sejarah, yaitu kelas-kelas yang beraliansi dalam sebuah perjuangan kelas yang tunggal.

 

Bhima Yudhistira

Formaturiat LAPMI PB HMI