HMINEWS.COM

 Breaking News

Ali Jaka

October 11
14:16 2013

I

Pagi itu, seperti biasanya, matahari terbit dari ufuk timur. Semburat merah saga dan keperakan dari awan yang berarak menakjubkan mata yang menyaksikan. Kokok-kokok ayam jago berangsur-angsur sudah berhenti bersahut-sahutan. Hijau dedaunan pohon-pohon yang menghiasi pinggir-pinggir jalanan kota pun sudah terlihat semakin kentara.

Seperti halnya matahari yang tetap tidak berubah garis edarnya, demikian pun jalanan Jakarta, masih tetap seperti sebelumnya. Bahkan waktu telah memasuki abad 21. Macet, berisik, penuh polusi, dan bikin stres para penggunanya. Hampir semua ruas jalan ibu kota dilanda kemacetan yang parah. Jalan tol yang sedianya menjadi jalan bebas hambatan, tak ada bedanya dengan kondisi jalan-jalan besar lainnya yang menghubungkan pusat-pusat bisnis di Jakarta. Jalan tol Cibubur, Jagorawi, Simatupang, Sedyatmo, dan seterusnya, jika pagi menghampiri, berubahlah jalan-jalan raksasa itu menjadi showroom mobil terpanjang di dunia.

Pada deretan mobil yang berhimpit keluar dari mulut tol Jagorawi, seorang gadis bermata sipit, kulit kuning langsat, tinggi semampai, berambut panjang hitam sebahu, keluar dari mobil land cruiser berwarna hitam yang besar. Sepertinya gadis itu sudah tidak sabar berhenti setengah jam tanpa bergerak semeter pun. Sopirnya seorang pria Sunda berusia 40 tahun, bingung dengan tindakan nekat majikannya itu. Bagaimana pun, sebagai sopir, ia juga bertanggung jawab dengan keselamatan gadis itu selama dalam perjalanan. Namun belum sempat ia memanggil, gadis itu sudah bergegas meninggalkannya di mobil tersebut. Pikirannya beradu antara mengejar majikannya dengan memikirkan keselamatan mobil seharga 1 milyar itu.

Mobil itu bukanlah mobil kijang. Mobil itu mewah land cruiser yang sudah dilengkapi fasilitas tambahan. Apa jadinya jika penjahat seperti kapak merah menemukan mobil itu tergolek tanpa orang. Apalagi di jalanan. Akhirnya sopir itu memutuskan tetap bertahan di dalam mobil.

Sementara gadis tersebut bergegas menyusuri pinggir jalan tol. Hampir setengah jam ia berjalan hingga akhirnya ia sudah tiba di luar jalan tol. Sesekali ia melompati pagar pembatas jalan, lalu kemudian berjalan menuju jalan menuju Universitas Kristen Indonesia (UKI). Beberapa tukang ojek yang mengincar penumpang, sudah siap untuk membawa kemana pun. Gadis itu memilih tukang ojek yang tampangnya garang. Pertimbangan dia adalah kalau garang biasanya lebih nekat menyalib di jalanan yang macet sehingga lebih cepat tiba di tujuan. Betul saja, jarak antara UKI dan Rasuna Said tidak lebih dari empat puluh menit yang dibutuhkan oleh tukang ojek tersebut untuk sampai di kantor gadis itu, Pigland Tower.

Saat sopirnya yang dia tinggalkan di Jagorawi masih tersendat di jalan MT Haryono, gadis itu sudah menyalakan laptopnya. Pagi itu sudah 09.30 WIB. Ponco, teman sekantornya, menyapa, “Pagi, Mei!”

“Pagi,” jawabnya.

“Bos tadi mengabarkan, supaya kamu menghubungi PT. Securty Andalan.”

“Ok,” jawabnya. Dia sudah mengerti mengapa perusahaan tersebut mesti dihubungi. Hal itu terkait dengan lambatnya proses pembebasan lahan yang sedang mereka hadapi.

Sementara itu, di sebuah komplek perumahan di Bekasi, seorang ayah lagi sibuk memandikan balitanya. Kedua anak lelakinya itu dengan riangnya mandi di bak plastik. Setelah menyabuni anaknya yang tertua, kemudian menyabuni anak yang kedua. Satu per satu dengan cermat ia bersihkan anaknya itu dengan sabun bayi. Keduanya juga dia ajari menggosokn gigi. Sedangkan istrinya menyiapkan roti selai untuk bekal kedua anak itu. Keduanya sekolah di sebuah TK yang tidak berapa jauh dari rumahnya.

Setelah anaknya dihanduki, kemudian satu per satu anak-anaknya dipakaikan seragam TK.

“Ma, bekal anak-anak sudah siap belum?” tanya lelaki muda itu.

“Sudah,” jawab istrinya. Istrinya pun memasukkan roti-roti selai itu ke dalam kotak plastik. Lalu masing-masing tas anaknya diisikan bekal.

“Kami pergi, ya!” seru lelaki itu dengan kedua balitanya yang sudah duduk di atas motor.

“Dadaa Mamaa! Assalamu’alaikum!” Kedua balita itu melambaikan tangan ke Mamanya.

“Wa’alaikum salam,” jawab Mamanya.

Pada saat yang sama, seorang laki-laki berumur 60 tahun dengan tenang menyeruput kopi panasnya dari cangkir tua putih bergambar ayam jago. Dia baru saja selesai mandi dan kemudian bersantai di beranda rumahnya. Sekali-sekali, tangannya naik turun menyuguhkan kopi di cangkir itu ke bibirnya yang tebal. Kopi itu tidak leluasa masuk ke kerongkongannya karena kumis tebalnya yang menghalang-halangi. Kepalanya yang sebagian sudah ditumbuhi uban, ditutup dengan kopiah hitam. Dialah Haji Maih, pemilik lahan yang kini bersengketa dengan PT. Pigland Tbk.

Matanya masih nanar tertuju pada pohon kurma yang tumbuh rimbun di halaman rumahnya. Namun sebetulnya dia sebetulnya bukanlah sedang mengamati pohon kurma itu, tapi memikirkan lahannya yang hendak dibeli oleh perusahaan pengembang raksasa. Menurut keterangan orang perusahaan tersebut, mereka akan menyulap lahan itu menjadi superblok yang diisi oleh gedung-gedung perkantoran, lusinan apartemen, hotel, mall dan fasilitas penunjang lainnya. Tanah Pak Maih memang tidak terlalu luas untuk ukuran keperluan sebuah kawasan superblok. Hanya 1000 meter persegi. Akan tetapi mengingat letaknya yang strategis, maka membiarkan lahan itu tetap dimiliki oleh Pak Maih, akan membuat tata kawasan superblok itu menjadi aneh. Apalagi cetak birunya telah menempatkan lahan Pak Maih tersebut sebagai lokasi bagi bangunan landmark superblok tersebut. Padahal cetak biru tersebut telah dirancang demikian matang. Berbagai pertimbangan telah dipikirkan. Termasuk faktor fengshui. Justru di tanah Pak Maih itulah yang paling bagus tempat didirikannya landmark. Di situlah titik keberuntungan bagi kawasan superblok tersebut. Dalam alur pikir pihak pengembang, nantinya landmark tersebut akan laris diborong oleh konsumen, karena signifikansinya dari berbagai faktor, mulai dari faktornya sebagai ikon kawasan, keunikan arsitektur gedung, dan tentu saja fengshuinya.

Yang menjadi soal sekarang bagi pengembang itu ialah soal keras kepalanya Pak Maih. Pak Maih tidak bergeser seinci pun dari sikap awalnya yang tidak melepas tanah seluas 1000 meter tersebut kepada mereka. Secara persuasif mereka telah menawari Pak Maih dengan harga lima kali dari harga NJOP (Nilai Jual Objek Pajak). Padahal harga NJOP tanah tersebut 4 juta rupiah per meter. Mereka sudah menawarkan untuk membeli tanah tersebut 20 milyar rupiah. Namun Pak Maih tidak bergeming. “Saya nggak mau jual. Titik!” jawab Pak Maih tegas kepada orang PT. Pigland Tbk. Orang PT. Pigland Tbk tersebut bingung mau mengatasi seperti apalagi.

“Halo. Selamat pagi,” kata gadis bermata sipit itu menindaklanjuti pesan bosnya.

“Ya, halo. PT. Security Andalan di sini. Bisa kami bantu?” jawab seorang perempuan pula di seberang telepon. Tentu saja kalimat jawaban itu prosedural komunikasi bisnis. Nyaris laksana ritual.

“Saya Meiliana, dari PT. Pigland. Bisakah saya disambungkan ke pimpinan Anda?” tanya gadis yang meninggalkan sopir di tol Jagorawi karena macet.

Mendengar PT. Pigland disebut, sekonyong-konyong timbul rasa segan bercampur penasaran pada hati pegawai front office PT. Security Andalan.

“Oh, ya. Tentu saja bisa,” jawabnya. Beberapa detik kemudian line telepon tersebut telah tersambung kepada seorang laki-laki bersuara berat.

“Halo! Bisa saya bantu Bu Mei?” tanya laki-laki itu.

“Begini, Pak. Kami meminta perusahaan bapak menyelesaikan pembebasan lahan untuk kami.”

“Bisa,” jawab laki-laki itu memastikan.

“Ok. Kalau gitu segera kami emailkan resume masalah, lokasi, dan update informasinya.”

“Silakan Bu Mei. Kami tunggu.”

“Baik Pak. Terima kasih.”

Tidak berapa lama kemudian email telah sampai di inbox email PT. Security Andalan. Dengan seksama Bos PT. Security Andalan mempelajari isi email yang bernilai 2 milyar tersebut. Order itu meminta untuk sesegera mungkin membebaskan lahan 1000 meter atas nama pemiliknya, Tuan Maih. Disebutkan, jika PT. Security Andalan berhasil menebusnya dengan harga kurang 2 milyar dari harga penawaran akhir PT. Pigland sebesar 20 milyar, maka 2 milyar itu diserahkan untuk jasa PT. Security Andalan.

Tentu saja Bos perusahaan jasa keamanan tersebut berbinar-binar. Bagi dia, ini hanya persoalan sepele. Telah terbayang baginya beberapa cara untuk membujuk dan bahkan memaksa Tuan Maih agar melepaskan tanah tersebut kepada PT. Pigland. Lalu diapun merancang langkah-langkah untuk itu.

PT. Security Andalan telah lama bekerja sama dengan PT. Pigland Tbk untuk urusan jasa keamanan, pembebasan lahan, parkir, menyalurkan tenaga office boy, cleaning service, dan sebagainya. Pendeknya, jika jalan normal dan persuasi tidak bisa dilakukan lagi oleh PT. Pigland dalam urusan usahanya, maka sudah lazim bagi mereka menyewa PT. Security Andalan untuk menuntaskan urusan tersebut.

Adapun Bos PT. Security Andalan adalah seorang pensiunan perwira menengah tentara. Latar belakangnya sebagai tentara sekaligus intelijen, mendorong dirinya untuk mengembangkan usaha layanan jasa keamanan yang banyak dibutuhkan oleh berbagai perusahaan. Reputasinya sebagai orang disegani dalam dunia kekerasan, telah membentuk daya tawar tersendiri bagi nilai perusahaannya. Jaringannya, luas di dunia preman. Hampir setiap RW di Ibu Kota, tersedia orang-orang yang loyal kepadanya. Hal itu terbina bukanlah kerja satu malam. Puluhan tahun masa dinasnya, dihabiskan untuk membangun koneksi intelijen di setiap kelurahan di Ibu Kota. Dari tukang ojek, preman kelas teri hingga kakap, anggota ormas pemuda, hingga pemulung menjadi jaringan intelijennya. Mereka semua merupakan mata telinganya yang siap melayani keperluan informasi baginya.

Ia pun mengumpulkan informasi tentang sengketa lahan antara Pak Maih dengan PT. Pigland Tbk. Mulai dari asal muasalnya hingga perkembangan terakhir hubungan Pak Maih dengan orang-orang PT. Pigland. Kemudian ia mengumpulkan pula informasi profil Pak Maih, keluarganya, aktivitasnya, hingga orang yang Pak Maih tunduk padanya.

Setelah mempelajari kebiasaan Pak Maih, ia pun mulai beraksi. Seperti biasanya, sehabis magrib, Pak Maih tidak langsung pulang ke rumah, tapi menunggu Isya di mesjid yang tidak jauh dari kediamannya.

Maghrib itu, ia sengaja shalat di mesjid tempat Pak Maih shalat. Dengan berpura-pura sebagai musafir, ia mendekati Pak Maih sambil mengajaknya bercakap-cakap. Penampilannya memang meyakinkan sebagai musafir. Sepeda motor Yamaha RX King ia parkirkan dekat beranda mesjid. Dengan kemeja lengan pendek biru yang sudah lusuh, ia menyalami Pak Maih. Sedangkan Pak Maih dengan tenang menyambut salamnya. Ia mulai percakapan.

“Nikmat bangat shalat di sini ya, Pak?” ujarnya. Pak Maih yang diharapkan menyahut, diam saja. Justru menatapnya dengan penuh tanda tanya.

“Saya habis dari perjalanan jauh, Pak. Dari Indramayu seharian naik motor. Sebelum sampai ke rumah, saya shalat dulu di sini. Rasanya nikmat banget. Jarang saya merasa senikmat ini…”

Pak Maih yang diharapkan tertarik meladeni pembicaraannya, diam seribu bahasa. Tak ada sedikit pun timbul minat pada Pak Maih untuk menanggapi cerita rekaannya. Ia menjadi gelisah sendiri. Dalam hatinya berkata, “Jangan-jangan aktingnya kelihatan sekali.” Padahal bukan kali ini ia berakting dalam rangka menggali informasi.

“Pak, dimana jalan yang dekat menuju Rumah Sakit Pertamina?” tanyanya lagi.

“Saya nggak tahu,” jawab Pak Maih.

“Masa Bapak nggak tahu? Bapak kan orang sini.” Dia mulai geregetan, kehilangan kesabaran.

“Memangnya kalau orang sini, harus tahu, gitu?” jawab Pak Maih.

“Keras juga orang tua yang satu ini,” batinnya. “Pantesan PT. Pigland kewalahan.” Ia beringsut menjauh dari Pak Maih. “Permisi, Pak,” ujarnya.

Pak Maih hanya menatap matanya dengan tajam, tanpa membalas ucapan permisi tersebut. Pertemuan baru pertama kali dengan Pak Maih telah menimbulkan kesan tersendiri bagi bos PT. Security Andalan. Ia tidak langsung pulang. Berhenti sejenak di sebuah cafe yang tidak jauh dari mesjid saat bertemu dengan Pak Maih.

Kemudian jari-jarinya sibuk mencari nama Wikarta di phone book HP-nya. “Karta, dimana kau!?” serunya.

“Ee…ya, Dan. Siap!” jawab Wikarta dari jauh. Ucapannya melafalkan ee…ya, Dan, malah terdengar di telinga Bos perusahaan jasa keamanan tersebut seperti lafal “edan”, sehingga menimbulkan rasa tersinggung di hatinya.

“Hey, Karta! Saya belum edan, ya. Dengar itu!!”

“Siap, Dan!”

“Kamu dimana?”

“Saya lagi di Gajah Mada, Dan.”

“Ente kan satu RW dengan Pak Maih?”

“Ya. Kenapa, Dan?”

“Lu, gak tahu? Pak Maih lagi sengketa dengan PT. Pigland.”

“Ooo….itu. Kurang tahu, Dan.”

“Makanya lu korek informasi dari Pak Maih. Gue perlu. Ngerti?!!”

“Ngerti, Dan.”

“Pokoknya dua hari ini, laporan dari Lu gua harus sudah terima. Target lu, bagaimana caranya Pak Maih harus ikut jual tanahnya.”

“Siap, Dan. Tapi bensin tinggal dikit, nih”

“Akh….kau. belum kerja, udah nagih. Entar. Sms-in saja rekening lu,” jawab Bos PT. Security Andalan.

“Siap, Dan!” jawabnya dengan girang.

***
Bersambung

keterangan foto: jepretan Firmanto H, fotografer Bekasi

About Author

Redaksi

Redaksi

Related Articles

1 Comment

  1. Anonym
    Anonym October 11, 14:52

    mantap…
    fotonya juga mantap………

    Reply to this comment

Write a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.